INDEX
NEWS
SEJARAH BULELENG
KIRIM PESAN
Baru-baru ini, ada acara yang jarang terjadi di Buleleng. Yaitu berupa barong ngelawang. Acara itu dilaksanakan oleh keluarga di puri Gde Singaraja.
Barong tersebut oleh banyak kalangan, diyakini merupakan peninggalan leluhur keluarga puri. Namun  terkait riwayat asal usul barong tersebut, dari
keluarga puri memberikan informasi yang saling berbeda, menandakan keragu-raguan atau kurang pemahaman .
Seorang tokoh puri menceritakan barong itu berasal dari 200 tahun yang lalu. Selain itu diberikan tambahan cerita yang sepotong sepotong. Di beberapa
harian diangkat juga berita tersebut.
Namun dari beberapa sumber keluarga puri dan kalangan masyarakat mengatakan Barong tersebut asalnya di Puri Kanginan.
Namun ada pihak mengklaim Barong memang sejak dulu ada di Puri Gde.
Benda-benda peninggalan leluhur harus
dikembalikan pada posisi  sesuai lokasinya.
Harus berjiwa besar tanpa pamrih
kepentingan sendiri. Itulah dharma bhakti
yang harus dijalankan para sentana atau
keturunan.
Wawancara Pak Gde dengan Pak Ngurah Sentanu perihal barong

Gde: Kemarin ada kesibukan di puri Gde Singaraja, terkait dengan acara sebuah Barong
druwe puri yang baru diperbaiki. Bagaimana sejarah barong tersebut, karena beberapa
sumber memberikan cerita yang saling berbeda.

Ngurah Sentanu: Mengenai benda sejarah tetamian seperti barong dan juga benda-benda
pusaka lainnya, apalagi sejarahnya kurang mendapat perhatian. Itu menyebabkan informasi
terputus di beberapa generasi. Pada saat informasi diperlukan mereka jadi bingung. Comot
sana comot sini atau no comment.

Gde: Karena itulah, di antara beberapa pihak yang ingin tahu saling bertanaya. Maka lebih
baik saya tanya kepada yang lingsir, langsung kepada Bapak Ngurah sekarang ini. Apa
betul barong itu peninggalan semenjak 200 tahun?

Ngurah Sentanu: Kalau barong berusia 200 tahun, saya sangat ragu. Waktu itu, katakanlah
tahun 1810 Buleleng rajanya I Gusti Gde Karang dari Karangasem. Kemudian diganti oleh
putranya, bernama I Gusti Paang Canang sampai 1823.

Gde: Bagaimana kaitannya dengan I Gusti Ngurah Ketut Jelantik yang di-"selong" ke
Padang  Sumatera? Apa ada barong jaman itu? Atau bagaimana alur cerita sejarahnya?

Ngurah Sentanu: Kaitan I Gusti Nguah Ketut Jelantik dengan barong? Wah, kita harus
melihat kondisi. Itu jaman pergolakan. Belanda sedang menseleksi orang-orang primbumi.
Orang-orang pribumi belum bisa terima begitu saja Belanda ada di Buleleng. Pergolakan ada
dimana-mana. Terus ada kesenian barong? Saya meragukan sekali. Perang Banjar meletus.
Buleleng timur, Tengah barat saling terisolasi. Terus, oleh Belanda raja Buleleng, I Gusti
Ngurah Ketut Jelantik diadili dan diputuskan bersalah. Terus tahun 1872 diturunkan dari
takhta raja, lalu di”selong” ke Sumatara. Saya sangsi, mana ada barong? Setelah tahun
sekitar 1887 beliau di”ampuni” Belanda. Tahun 1890 sesudah sakit-sakitan beliau tinggal di
puri Gde Singaraja, wafat 1893.

Gde: Wah ini menarik sekali. Bagaimana dengan Patih I Gusti Ketut Jelantik, pahlawan
Nasional.?

Ngurah Sentanu: Ini sudah jauh sekali. Mengkaitkan I Gusti Ketut Jelantik Patih Buleleng
dengan barong, ini rekayasa yang konyol sekali.

Gde: Bagaimana baiknya dipandang dari sejarah..

Ngurah Sentanu: Baiklah. Namun, Saudara Gde coba bayangkan, raja I Gusti Ngurah Ketut
Jelantik diturunkan dan diekstradisi selama 20 tahun dan seterusnya, kira-kira siapa saja
pemuka atau tokoh lokal di Buleleng yang berkiprah selama itu?. Ini penting. Karena
Belanda tidak mengangkat raja di Buleleng, sampai beberapa generasi selama 57 tahun.
Buleleng sangat tertekan.

Gde: Lagi tambah menarik. Terusnya bagaimana?

Ngurah Sentanu: Anda bayangkan. Pada tahun 1929 Belanda baru mengambil keputusan
untuk mengkangkat raja, yaitu I Gusti Putu Jelantik sebagai regent Buleleng. Tahun 1938
sebagai zelfbestuurder mabiseka Anak Agung. Peristiwa ini di areal Pura Besakih
bersamaan dengan raja-raja seluruh Bali.

Gde: Wah ini seperti teka teki silang. Arahnya mendatar dan ada juga vertikal. Mohon
dijelaskan semua.

Ngurah Sentanu: Maksud saya, kalau anda berusaha mencari peristiwa “raja dengan
barongnya” ya tidak ketemu. Kalau dipaksakan supaya ada peristiwa “raja dengan
barongnya” ya terpaksa diadakan rekayasa. Comot sana comot sini. Orang dengan
tahunnya ditukar putar balik. Sejarah bisa tercabik-cabik.

Bob Suardika: Wah, tentunya kita tidak ingin sampai sedemikian. Kira-kira apa ada yang
perlu diluruskan? Mohon penjelasannya.

Ngurah Sentanu: Ini soal pemahaman sejarah. Ada pihak asing yang mengatakan dari tahun
1872 sampai 1929 di Buleleng ada “interregnum”, artinya tidak ada pemimpin di
pemerintahan. Terus terang saya menentang pernyataan seperti itu, karena datang dari
pihak kolonial. Karena dianggap chaos.

Gde: Jadi pak Ngurah melihat tidak ada interregnum?

Ngurah Sentanu: Nyatanya kan Buleleng tidak vakum. Siapa itu Liarta 1770an,  Nyoman
Gempol, I Gusti Bagus Jelantik patih Buleleng, sekitar 1855, I Gusti Made Batan,  ada Pan
Suma, ada  I Gusti Putu Geriya 1886, I Gusti Nyoman Raka 1900, I Gusti Ketut Jelantik
1915, I Gusti Bagus Surya 1920an.

Gde: Harus dipelajari mendasar kalau begitu.

Ngurah Sentanu: Ya, itu harus untuk mencegah kesimpangsiuran fakta yang ada. Jadi
jangan terpaku pada “raja dan barongnya”. Bisa saja “orang biasa dan barongnya”. Harus
dengan kerendahan hati nanti baru ketemu.

Gde: Jadi kemungkinan, menurut pak Ngurah, barong itu ada di “iterregnum” itu?

Ngurah Sentanu: Yang ingin saya sampaikan, perihal bangkitnya seni budaya bisa muncul
tatkala masyarakat sudah merasa tenang dan tenteram. Itu mulai terjadi tahun sekitar 1900,
setelah kondisi di Belanda sendiri dan di jajahannya mulai tenang. Seni budaya memuncak
terus di Buleleng, seperti pengadaan barong dengan rangda, tari gambuh sampai pada tabuh
gong kebyar. Munculnya tokoh seni Pan Wandres sekitar 1914, kemudian Gde Manik
sekitar 1922. Seni kerajinan emas perak, tenun songket dan lainnya.

Gde: Saya pernah dengar ada pasar malam “Raja kuning”? Apa sudah ada pertunjukkan
seni atau pameran jaman itu?

Ngurah Sentanu: Ya itulah, sudah mapan situasinya. Di Belanda ada penobatan raja, bahasa
Belanda raja adalah “koning”, raja perempuan disebut “koningin”. Pada waktu penobatan
Ratu Wilhelmina, di Buleleng diadakan peringatan “raja kuning” keramaian selama sebulan.
Semua bentuk kesenian ditampilka dalam kesempatan itu.

Gde:
Wah telusuran sejarahnya seperti itu. Dimana dipusatkan kesenian itu?

Ngurah Sentanu: Pusatnya di puri Kanginan. Termasuk barong dan rangda ada dipuri
Kanginan.

Gde: Yang di puri Gde waktu siapa?

Ngurah Sentanu: Waktu itu di puri Gde di bagian depan ditempati oleh pejabat Belanda. Di
sekitarnya masih ditempati banyak penduduk. Pertemuan para pejabat lokal berpusat di puri
Kanginan. Tahun 1929, baru penataan kembali puri Gde dan diberi kelengkapan yang
kemudian sebagai puri raja.

Gde: Kembali ke masalah Barong. Sekarang kedudukan barong bagaimana?

Ngurah Sentanu: Mengenai hal itu, kembali ke pemahaman sejarah serta budaya.
Sebagaimana kebijakan dresta yang kita anut, berbakti kepada leluhur, penghargaan kepada
mereka yang berjasa dalam memberikan makna spiritual utamanya, seharusnya:
Benda-
benda peninggalan leluhur harus dikembalikan pada posisi dan sesuai lokasinya.
Kalau memang warisan itu berasal dari Puri Kanginan semestinya dikembalikan
ke sana. Harus berjiwa besar. Itulah dharma bhakti yang seharusnya dilakukan
oleh sentana atau keturunan.

Gde: Wah, sudah banyak yang saya dapati dalam perbincangan ini. Namun masih ada yang
lebih rinci ingin saya tanyakan lagi dalam waktu mendatang. Pak Ngurah, saya ucapkan
terima kasih. Sampai lain waktu.
Nama Anda:
Alamat :
E-mail:
Komentar:
KOMENTAR PENGUNJUNG
20 Febr 2010
nama = Gung Bagus De
Alamat = Buleleng
Email = .........
Komentar Barong = Suksma atas pemaparan
diatas..Saya sgt setuju dg pendapat pak Agung:
Benda2 peninggalan leluhur yg sakral atau
bersejarah
harus di kembalikan ke "tempat
aslinya".
Kalau tidak, hal itu akan saling
meniadakan atau hilang taksunya. Ambil contoh
(yg umum): Tugu Peringatan peristiwa jatuhnya
pesawat terbang di desa Tinga-tinga Buleleng
didirikan di Sanur, Badung. Orang akan lupa
peristiwa di Tinga-tinga, dan di Sanur orang
bertanya2: ini tugu apa?

Jawaban: Tepat sekali. Kejadian bersejarah jangan
direka yasa. Itu sudah petuduh Widhi orang bilang.
Kok diputar sana sini. Suksma.
20 Fbr 2010
Nama: I G.B. Jelantik,
Alamat: Singaraja
Email: .....
Komentar Barong: Saya merasa tidak lucu membaca
di koran mengenai barong di puri. Saya tahu sekali
riwayatnya. Barong itu asal mulanya ada di puri
Kanginan di"mong" panglingsir. Coba tanya kepada
orang-orang tua di Banjar Delod Peken, mereka tahu
itu.Kok beraninya ada "tokoh" atau "sesepuh" puri
menceritakan yang sangat berbeda. Siapa yang mau
dibohongi? Apalagi dihubung2kan dengan I Gusti Kt
Jelantik Padan. Baiknya kita hati2. Tanya pada
orang yang benar.
Jawaban: Suksma atas komentarnya.
21 Febr 2010
Nama: Ika
Alamat: Singaraja
Email:...
Komentar: Saya baca 20 orang para isteri mesatia
rambut untuk Barong. Wah hebat. Perlu dijelaskan
nama2nya yang benar.