* * SELAMATA DATANG DI DESA WISATA KALIBUKBUK * *

HOME PAGE

WISATA DESA

SEJARAH DESA

TANGGAPAN

SITUS BUDDHA ABAD KE IX

 map of arkaeology kalibukbuk

PENGANTAR              

Bila anda pernah mendengar desa Kalibukbuk kemungkinan anda mendengar tentang suatu tempat wisata di sebelah Utara pulau Bali yaitu salah satu desa yang sekarang ini sedang sarat dengan pembangunan sarana pariwisata. Kalibukbuk adalah satu dari beberapa desa dalam untaian Kawasan Wisata Lovina.

Desa ini terletak di dekat pantai berbentuk teluk sehingga pemandangan pantainya cukup indah. Lautnya sendiri mengandung bunga karang dan ikan-ikan yang berwarna indah. Bahkan di lepas pantai terdapat kehidupan ikan lumba-lumba. Semua ini  merupakan daya tarik utama pariwisata yang dikembangkan masyarakat yang ternyata mampu menarik kunjungan wisatwan manca negara.

SITUS ARKEOLOGI.

Dengan adanya pariwisata akhir-akhir ini yang berkembang secara spontan dan berkesinambungan membuat kita kembali bertanya akan hal-hal yang mendasar. Seperti kata orang bahwa “sejarah berulang kembali” ( history repeats itself) mungkin berlaku di desa Kalibukbuk sekarang ini. Kalau cerita orang tua mengatakan bahwa jaman dulu di teluk Kalibukbuk adalah sebuah pelabuhan maka tentulah desa Kalibukbuk itu sendiri cukup ramai  dengan segala macam perdagangan dan perimbasan budaya . Semua itu mungkin sudah saatnya  berulang kembali.

Satu bukti nyata adalah dengan adanya temuan arkeologi yang cukup spektakuler dalam bulan September 1994 yaitu sebuah Situs Candi Budha (Stupa) kurang lebih 300 meter dari jalan raya ke arah Selatan. Team yang dibentuk Balai Arkeologi Denpasar melakukan survey dan ekskavasi dalam 6 tahapan sejak Nopember 1994 sampai tahun 2000.

Hasil temuan berupa fitur yaitu satu kompleks candi yang tertimbun 1,5 meter dibawah perukaan tanah. Candi tersebut terdiri dari tiga bangunan. Yang terbesar memiliki fondasi berbentuk octagonal atau segi delapan berada ditengah diapit oleh dua candi perwara yaitu bangunan segi empat sama sisi dengan panjang satu sisi 2,70 meter. Bahan bangunan dari batu bata ukuran 10x20x40 sentimeter.

Bangunan stupa tersebut sebagian besar sudah rusak, masih tersisa hanya bagian dasarnya.

Bangunan tersebut tertimbun banjir lumpur di tahun 1815 atau bahkan mungkin sudah tertimpa bencana alam tahun-tahun sebelumnya.

Selain itu ditemukan artefak berupa stupika, meterai, relief dan pecahan gerabah. Dengan melihat fitur dan artefak tersebut bangunan stupa adalah merupakan bangunan suci tempat pemujaan masyarakat Budha di abad IX.

Temuan tersebut sebagai bukti bahwa desa Kalibukbuk sungguh merupakan tempat persinggahan pelbagai masyarakat dari seberang dengan budayanya masing-masing sejak jaman purba. Bahkan salah satu pelabuhan yang penting untuk Bali, mengingat pantainya yang berbentuk sebuah teluk dan lautnya yang tenang sangat cocok untuk kapal-kapal layar.

Berdasarkan itu daya dukung sebagai tempat wisata budaya dan wisata spiritual di lingkungan tersebut sangatlah kuat. Di sebelah Selatan, tidak jauh dari situs tersebut diatas bukit kecil berdiri Pura Bukit Sari yang oleh masyarakat dianggap sangat bertuah.

KEMUNGKINAN PENGEMBANGAN

Setelah ekskavasi dan hasil temuan semuanya di identifikasi, tentunya pengembangan selanjutnya dilaksanakan dengan membangun sarana-sarana pendukung di tempat itu juga. Hal ini penting bilamana Situs Budha Kalibukbuk ini di arahkan juga sebagai daya tarik wisata. Semoga semua bisa terlaksana dalam waktu tidak terlalu lama. Partisipasi para wisatawan dan pemerhati dari semua pihak sangat di perlukan.

RIWAYAT TEMUAN.

Bermula pada tahun 1994. Dengan maksud menguras sumur tua yang dibuatnya sendiri tiga puluh tahun silam, seorang warga setempat menemukan benda-benda aneh menempel di sekeliling dinding sumur. Di dasar sumur juga didapati pasangan batu bata layaknya sebuah bangunan. Benda-benda tersebut terkubur sekitar satu setengah meter di bawah permukaan tanah.

Setelah dilaporkan ke Dinas Kebudayaan, maka oleh Balai Arkeologi Denpasar segera melakukan survey dan ekskavasi. Seperti yang  telah disebutkan terdahulu ekskavasi dilakukan enam tahapan dari bulan Nopember 1994 dan berakhir tahun 2000.  

Mahasiswa Jurusan Arkaelogi UNUD Denpasar 2007

 

karya artis

Sketsa artist

sumur misteri

Sumur tua membuka misteri

ekskavasi

Proses eksvakasi Balai Arkeologi Denpasar

penemu situs dan arkeolog

DR.A. A. Gde Oka Astawa - Arkeolog bersama

A.A. Ngurah Sentanu - Penemu Situs

para arkeolog

Prof Sukmono (almarhum) membelakangi kamera meninjau situs Kalibukbuk bersama Crew Balai Arkeoloog Denpasar 

Foto-foto tahun 1994-1995

 Mulai bulan Juni 2004 Situs Kalibukbuk mulai di kerjakan oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Bali-NTB. Bangunan berbentuk candi Siwa-Buddha tersebut rampung akhir 2008>>>>>>>>.
 

contact us

HOME PAGE

WISATA DESA

SEJARAH DESA

TANGGAPAN