Cornelis de Houtman

Seorang pelaut tulen bangsa Belanda dengan 4 kapal berangkat dari Amsterdam dengan 249 anak buah. Selama pelayaran banyak menemui mala petaka sehingga sisanya tinggal 89 orang. Sebuah kapal terbakar.  Dengan  3 kapal berlabuh di Kuta Bali 9-16 Pebruari 1597. Mereka tinggal beberapa hari. Ketika kapal berangkat lepas pantai, beberapa anak buah kapal meloncat dan berenang kembali ke darat karena tidak tahan untuk meninggalkan keindahan Bali. Diantaranya bernama Arnoudt Lintgens dan  kawan-kawannya.

Diceritakan bahwa masyarakat dan Raja Bali ramah tamah. Raja berada di Kuta menyaksikan keberangkatan 20.000 anggota pasukan ke Blambangan yang sedang diduduki Mataram. Kesan: Raja Bali postur tegap umur 40 tahun, mempunyai isteri 200 dan seorang anak laki-laki 20 tahun yang kelak menggantikan raja Bali.

Raja tertawa ketika diceritakan di Belanda ada 4 musim, air beku dll. Cornelis yang tetap di kapal mengutus Lintgens membawa hadiah kepada Raja, kain beludru merah, barang pecah belah, mata uang perak dan emas. Raja ingin membeli meriam 3 buah, tetapi ditolak Lintgens.

Raja mengendarai gerobak beratap ditarik  dua ekor kerbau putih. Dikelilingi para bangsawan bersenjatakan keris mirip seperti yang di selipkan Raja. Diiringi pasukan panah dan bedil. Dari Kuta ke Gelgel, Lintgens melihat pedesaan orang Bali. Persawahan subur  membentang memberi kemakmuran. Di Gelgel Lintgens berjumpa dengan seorang peranakan Potugis bernama Peter de Noronha berasal dari Malaka, menetap di Bali sejak 12 tahun yl. Dia diperlukan raja dalam perdagangan dengan orang asing. Mata uang adalah uang kepeng. 

Lintgens tidak menyebut nama raja, diperkirakan Dalem Bekung.

 

 

Peta Asia Minor sekarang bernama Indonesia. 

Pulau Bally atau Bali di tengah.

 

 

 

P.A.Djajadiningrat

 

Prof.Dr. N.J.Krom

 

Theodoor van Erp

 

Willem Frederik Stutterheim (1892 - 1942 ) 

(menghadap lensa)

* * OM SWASTYASTU * *

BALI DAN SEJARAHNYA

Para peneliti Barat berpendapat, bahwa orang Bali tidak punya "sejarah". Tetapi Mark Hobart, seorang kritikus bidang anthropolog, membantahnya dengan menjelaskan, bahwa orang Bali sebenarnya punya sejarah dan malahan sangat menghargai masa lalunya. Hanya orang Barat kurang mau mengerti bentuk pemahaman orang Bali terhadap masa lalunya.  

 

".....Balinese history is opaque and difficult to Western eyes. In addition to thorny problems involving dating, establishing the provenance and antiquity of manuscripts, and verifying data, Balinese history stretches our sense of what is credible.  Historical narratives are filled with tales of magic, divine intervention in human affairs, and superhuman feats, which have generally been categorized as 'myth' by Western scholars; who, in various ways, conclude that the Balinese have no history, or that their sense of history is not "proper". 

Balinese DO have a history: to say that they do not, or that their history is somehow 'improper', or 'incorrect' is to practice a form of intellectual imperialism. (Stephen Lansing, Perfect Order))

 

Ada lagi pendapat brilian perihal sejarah dari  Fernand Braudel, Civilization and Capitalism, Vol. 11: The Wheels of Commerce, sebagai berikut:

 

There is for one thing a "historiographical" inequality between Europe and the rest of the world. Europe invented historians and then made  good use of them. Her own history is well-lit, and can be called as evidence or used as a claim. The history of non-Europe is still being written. And until the balance of knowledge and interpretation has been restored, the historian will be reluctant to cut the Gordian knot of world history--that is the origin of the superiority of Europe.

 

Terjemahannya kurang lebih sbb: Terjadi ketimpangan "perihal kesejarahan" antara Eropa dengan bagian dunia lainnya. Eropa memiliki banyak akhli sejarah dan mereka sudah memanfaatkannya dengan baik. Sejarah diluar Eropa masih sedang ditulis. Sebelum pengetahuan interpretasi dipulihkan kembali, para sejarawan enggan melepas tali Gordian yang membelenggu sejarah dunia - - itulah dasar supremasi Eropa.

 

Orang Bali sangat religius dan menyadari, bahwa manusia adalah bagian kecil dari alam semesta. Mereka sebagai buana alit (microcosmos) yang tidak lain hanyalah merupakan salah satu partikel yang mempunyai unsur sama dengan buana agung (macrocosmos). Mereka larut dan pasrah dalam hukum kemestaan alam dan memujanya sebagai kekuatan yang tertinggi. Apapun yang terjadi adalah proses hukum alam sesuai kehendak yang Maha Kuasa. Di sanalah sumber utama Etika dan Budaya orang Bali. Keindahan alam dihayati dicurahkan dalam seni sastra, seni tari, seni lukis, seni patung dan sebagainya.

Catatan atau peringatan suatu kejadian yang di sebut pracasti ditulis diatas lempengan logam atau batu alam. Juga banyak ditulis di atas daun rontal. Tulisan yang mengandung riwayat serta asal usul keluarga juga disebut pracasti atau babad. Penulisan pracasti atau babad dilakukan oleh orang suci atau para pendeta. Pracasti atau babad disucikan dengan upacara keagamaan yang kemudian disakralkan dan disimpan di Pura atau di Merajan (Sanggah) Kawitan.

Dalam garis besar sebuah babad selain mengandung hikayat seorang yang ditokohkan sebagai leluhur yang dipuja dan dipuji, ditulis dalam bait-bait seloka. Seringkali memetik dari Epos Ramayana dan Mahabharata atau dari Babad yang lebih tua. Dalam silsilah,  paling atas kadang-kadang tercantum  Bhatara Wisnu atau Bhatara Guru atau lainnya yang melambangkan titisan leluhur.

Catatan peristiwa dengan hari kejadian yang ditulis secara modern yang disebut "sejarah" baru mulai kita kenal setelah orang Eropa menginjakkan kaki di negeri kita.

 

Bangsa asing yang pada awalnya singgah di Bali

Pada awalnya pelaut, pedagang, petualang, perompak bangsa Potugis, yang berlayar sampai di Malaka tahun 1509 sampai di Maluku tahun 1601, hanya melintasi pesisir pantai  pulau yang mereka beri nama Bally, Boly, atau Ballie. Tujuan pelayaran mereka adalah kepulauan Maluku. Sesekali mereka singgah di pantai Bali bukanlah untuk berkunjung, tetapi hanya perlu mencari air bersih dan segera pergi untuk mencari rempah-rempah,  bila perlu mereka berusaha mendapat daerah baru. Bangsa Spanyol beberapa kali melihat pulau mungil yang disebut Jawa Minor, hanya dari atas kapalnya.

Sir Frances Drake tahun 1580 pernah mengunjungi Bali demikian juga  Thomas Cavendish tahun 1585 bahkan sampai ke Blambangan. Namun mereka tidak membuat catatan apapun sebagai bukti.

Catatan tertua mengenai Bali antara lain adalah yang dibuat seorang Belanda bernama Lintgens, salah seorang dari anak buah kapal yang dinakhonai oleh Cornelis de Houtman pelaut bangsa Belanda. Dalam laporannya banyak menyangjung keindahan alam dan budaya kehidupan Bali. Jaman itu masyarakat dunia belum tertarik kepada Bali, karena tidak ada barang dagangan di Bali, seperti kayu cendana dan rempah-rempah. 

Tetapi akhirnya bangsa Belanda mulai tertarik dan pada tahun 1601 mengirim utusan resmi ke Bali dibawah pimpinan Admiral Cornells van Heemskerck dengan membawa surat dari raja Belanda Prince Maurits juga membawa hadiah-hadiah berharga. Raja Bali menyambut baik kerjasama, malahan ada kata-kata dari Raja: "Bali dan Belanda adalah satu". Keberangkatan kembali ke Belanda, kepada Heemskerck selain diberikan cendramata juga dihadiahi seorang gadis Bali yang molek. Heemskerck dengan halus menolak hadiah istimewa ini, tetapi raja mengatakan, bahwa kurang sopan menolak pemberian yang tulus. Ucapan raja "Bali dan Belanda adalah satu" yang mengandung falsafah tinggi, tattwam asi, diartikan lain oleh orang Belanda, bahwa orang Bali sangat kompromis. Apa yang terjadi tahun-tahun kemudian ternyata Belanda sangat sulit untuk menaklukkan Bali.

 

Sejarah Indonesia dibawah kekuasaan Belanda.

 

Setelah Bali ditaklukkan Belanda pada awal abad 20, para arkeolog, antropolog dan budayawan Belanda menemukan peninggalan sejarah yang sangat luar biasa di Bali. Mereka baru mengerti kalau Bali yang "kecil" itu  menyimpan sesuatu sangat "besar" nilainya yang selama ini diabaikan.bangsa Barat. Setelah dipelajari mereka makin terpesona, sehingga mereka memproteksi Bali secara ketat. Bahkan penyebar agama yang disebut missionaries pun dihambat dan kedatangan turis dibatasi oleh para budayawan Belanda terutama Dr. H.N. van der Tuuk,  J.F. Liefrinck dan Dr. R.Goris. Tahun 1928, mereka mendirikan suatu badan berbentuk yayasan dengan nama "Stichting van Liefrinck en Van der Tuuk" yang diresmikan oleh J. Caron, resident Bali dan Lombok.

Setelah itu para peneliti asing bersama-sama dengan para cendekiawan Indonesia mengadakan penelitian terhadap sejarah Bali bersumber dari babad dan naskah kuna lainnya peninggalan kerajaan-kerajaan di Bali dan Jawa. Mereka dalah Prof. Brandes, Berg, Kern, Krom, Pigeaud, Teeuw, Uhlenbeck, and Zoetmulder, dan banyak lainnya.

 

Pada "jaman Belanda" itu juga muncul babad-babad baru, seperti babad Mengwi, Babad Buleleng, Babad Tabanan dan banyak lagi bermunculan setelah itu.

 

Sampai sekarang pulau Bali yang cantik mungil ini tetap menjadi "santapan yang lezat" bagi para peneliti baik yang tua maupun peneliti muda dari seluruh dunia. Sepertinya mereka berlomba untuk membuka tabir yang menyelimuti kekayaan budaya Bali yang dianggap masih penuh misteri dengan kulitnya yang berlapis-lapis. Memang misteri selalu mempunyai daya tarik.

 

Namun kekawatiran bisa muncul, bilamana terdapat perbedaan interpretasi dan akhirnya bisa membingungkan orang Bali sendiri. Oleh karena itu, kita perlu menyadari dengan ikut aktif dengan para akhli dari negeri asing. 

 

 

 

 

masih dalam penyempurnaan