|
Para
peneliti Barat berpendapat, bahwa orang Bali tidak punya
"sejarah". Tetapi Mark Hobart, seorang kritikus bidang
anthropolog, membantahnya dengan menjelaskan, bahwa orang Bali
sebenarnya punya sejarah dan malahan sangat menghargai masa lalunya.
Hanya orang Barat kurang mau mengerti bentuk pemahaman orang
Bali terhadap masa lalunya.
|
".....Balinese
history is opaque and difficult to Western eyes.
In addition to thorny problems
involving dating, establishing the provenance
and antiquity of manuscripts, and verifying
data, Balinese history stretches our sense of
what is credible.
Historical narratives are filled with
tales of magic, divine intervention in human
affairs, and superhuman feats, which have
generally been categorized
as 'myth' by Western scholars; who, in various
ways, conclude that the Balinese have no
history, or that their sense of history is not
"proper".
Balinese DO have a history: to
say that they do not, or that their history is
somehow 'improper', or 'incorrect' is to
practice a form of intellectual imperialism. (Stephen
Lansing, Perfect Order)) |
|
Ada
lagi pendapat brilian perihal sejarah dari Fernand
Braudel, Civilization and Capitalism, Vol. 11: The Wheels of
Commerce, sebagai berikut:
|
There is for one thing a "historiographical"
inequality between Europe and
the rest of the world. Europe invented historians and then
made good use
of them. Her own history is well-lit, and can be called as evidence
or used as a claim. The history of non-Europe is still
being written. And until the balance of knowledge and
interpretation has been restored, the historian will be
reluctant to cut the Gordian knot of world history--that
is the origin of the superiority of Europe.
Terjemahannya
kurang
lebih sbb: Terjadi ketimpangan "perihal kesejarahan"
antara Eropa dengan bagian dunia lainnya. Eropa memiliki
banyak akhli sejarah dan mereka sudah memanfaatkannya
dengan baik. Sejarah diluar Eropa masih sedang ditulis.
Sebelum pengetahuan interpretasi dipulihkan kembali, para
sejarawan enggan melepas tali Gordian yang
membelenggu sejarah dunia - - itulah dasar supremasi Eropa. |
Orang
Bali sangat religius dan menyadari, bahwa manusia adalah bagian
kecil dari alam semesta. Mereka sebagai buana alit (microcosmos)
yang tidak lain hanyalah merupakan salah satu partikel yang
mempunyai unsur sama dengan buana agung (macrocosmos). Mereka
larut dan pasrah dalam hukum kemestaan alam dan memujanya sebagai
kekuatan yang tertinggi. Apapun yang terjadi adalah proses hukum alam
sesuai kehendak yang Maha Kuasa. Di sanalah sumber utama Etika dan Budaya orang
Bali. Keindahan alam dihayati dicurahkan dalam seni sastra, seni
tari, seni lukis, seni patung dan sebagainya.
Catatan
atau peringatan suatu kejadian yang di sebut pracasti ditulis
diatas lempengan logam atau batu alam. Juga banyak ditulis di
atas daun rontal. Tulisan yang mengandung riwayat serta asal usul keluarga
juga disebut pracasti atau babad. Penulisan pracasti atau babad dilakukan oleh
orang suci atau para pendeta. Pracasti atau babad disucikan
dengan upacara keagamaan yang kemudian disakralkan dan disimpan
di Pura atau di Merajan (Sanggah) Kawitan.
Dalam
garis besar sebuah babad selain mengandung hikayat seorang yang
ditokohkan sebagai leluhur yang dipuja dan dipuji, ditulis dalam
bait-bait seloka. Seringkali memetik dari Epos Ramayana dan
Mahabharata atau dari Babad yang lebih tua. Dalam silsilah,
paling atas kadang-kadang tercantum Bhatara Wisnu atau
Bhatara Guru atau lainnya yang melambangkan titisan leluhur.
Catatan peristiwa dengan
hari kejadian yang ditulis secara modern yang
disebut "sejarah" baru mulai kita kenal setelah orang Eropa
menginjakkan kaki di negeri kita.
Bangsa
asing yang pada awalnya singgah di Bali
Pada
awalnya pelaut, pedagang, petualang, perompak bangsa Potugis, yang
berlayar sampai di Malaka tahun 1509 sampai di Maluku tahun 1601,
hanya melintasi pesisir pantai pulau yang mereka beri nama
Bally, Boly, atau Ballie. Tujuan pelayaran mereka adalah kepulauan
Maluku. Sesekali mereka singgah di pantai Bali bukanlah untuk
berkunjung, tetapi hanya perlu mencari air bersih dan segera pergi
untuk mencari rempah-rempah, bila perlu mereka berusaha
mendapat daerah baru. Bangsa Spanyol beberapa kali melihat pulau mungil
yang disebut Jawa Minor, hanya dari atas kapalnya.
Sir
Frances Drake tahun 1580 pernah mengunjungi Bali demikian juga
Thomas Cavendish tahun 1585 bahkan sampai ke Blambangan. Namun
mereka tidak membuat catatan apapun sebagai bukti.
Catatan
tertua mengenai Bali antara lain adalah yang dibuat seorang Belanda
bernama Lintgens, salah seorang dari anak buah kapal yang
dinakhonai oleh Cornelis de Houtman
pelaut bangsa Belanda. Dalam laporannya banyak menyangjung
keindahan alam dan budaya kehidupan Bali. Jaman itu masyarakat
dunia belum tertarik kepada Bali, karena tidak ada barang dagangan di Bali,
seperti kayu cendana dan rempah-rempah.
Tetapi
akhirnya bangsa Belanda mulai tertarik dan pada tahun 1601 mengirim
utusan resmi ke Bali dibawah pimpinan Admiral Cornells van
Heemskerck dengan membawa surat dari raja Belanda Prince Maurits
juga membawa hadiah-hadiah berharga. Raja Bali menyambut baik kerjasama, malahan
ada kata-kata dari Raja: "Bali dan Belanda adalah satu".
Keberangkatan kembali ke Belanda, kepada Heemskerck selain diberikan
cendramata juga dihadiahi seorang gadis Bali yang molek.
Heemskerck dengan halus menolak hadiah istimewa ini, tetapi raja mengatakan, bahwa
kurang sopan menolak pemberian yang tulus. Ucapan raja "Bali
dan Belanda adalah satu" yang mengandung falsafah tinggi,
tattwam asi, diartikan lain oleh orang Belanda, bahwa orang Bali
sangat kompromis. Apa yang terjadi tahun-tahun kemudian ternyata
Belanda sangat sulit untuk menaklukkan Bali.
Sejarah
Indonesia
dibawah kekuasaan Belanda.
Setelah
Bali ditaklukkan Belanda pada awal abad 20, para arkeolog,
antropolog dan budayawan Belanda menemukan peninggalan sejarah
yang sangat luar biasa di Bali. Mereka baru
mengerti kalau Bali yang "kecil" itu menyimpan sesuatu sangat
"besar" nilainya yang selama ini diabaikan.bangsa Barat. Setelah
dipelajari mereka makin terpesona, sehingga mereka memproteksi
Bali secara ketat. Bahkan penyebar agama yang disebut missionaries
pun dihambat dan
kedatangan turis dibatasi oleh para budayawan Belanda terutama Dr.
H.N. van der Tuuk, J.F. Liefrinck dan Dr. R.Goris. Tahun
1928, mereka mendirikan suatu badan berbentuk yayasan dengan nama
"Stichting van Liefrinck en Van der Tuuk" yang diresmikan
oleh J. Caron, resident Bali dan Lombok.
Setelah
itu para peneliti asing bersama-sama dengan para cendekiawan
Indonesia mengadakan penelitian
terhadap sejarah Bali bersumber dari babad dan naskah kuna lainnya
peninggalan kerajaan-kerajaan di Bali dan Jawa. Mereka dalah Prof.
Brandes, Berg, Kern, Krom, Pigeaud, Teeuw, Uhlenbeck, and
Zoetmulder, dan banyak lainnya.
Pada "jaman
Belanda" itu juga muncul babad-babad baru, seperti babad Mengwi, Babad Buleleng, Babad
Tabanan dan banyak lagi bermunculan setelah itu.
Sampai
sekarang pulau Bali yang cantik mungil ini tetap menjadi "santapan
yang lezat" bagi para peneliti baik yang tua maupun peneliti muda dari seluruh
dunia. Sepertinya mereka berlomba untuk membuka tabir yang
menyelimuti kekayaan budaya Bali yang dianggap masih penuh misteri
dengan kulitnya yang berlapis-lapis. Memang misteri selalu
mempunyai daya tarik.
Namun
kekawatiran bisa muncul, bilamana terdapat perbedaan interpretasi dan
akhirnya bisa membingungkan orang Bali sendiri. Oleh karena itu, kita perlu
menyadari dengan ikut aktif dengan para akhli dari negeri asing.
|