S E J A R A H

 

 

 

Nama I Gusti Anglurah Panji Sakti sudah termasyur, bukan saja di Buleleng dan Bali, tetapi sudah ke seluruh pelosok dunia. Tokoh pelaku sejarah yang riil di abad ke 17 ini, bukan sekedar ceritra rakyat, legenda ataupun dongeng.

 

Beberapa bentuk riwayat I Gusti Anglurah Panji Sakti sempat dijumpai. Yang paling populer di kalangan masyarakat di Bali adalah versi Babad Buleleng, yang sejauh ini sudah dianggap sumber yang paling otentik / lengkap.

 

Namun, perlu juga diketahui bahwa nama Panji Sakti juga ditemukan dalam beberapa naskah yang lebih kuna seperti Pamancangah dan Babad Blahbatuh yang juga disebut sebagai sumber penulisan Babad Buleleng (Worsley). Selain itu ada juga catatan kuna bersumber dari masyarakat jaman dahulu. Nama Panji Sakti juga ada disebut dalam catatan yang dibuat oleh Belanda pada jaman VOC. 

 

Di halaman ini akan kami mencoba merangkai beberapa sumber, semoga mendapatkan suatu yang menyegarkan terutama bagi para pengunjung yang tertarik..

 

 

 

<<< I - II - III - IV >>>

RIWAYAT PANJI SAKTI 

Awal Riwayat.

 

Bermula diceritakan mengenai I Gusti Ngurah Jelantik. Untuk menjaga keamanan negara kerajaan Bali, beliau dipercaya oleh Maha Patih Gajah Mada sebagai Perdana Menteri dan Panglima Perang yang sangat dihandalkan oleh raja Bali yang bergelar Dalem Gelgel. I Gusti Ngurah Jelantik beristana di puri Jelantik, tidak jauh dari istana raja di Gelgel.

 

Di puri Jelantik, banyak para abdi laki-laki dan perempuan yang berasal dari berbagai tempat. Di antara para abdi ada seorang perempuan pelayan (pariwara) yang sehari-harinya bertugas sebagai penjaga pintu, bernama Ni Pasek Gobleg. Pada suatu hari, I Gusti Ngurah Jelantik pulang dari bepergian. Pada saat beliau melangkahkan kaki masuk halaman puri, waktu itu sang pariwara Ni Pasek Gobleg baru saja selesai membuang air kecil (angunyuh). I Gusti Ngurah Jelantik terkejut ketika beliau menginjak air yang dirasa hangat di telapak kakinya. Beliau meyakini air itu tidak lain adalah air kencing Ni Pasek Gobleg, pelayan dari desa Panji wilayah Den Bukit itu. Timbul gairah birahi I Gusti Ngurah Jelantik kepada Ni Pasek Gobleg dan serta merta menjamahnya. Hubungan cinta kasih yang melibatkan I Gusti Ngurah Jelantik dengan pelayannya tidak diketahui oleh isterinya, I Gusti Ayu Brang-Singa.

Dari larutnya hubungan itu, tidak berselang lama Ni Pasek Gobleg mengandung dan sampai pada waktunya, lahir seorang bayi laki-laki yang sempurna yang diberi nama I Gusti Gde Pasekan. Nama itu diambil dari pihak sang ibu yang berasal dari trah Pasek.

Beberapa waktu kemudian, sang pramiswari, I Gusti Ayu Brang-Singa, setelah kehamilannya cukup waktunya, juga melahirkan seorang bayi laki-laki, yang diberi nama I Gusti Gde Ngurah. I Gusti Gde Pasekan lebih tua dari I Gusti Gde Ngurah.

 

Disebutkan, bahwa dari ubun-ubun I Gusti Gde Pasekan muncul berkas sinar, tambahan lagi lidahnya berbulu. Melihat keistimewaan I Gusti Gde Pasekan, muncul perasaan was­was I Gusti Ayu Brang-Singa, bilamana di kemudian hari nanti, I Gusti Gde Pasekan akan lebih disayang oleh I Gusti Ngurah Jelantik. Lagi pula akan bisa mengalahkan kedudukan I Gusti Gde Ngurah, putranya sendiri yang lebih berhak atas segala warisan.

Ujar Ni Gusti Ayu Brang-singa: „Kakanda Gusti Ngurah, dari manakah asal-usul anak bayi ini, kakanda?"

Dijawab oleh I Gusti Ngurah Jelantik: „Baiklah adinda, bayi itu asalnya dari kakanda sendiri, dilahirkan dari seorang pariwara bernama Ni Pasek Gobleg, berhubungan hanya sekali".

Menyahut Ni Gusti Brang-Singa dengan air muka sedih: „Kalau begitu baiklah. Tetapi bila bayi ini tetap berada disini, maka masalah ini membuat adinda akan menentang. Bilamana anak ini memiliki hak di Purl Jelantik". Demikian kata-kata sang isteri terhadap Ki Gusti Ngurah Jelantik yang langsung menjawab: „ Jangan merasa gundah, adinda. Anak itu bersama ibunya akan meninggalkan tempat ini dan pergi ke Ler Gunung". Mendapat jawaban demikian wajah Ni Gusti Ayu Brang-Singa kembali tampak berseri.

Sampailah diceritakan, seseorang bernama I Wayahan Pasek dari desa Panji, dalam perjalanan telah sampai ke puri Jelantik, menjenguk Ni Pasek Gobleg, ibu I Gusti Gde Pasekan. Ki Wayahan Pasek adalah saudara mindon Ni Pasek Gobleg.

Di dalam puri, I Gusti Ngurah Jelantik sudah siap menanti. Demikian sabda I Gusti Ngurah: „Wahai engkau Wayahan Pasek. Bawalah olehmu I Gde Pasekan ke Ler Gunung. Perintahku kepadamu, agar engkau memandang dia sebagai gusti-mu di sana. Lagi pula di dalam tata laksana upakara terhadapnya jangan dicemari (carub), karena dia adalah sejatinya berasal dari aku".  Sembah atur I Wayahan Pasek: „Baiklah, hamba junjung tinggi wacanan Gusti. Semuanya sudah jelas bagi hamba." 1)

1) Sabda Ki Gusti Ngurah: ,,E, kita Wayahan Pasěk, anakta Ki Gĕde Pasĕkan ajakĕn mara maręng Ler-Gunung. Manirâweh i kita, kitânggen gusti ring kana. Sadene sira angupakāra; aywa koruban acamah, apan agawe n manira jāti”.

Matur ki Wayahan Pasěk:,,Inggih, kawulânuhun wacana n I gusti. Sampun anangçayęng twas”.

I Gusti Gde Pasekan sudah berumur 12 tahun. Sebelum perjalanan dimulai, beliau dibekali sebuah pusaka oleh sang ayah, I Gusti Ngurah Jelantik, berbentuk sebilah keris. Disamping itu diberikan juga pusaka leluhur berupa tombak-tulup bernama Ki Pangkajatattwa atau Ki Tunjungtutur. Setelah semuanya siap, perjalanan ke Ler Gunung dimulai. Disamping ibunya, Ni Pasek Gobleg dan pamannya, I Wayan Pasek, I Gusti Gde Pasekan diiringi oleh 40 orang pengawal, dipimpin oleh Ki Dumpyung dan Ki Dosot.

Di saat mulai melangkah, I Gusti Gde Pasekan merasa sedih meninggalkan tempat kelahirannya, teringat kembali akan pesan-pesan ayahnya, teman sepermainannya. Perasaanya penuh tanya dan keraguan. Terdengar suara seperti berasal dari keris pusaka:  "Ih, aywa semang" yang artinya “ Ih, jangan ragu”.  I Gusti Gde Pasekan tersentak heran, namun akhirnya senang karena keris pusaka yang diberikan ayahandanya mampu berbicara.

Sampailah perjalanan mereka masuk wilayah hutan. Pada saat melewati tanjakan perbukitan Watu Mejan, semua merasa capai dan mereka pun beristrirahat di atas tanah perbukitan sambil menikmati bekal makanan berupa ketupat. Tiba-tiba I Gusti Gde Pasekan terselak sewaktu  makan ketupat sedangkan persediaan air sudah habis. Keadaan itu membuat semua orang panik. Ibunya segera menyuruh seorang pengiring untuk pergi mencari air minum. Pengiring itu sedang memegang tombak/tulup Ki Tujungtutur. Karena tergesa-gesa, dengan tidak berpikir panjang, tombak/tulup tersebut begitu saja diserahkan ke tangan Ni Pasek Gobleg untuk bisa segera turun jauh ke bawah menuju danau Buyan.

Ni Pasek Gobleg sebagai perempuan merasa tidak pantas memegang senjata, maka Ki Tunjungtutur yang juga disebut Ki Pangkajatattwa yang sedang dipegangnya itu ditancapkan ke tanah. Secara ajaib, dari dalam tanah yang tertancap terdengar suara gemericik, air muncul ke atas tanah, tidak mengalir melainkan membentuk sumur kecil. Airnya sangat bening dan sejuk. Ni Pasek Gobleg hanya bisa tertegun, tetapi rombongan bersorak berbahagia mendapat anugrah air. Yang turun ke danau pun batal. Rombongan beristirahat dengan tenang. Semuanya memuaskan dahaga dengan merasakan air yang terasa segar dan sejuk.

Pada waktu rombongan sedang beristirahat dengan tenangnya, I Gusti Gde Pasekan ingin tahu keadaan hutan yang asing baginya. Tanpa disadarinya ia berjalan sendiri lepas dari rombongan. I Gusti Gde Pasekan telah berada di puncak perbukitan. Hari telah sore, bayang-bayang pohon telah memanjang dan kabur. I Gusti Gde Pasekan naik pohon mencoba untuk melihat lebih jauh. Melihat ke arah Timur dilihatnya bukit Tianyar. Di sebelah utara hanya bentangan laut biru. Memandang ke Barat kelihatan bentuk bayangan gunung Banger di ujung timur pulau Jawa. Ketika sedang menoleh ke Selatan, terdengar tangisan perempuan, tidak lain ibunya - Ni Luh Pasek Gobleg dilihatnya jauh dibawah terisak-isak ditanah, memanggil namanya. I Gusti Gde Pasekan segera turun. Kemudian dari cerita ibunya barulah disadari, bahwa I Gusti Gde Pasekan telah digendong mahkluk yang tinggi besar yang membuat ibunya gemetar ketakutan. Disebut makhluk gaib itu bernama Panji Landung.(Babad Buleleng)

Hari telah mulai gelap, perjalanan ke desa Panji kiranya idak perlu ditunda lagi. Perjalanan pun dilanjutkan hingga akhirnya sampai di desa Panji. 

Disambung ke halaman berkut  >>>