S E J A R A H

 

 

 

 

Sudah berabad-abad Pulau Bali dikenal dengan penduduknya yang beragama Hindu. Tidak dapat dijelaskan dengan tepat abad berapa Agama Hindu masuk ke Bali. Karena berkembangnya agama Hindu di Bali tidak melalui cara-cara peperangan atau kekuasaan penjajahan. Melainkan melalui penyerapan budaya para pendatang. Orang India datang langsung ke Bali sebelum abad ke IX. (Lihat Situs Kalibukbuk). Mereka membawa budaya yang ternyata bisa diterima dan diataptasi secara harmonis oleh orang Bali. Dewa-dewa Hindu kemudian juga dipuja oleh orang Bali sampai sekarang.

 

Dalam pemerintahan Raja Udayana Warmadewa di Bali, abad ke 9, beliau didampingi oleh para empu dari Jawa Timur dengan membawa budaya tata cara menjalankan agama Hindu. Putra pertamanya, Airlangga tinggal di Jawa sebagai raja Kahuripan, sedangkan sebagai raja Di Bali diteruskan putra ke-2, Marakata, dan kemudian  Anak Wungsu putra bungsu.

Airlangga

 

Keturunan Raja Warmadewa inilah yang kemudian didatangkan dari Kediri, Jawa Timur, ke Bali yang dikenal sebagai dinasti Sri Nararya Kresna Kapakisan oleh Patih Gajah Mada dalam usaha mengembangkan kerajaan Majapahit di Bali tahun 1343. I Gusti Ngurah Panji Sakti raja Den Bukit (Buleleng) bertakhta tahun 1660-1700 adalah salah satu keturunan Udayana Warmadewa / Airlangga.

 

Gajah Mada

 

Patih Gajah Mada juga mendatangkan keturunan Brahmana dari Majapahit yang diturunkan satu tingkat menjadi kesatrya yang dikenal sebagai dinasti Sri Kresna Kapakisan / Dalem Kapakisan untuk menduduki jabatan sebagai raja Bali.

Patih Gajah Mada juga mendatangkan para Arya dari Jawa yang ditempatkan di berbagai wilayah untuk menjaga keamanan dan keutuhan kerajaan Bali.

 

 

 

Puri Panji 1920

 

Puri Panji 2005

 
 

Waktu terjadi kemelut antar penguasa di Bali, banyak terjadi penculikan terutama di perbatasan antar wilayah. Orang-orang yang ditangkap itu dijual ke Batavia sebagai pekerja kasar atau buruh di kapal. Ada seorang pemuda berasal dari Bali sebagai budak belian, dibawa ke Makassar kemudian ke Batavia, kemudian menjadi seorang pejuang, pemimpin yang tangguh dan musuh  VOC akhirnya menjadi raja di Jawa Timur. Dikenal dalam sejarah sebagai tokoh yang melegenda bernama Untung Surapati. Diyakini Untung Surapati tidak lain adalah si anak hilang / di culik di titi gantung. Dia tidak lain adalah juga keponakan I Gusti Ngurah Panji (Sakti).

Kisahnya akan ditulis di Buleleng.com

Kalau ada pihak pengunjung situs ini yang tahu perihal riwayat Untung Surapati silakan mengisi ruangan yang akan disediakan. Hubungi kami.

<<< I - II - III - IV >>>

RIWAYAT PANJI SAKTI 

Dimulai Dari Desa Panji.

 

Setelah beberapa lama I Gusti Gde Pasekan berada di desa Panji dengan bimbingan ibunya, Ni Pasek Gobleg dan pamannya I Wayan Pasek, dengan cepat beliau belajar mengenal lingkungan desanya. Disamping itu ada dua pengasuh, Ki Dumpyung dan Ki Dosot. Sebagai seorang pemuda berusia 12 tahun, yang selalu ingin tahu tentang segala hal, I Gusti Gde Pasekan sering berpetualang. Naik bukit dan menjelajanh ke hutan melewati tegalan sampai ke pantai merupakan kegiatan rutin.  Keris pemberian ayahnya, I Gusti Ngurah Jelantik, selalu terselip di pinggangnya.

 

Pada suatu sore yang panas,  I Gusti Gde Pasekan merasa badannya gerah dan ingin mandi di sungai di tempat beliau sering mencari ikan. Tetapi di sungai dilihatnya ada buaya yang membuat orang-orang takut untuk mandi dan para perempuan takut mengambil air. Dengan segala pertimbangan yang cukup masak, I Gusti Gde Pasekan turun kesungai seorang diri. Dengan kelincahan dan kaki katangannya yang cekatan, buaya yang menakutkan itu bisa di bunuhnya. Setelah buaya dibunuhnya barulah beliau mandi dengan tenangnya dan menikmati sejuknya air sungai. Penduduk desa Panji menjadi gempar, karena keberanian dan kewisesan I Gusti Gde Pasekan yang masih muda belia itu.  I Gusti Gde Pasekan semakin dekat di hati masyarakat desa Panji, bahkan meluas keluar desa Panji.

 

Di wilayah Den Bukit ada seorang yang sangat berkuasa bernama Ki Pungakan Gendis. Beliau sangat ditakuti oleh rakyak karena perangainya yang semena-mena, hanya mencari kesenangan berjudi dengan mengadu ayam setiap hari. Beliau bebergian dengan menaiki kudanya yang besar dan gagah. Di kanan kirinya berjalan beberapa orang pengawal.

 

Suatu hari, I Gusti Panji sedang dalam perjalanan pulang. Karena merasa lapar beliau berhenti untuk mencari umbi ketela di tegal. Keris pusaka leluhur yang selalu dibawanya itu lalu dihunusnya dan ditancapkan di tanah mencongkel umbi ketela. Sedang mencongkel- congkel tanah,  tiba-tiba I Gusti  Panji mendengar suara seperti keluar dari dalam keris " ..... tan gaweyaŋ puyut kinarya anŋulati ewi..." yang artinya: "....jangan buyut dipakai untuk mencari umbi ketela...". Selanjutnya terdengar:..."aywa ki buyut semaŋ- semaŋ ri ki puyut... apan ana pasupati-astra ring agraniŋ puyut....ana pinakasatrunta maŋaran ki puŋakan Gendis yogya pinatryan denta .."  artinya:  "Jangan ragu akan kesaktian buyut..... karena di ujumg buyut memiliki kesaktian.....disana ada musuh bernama Ki Pungakan Gendis yang harus dibinasakan....". Mendengar sabdantara sedemikian, I Gusti Panji berhenti mencongkel umbi dan keris pusaka segera dimasukkan kesarungnya. I Gusti Panji mulai menyadari, bilamana suatu waktu dkemudian hari timbul keraguan di pikiran beliau, agar selalu ingat akan "Ki Semang", demikian nama kris pusaka tersebut.

 

Diceritakan Ki Pungakan Gendis sedang dalam perjalanan pulang sehabis berjudi dan bersenang-senang. Beliau menunggang kuda diiringi oleh para pengawal. Kebetulan I Gusti Panji juga dalam perjalanan. Ki Pungakan Gendis tiba-tiba terkejut berhadapan dengan seorang pemuda gagah yang berdiri didepannya. Seketika Ki Pungakan Gendis menghardik kudanya. Kudanya menjadi garang dan dengan kaki depannya sang kuda menggores dada I Gusti Panji hingga terjatuh, namun tidak terluka. I Gusti Panji segera bangkit dan naik ke pohon lece. Ki Pungakan Gendis menyerang dengan kudanya, namun I Gusti Panji meloncat ke atas kuda dan keris pusaka menembus dada Ki Pungakan Gendis. Ki Pungakan gendis tidak segera menemui ajalnya karena memiliki ilmu kekebalan. Dengan tetap duduk di atas kudanya beliau meneruskan perjalanan pulang. Sampai dirumahnya barulah diketahui oleh para pengwalnya bahwa majikannya telah wafat karena tidak kuasa melawan kesaktian keris I Gusti Panji.

 

Keadaan penduduk desa Panji dan desa Gendis, sampai pada desa-desa sekitarnya tidak lagi merasa takut karena Ki Pungakan Gendis yang kelakuannya semena-mena terhadap penduduk telah tiada lagi. Sebaliknya, penduduk merasa mendapat perlindungan dan bimbingan dari I Gusti Panji yang dianggap pantas memimpin mereka. Semenjak itu penduduk bergembira dan sepakat  untuk memberi beliau gelar "Ngurah", maka nama beliau menjadi  I Gusti Ngurah Panji. 

 

Setelah itu, I Gusti Ngurah Panji  memindahkan pura yang berada di desa Desa Gendis, yang disungsung oleh krama desa Gendis dan sekitarnya, ke pusat desa Panji. Seluruh masyarakat penyungsung pura tersebut menyatakan persetujuannya dan pura itu dijadikan Pura Desa Panji.

                                   

Tidak berselang lama, I Gusti Ngurah Panji  kemudian membangun puri, di sebelah timur jalan, bersebrangan dengan Pura Desa yang baru selesai. Puri tersebut memang tidak dibangun secara mewah, namun sudah dilengkapi dengan merajan. Hal ini sesuai dengan petunjuk ayahnya I Gusti Ngurah Jelantik dahulu semasih di Gelgel sebagaimana ditegaskan kepada I Wayan Pasek. Semua merasa berbahagia, karena sekarang bisa terlaksana, yaitu I Gusti Ngurah Panji dinobatkan sebagai pemimpin dengan puri serta merajan. Namun sang ibu, Luh Pasek Gobleg tidak mau tinggal di dalam puri karena merasa dirinya kurang pantas dan tetap di rumahnya semula di sebelah utara.

 

Setelah beberapa lama, ada suatu kejadian, sebuah perahu bermuatan penuh barang dagangan terdampar di pantai Penimbangan. Perahu itu milik orang asing bernama Dempu Awang, seorang saudagar Cina. Dengan nada sedih sang saudagar minta tolong kepada Bendesa Gendis agar kapalnya bisa diselamatkan namun Bendesa Gendis tak sanggup menolong. Kemudian datanglah I Gusti Ngurah Panji dan dengan cara yang penuh perhitungan beliau bisa melepaskan perahu dari jepitan batu karang, sehingga perahu itu kembali bebas. Sang saudagar Dempu Awang memberkan banyak hadiah kepada I Gusti Ngurah Panji  berupa barang-barang mewah seperti piring - cangkir, cawan dan permadani,  kain beludru yang mahal sampai bahan bangunan rumah. Selain itu juga uang kepeng atau jinah bolong alat pembayaran yang berlaku jaman itu. Setelah mengucap syukur dan terima kasih kepada I Gusti Ngurah Panji, Dempu Awang pergi  melajutkan pelayarannya.

 

Dengan demikian, I Gusti Ngurah Panji mendapat harta yang cukup berlimpah yang diperlukan sebagai modal kelancaran geraknya dalam menjalankan tugas memimpin rakyat, disamping benda yang sudah dimiliki berupa keris pusaka Ki Semang dan tulup Ki Tunjung-tutur yang mempunyai kekuatan magis sebagai kelengkapan dalam menjaga kewibawaan seorang pemimpin.

 

I Gusti Ngurah Panji sudah makin dewasa dalam umur dan juga dalam pengalaman. Setelah berumur melewati 20 tahun, beliau mengambil putri yang berparas ayu yang bernama I Dewayu Juruh. Gadis pilihannya itu tidak lain adalah putri  Ki Pungakan Gendis almarhun yang dikalahkan dan gugur dalam perang tanding dahulu. Kemudian adik laki-laki I Dewayu Juruh tetap diberikan kekuasaan di Gendis dibawah asuhan Bendesa Gendis. Lama-kelamaan I Gusti Panji makin dikenal dan disegani di wilayah Den Bukit.

 

Perlu diceritakan disini, bahwa sewaktu  I Gusti Panji sedang memantapkan kedudukan di Den Bukit, terjadi kemelut dalam pemerintahan di istana Gelgel. Ini terjadi setelah Dalem Sagening wafat (tahun 1632) yang kemudian digantikan oleh Dalem Pemayun yang masih muda. Pada waktu adanya peralihan jabatan itu muncul intrik dan fitnah antara kelompok para pejabat tinggi kerajaan untuk saling merebut kekuasaan.

I Gusti Ngurah Jelantik (ayah I Gusti Panji) di puri Jelantik, wafat karena umur lanjut. Beliau digantikan oleh putranya yang bernama I Gusti Gde Ngurah.yang tidak lain adalah adik (tiri) I Gusti Ngurah Panji. Setelah dinobatkan, I Gusti Gde Ngurah bergelar I Gusti Ngurah Jelantik, sama dengan gelar ayahnya. Karena masih muda beliau dibina oleh  I Gusti Gde Pring, pamannya.

Patih Dalem waktu itu, I Gusti Agung Maruti sangat ambisius, ingin mengambil kekuasaan kerajaan Gelgel. I Gusti  Agung Maruti bermaksud mengambil keris sakti pusaka I Gusti Ngurah Jelantik yang bernama Ki Pencok Sahang yang dulu dipakai mengalahkan Ki Dalem Dukut di Nusa.I Gusti Ngurah Jelantik menolak untuk menyerahkan keris pusaka warisan leluhurnya yang merupakan anugrah Batara di Pura Besakih.Karena itu., I Gusti Agung Maruti berkali- kali mengerahkan pasukan bersenjata mau membunuh I Gusti Ngurah Jelantik atas nama Dalem, tetapi tidak berhasil. Untuk menghindari kejadian yang makin meruncing I Gusti Ngurah Jelantik beserta pamannya I Gusti Gde Pring, menyelamatkan diri dan keluarganya mengungsi ke daerah Barat bersama para pendukung yang setia. Sampailah mereka di tepi sungai Ayung waktu hari mulai gelap. Mereka berjalan beriringan dan berpegangan tangan melalui “titi gantung” diatas sungai Ayung. Setelah sampai di seberang baru disadari bahwa putra kedua I Gusti Ngurah Jelantik lepas dari rombongan dan menghilang. Para pengiring diperintahkan untuk kembali dan mencari putranya yang berumur sekitar 4 tahun itu (Untung Surapati), namun sia-sia belaka tanpa hasil. Dengan rasa sedih perjalanan diteruskan sampai di desa Marga, Mengwi.

Kemelut di Istana Gelgel kian menjadi-jadi, sehingga banyak petinggi kerajaan juga mengungsi ke luar wilayah Gelgel, ada yang ke wilayah Timur ada yang ke Barat, bahkan ada yang ke Den Bukit minta perlindungan I Gusti Ngurah Panji.

Disambung kehalaman berikut>>>