|
Membangun Kerajaan Den Bukit
I Gusti Ngurah Panji mengetahui
kemelut yang terjadi di Puri Gelgel. Sebagai seorang pemimpin yang
cerdas beliau malahan sangat memahami apa yang sebenarnya
terjadi. Beliau menyadari tugas dan
tanggung jawab leluhurnya semasih di Jawa sampai ditempatkan di
pulau Bali ini. Bahkan, I Gusti Ngurah Panji sudah mempunyai
rencana ke depan dan berbuat segala sesuatu untuk
meng-antisipasi kemungkinan terjadinya
sesuatu yang buruk menimpa kerajaan
Gelgel, yang berakibat pada keutuhan Bali. Karena itu, I Gusti
Ngurah Panji berusaha menyatukan seluruh wilayah Den Bukit dan
segera mendijadikan satu kerajaan yang kuat dan
madiri.
I Gusti Ngurah Panji bersemayam di puri Panji dalam keadaan
sentosa dan sejahtera. Namun beliau merasa gundah bila melihat
situasi kerajaan Bali yang berpusat di Gelgel sekarang ini yang
lepas kendali. Sedangkan keinginannya untuk menyatukan wilayah
Den Bukit belum terwujud.
Di wilayah Den Bukit
dibagian Timur, dari desa Tianyar sampai
batas sungai Nirmala masih dikuasai oleh I Gusti Alit Mandala.
Setelah melakukan pendekatan secara simpatik, akhirnya I Gusti
Alit Mandala sangat memaklumi keadaan dan melepaskan kekuasaanya dan mengakui kebesaran I Gusti
Ngurah Panji.
Namun di wilayah sebelah Barat masih dikuasai
oleh seorang cucu dari Kyai Cili Ularan dengan nama Kyai
Sasangkadri, yang berada di desa Tebu Salah. Karena tidak mau
diajak kompromi, terpaksa I Gusti Ngurah Panji memakai cara
kekerasan dengan pasukan perang untuk menundukannya. Terjadi
pertempuran yang hebat. Kedua pihak memperlihatkan keberanian dan
ketangkasan yang
seimbang. Tetapi, akhirnya Kyai Sasangkadri mengakui dan
menyatakan tunduk dibawah kekuasaan I Gusti Ngurah Panji dan
menyerahkan wilayah Barat. I Gusti Ngurah Panji merasa puas.
Kemudian kedudukan Kyai Sasangkadri dikembalikan sebagai penguasa
di Tebu Salah dengan beberapa persyaratan yang sudah disepakati.
Demiianlah I Gusti Ngurah Panji menjalankan
kepemimpinannya dengan cara bijaksana dengan cara memberikan
pengertian, pengayoman dan kemakmuran kepada rakyat di Den Bukit.. Beliau
sebagai seorang pemimpin perang, komandan pasukan, sang penakluk,
Dengan pusaka keris Ki Semang dan Ki Tunjungtutur, seluruh rakyat
Den Bukit tidak ada seorangpun berani menentang. Dengan demikian beliau menjadi raja Den Bukit atau
dengan nama Ler Gunung.
Setelah usahanya berhasil menyatukan wilayah
Den Bukit beliau membentuk
laskar yang dsebut
Teruna Gowak dibawah pimpinan Panglima Perang I Gusti Tamblang
Sampun dan I Gusti Made Bahatan sebagai wakil Panglima Perang.
Untuk menguatkan latihan perang, I Gusti Ngurah Panji mengangkat
orang-orang bayaran, seperti orang Bugis dan orang Ambon sebagai
pelatih perang. Kemudian juga memasok senjata api
Untuk menunjang
kerajaan dari segi pembeayaan, perdagangan digiatkan. Beliau tidak
segan-segan memperkerjakan orang asing seperti beberapa orang bangsa Cina,
sebagai syahbandar dan Ambon, Makasar, juga beberapa orang Belanda
sebagai untuk meningkatkan perdagangan. |