S E J A R A H

 

 

Kerajaan Bali di bawah kekuasaan Dalem Gelgel mulai rapuh. Dengan naiknya I Gusti Agung Maruti dan mengangkat dirinya sebagai Raja Bali (Dalem) di istana Gelgel, memicu munculnya reaksi di berbagai wilayah di Bali. Beberapa Arya mempertahankan wilayahnya masing-masing yang menimbulkan ketegangan sporadis.

Keadaan itu terjadi karena arogansi dan pemaksaan kehendak dari sebagian para petinggi Arya sendiri yang hanya bertujuan mencapai kekuasaan.

 

I Gusti Ngurah Panji teringat akan cerita ayahnya melalui paman I Wayan Pasek yang menceritakan bagaimana leluhur yang bergelar I Gusti Ngurah Jelantik tahun 1596 gugur dalam perang di Pasuruhan, Jawa Timur. Buyutnya, I Gusti Ngurah Jelantik Bogol yang mengalahkan Dalem Bungkut (Dukut) penguasa di Nusa dan kakeknya, I Gusti (Gde) Ngurah Jelantik, tahun 1639 mengusir pasukan Sultan Agung yang mendarat di Bali, itu semua untuk membela keutuhan Bali di bawah kekuasaan Dalem Gelgel. Ternyata sekarang kewibawaan Dalem Gelgel telah berada di ujung tanduk. Wilayah Blambangan yang dibawah kekuasaan kerajaan Bali sekarang sudah dalam genggaman musuh. Sedangkan pamannya, I Gusti Ngurah (Gde) Jelantik berada di pengungsian di pegunungan Bali Tengah wilayah Mengwi.

I Gusti Ngurah Panji tidak bisa berdiam diri, harus berbuat sesuatu, demi Bali, rakyatnya dan keluarganya. Untunglah, rakyat di Ler Gunung atau Den Bukit ini sedang memerlukan figur pemimpin yang mampu menggerakkan semangat untuk berjuang, seperti sosok I Gusti Ngurah Panji.

 

 

<<< I - II - III - IV >>>

RIWAYAT PANJI SAKTI 

Membangun Kerajaan Den Bukit

 

I Gusti Ngurah Panji mengetahui kemelut yang terjadi di Puri Gelgel. Sebagai seorang pemimpin yang cerdas beliau malahan sangat memahami apa yang sebenarnya terjadi. Beliau menyadari tugas dan tanggung jawab leluhurnya semasih di Jawa sampai ditempatkan di pulau Bali ini. Bahkan, I Gusti Ngurah Panji sudah mempunyai rencana ke depan dan berbuat segala sesuatu untuk meng-antisipasi kemungkinan terjadinya sesuatu yang buruk menimpa kerajaan Gelgel, yang berakibat pada keutuhan Bali. Karena itu, I Gusti Ngurah Panji berusaha menyatukan seluruh wilayah Den Bukit dan segera mendijadikan satu kerajaan yang kuat dan madiri. I Gusti Ngurah Panji bersemayam di puri Panji dalam keadaan sentosa dan sejahtera. Namun beliau merasa gundah bila melihat situasi kerajaan Bali yang berpusat di Gelgel sekarang ini yang lepas kendali. Sedangkan keinginannya untuk menyatukan wilayah Den Bukit belum terwujud.

 

Di wilayah Den Bukit dibagian Timur, dari desa Tianyar sampai batas sungai Nirmala masih dikuasai oleh I Gusti Alit Mandala. Setelah melakukan pendekatan secara simpatik, akhirnya I Gusti Alit Mandala sangat memaklumi keadaan dan melepaskan kekuasaanya dan mengakui kebesaran I Gusti Ngurah Panji.

Namun di wilayah sebelah Barat masih dikuasai oleh seorang cucu dari Kyai Cili Ularan dengan nama Kyai Sasangkadri, yang berada di desa Tebu Salah. Karena tidak mau diajak kompromi, terpaksa I Gusti Ngurah Panji memakai cara kekerasan dengan pasukan perang untuk menundukannya. Terjadi pertempuran yang hebat. Kedua pihak memperlihatkan keberanian dan ketangkasan yang seimbang. Tetapi, akhirnya Kyai Sasangkadri mengakui dan menyatakan tunduk dibawah kekuasaan I Gusti Ngurah Panji dan menyerahkan wilayah Barat. I Gusti Ngurah Panji merasa puas. Kemudian kedudukan Kyai Sasangkadri dikembalikan sebagai penguasa di Tebu Salah dengan  beberapa persyaratan yang sudah disepakati.

Demiianlah I Gusti Ngurah Panji menjalankan kepemimpinannya dengan cara bijaksana dengan cara memberikan pengertian, pengayoman dan kemakmuran kepada rakyat di Den Bukit.. Beliau sebagai seorang pemimpin perang, komandan pasukan, sang penakluk,  Dengan pusaka keris Ki Semang dan Ki Tunjungtutur, seluruh rakyat Den Bukit tidak ada seorangpun berani menentang. Dengan demikian beliau menjadi raja Den Bukit atau dengan nama Ler Gunung.

Setelah usahanya berhasil menyatukan wilayah Den Bukit beliau membentuk

laskar yang dsebut Teruna Gowak dibawah pimpinan Panglima Perang I Gusti Tamblang Sampun dan I Gusti Made Bahatan sebagai wakil Panglima Perang. Untuk menguatkan latihan perang, I Gusti Ngurah Panji mengangkat orang-orang bayaran, seperti orang Bugis dan orang Ambon sebagai pelatih perang. Kemudian juga memasok senjata api

 

Untuk menunjang kerajaan dari segi pembeayaan, perdagangan digiatkan. Beliau tidak segan-segan memperkerjakan orang asing seperti beberapa orang bangsa Cina, sebagai syahbandar dan Ambon, Makasar, juga beberapa orang Belanda sebagai untuk meningkatkan perdagangan.

 

 

Baca terus >>>