| |
| Latar
belakang sejarah.
Ki
Gusti Anglurah Panji Sakti pada abad ke 17
menyatukan seluruh wilayah Denbukit dengan nama
kerajaan Buleleng dan beliau menjadi raja Buleleng I. Namun
sejak tahun 1780 kerajaan Buleleng dapat dikuasai dan
diperintah oleh raja asal Karangasem. Kemudian mulai tahun 1849
tentara Belanda menaklukkan Buleleng setelah berhasil
menghancurkan Benteng Jagaraga. Kekuasaan raja Karangasem di
Buleleng
juga
berakhir.
Proses
transisi yang cukup rumit pun terjadi di Buleleng.
Pemerintah
kolonial Belanda waktu itu beberapa kali mengangkat raja di
Buleleng namun gagal, malahan raja diturunkan dari tahta dan
dihukum buang (ekstradisi). Patih I Gusti Bagus Jlantik
ditunjuk sebagai calon raja (regent), tetapi Belanda
menerapkan "direct rule" atau pemerintahan langsung
dibawah asistent resident Walaupun demikian, suksesi
dinasti Ki Gusti Anglurah Panji Sakti
terus berlanjut
seperti sediakala.
Baca
Sejarah Buleleng >>> |
|
|
|
SEKAPUR
SIRIH
|
|
Perjalanan
hidup seseorang adalah sebuah drama. Bentuk pemikiran, kata-kata
dan tindakannya bilamana kita mau merangkainya akan merupakan
untaian irama sebuah lagu yang utuh. Seluruhnya akan membentuk
wujud nyata yang bisa kita sentuh, amati, telusuri dan nikmati.
Lebih dalam lagi kita bisa mengambil dan memetik hikmah dan
kebikjasanaan dari perwujudan itu. Namun terserah kepada pribadi
kita masing-masing, disesuaikan pada kegunaan, tempat dan jaman. |
|
AWAL CERITA. |
| Tulisan ini dimunculkan
dalam rangka Peringatan 100 tahun Puri Ayodya yang dirayakan
pada tanggal 27 Desember 2003. Puri tersebut berlokasi di desa
Kalibukbuk, sekitar 10 km dari kota Singaraja, Bali. Di dalam
buku ini dirangkai kejadian-kejadian sekitar kehidupan I Gusti
Ketut Jlantik pendiri Puri tersebut berdasarkan cerita para
orang tua, baik yang berbentuk dokumen maupun secara verbal.
Sebuah nama seperti I Gusti Ketut Jlantik cukup populer, sudah
sering kita dengar atau ditemukan di berbagai sumber bacaan.
Jlantik juga sering ditulis Jelantik atau Djelantik bisa juga
Djlantik. Namun sosok ini yang juga bernama I Gusti Ketut
Jlantik, kiranya belum banyak kalangan yang mengetahuinya.
Dengan membaca riwayat hidup beliau dan mengaitkan dengan
peninggalan hasil karya nyata dari sepak terjang selama
hidupnya, sebagaimana disajikan dalam tulisan ini, diharapkan
akan terbentuk proses pengenalan dan pendekatan. Dengan demikian
akan dikenal I Gusti Ketut Jlantik yang satu ini secara
spesifik. Seperti kata orang, bahwa harimau tidak cuma seekor
dan tidak semua harimau belangnya sama..
|
|
PENGENALAN.
|
|

I Gusti Made Geriya isteri I |
I
Gusti Ketut Jlantik, generasi ke IX keturunan dalam
silsilah Ki Gusti Anglurah Panji Sakti lahir di desa Tukadmungga
pada tahun 1854. Pada
tahun 1875 I Gusti Ketut Jlantik ditinggal wafat oleh
ayahandanya, I Gusti Ketut Banjar, Sedahan Agung kerajaan
Buleleng di Singaraja.
|
| Ibunya,
Gusti Biang Kompyang Keramas yang janda, diambil sebagai isteri
oleh I Gusti Bagus Jlantik, yang tidak lain adalah kakak kandung
I Gusti Ketut Banjar almarhum. I Gusti Bagus Jlantik waktu itu
sebagai Punggawa Penarukan (1860-1880) yang kemudian merangkap
jabatan sebagai Patih Kerajaan Buleleng (1872-1887). Mereka
tinggal di Puri Kanginan beserta seluruh sanak keluarga. |
|
|
LANGKAH
KEHIDUPAN I GUSTI KETUT JLANTIK |
|

I Gusti Ayu Jlantik Anom anak
ke 1

I Gusti Ayu Kompyang isteri ke
2 |
Melirik
Desa Kalibukbuk. |
|
Sejak
muda I Gusti Ketut Jlantik sering ke desa Kalibukbuk. Kakak
tertuanya, yaitu I Gusti Putu Geria menjabat punggawa
Tukadmungga sejak 1883 -1890 yang lebih dahulu berusaha tani dan memiliki
secutak tanah di desa Kalibukbuk.
Dengan telah memiliki tanggung jawab
sebagai kepala keluarga, I Gusti Ketut Jlantik mulai tertarik
untuk bertani di desa Kalibukbuk. Jaraknya sekitar 3 kilometer
di sebelah barat Desa Tukadmungga. Dari modal yang diberikan
ibunya, beliau membeli tanah tegal di sana. Beliau mulai menanam
tembakau, jagung, umbi-umbian dan kemudian pohon kelapa.
I
Gusti Ketut Jlantik terus menekuni usaha pertanian. Karena
asiknya beliau sampai berbulan-bulan lamanya tidak pulang ke
Puri Kanginan. Kalau nanti dapat untung, demikian kata beliau
kepada isterinya, uangnya akan dipakai untuk membeli kuda.
Mengapa kuda, isterinya bertanya. Untuk kelancaran mengangkut
hasil taninya.
Rupanya langkah itu memang sangat tepat. Angkutan
adalah sarana penting dalam berusaha. Disamping itu pula beliau
bisa ikut dalam sekaha “mableseng”, yaitu kumpulan kusir
kuda beban atau “pekatik jaran” seperti pengalu. Beliau
mengangkut hasil pertanian seperti padi, kelapa, jagung dan
hasil lainnya memakai kuda dari desa ke desa dengan menerima
upah. |
| |
Membangun
Pura.
|
|

I Gusti Ayu Sasih anak ke 2 |
Beliau sangat bersukur karena merasa usaha
taninya berhasil. Untuk itu beliau membangun beberapa pelinggih
di suatu bukit kecil di hulu tegalnya yang kemudian berkembang
menjadi sebuah Pura. Pura itu sekarang sebagai salah satu kayangan desa
Kalibukbuk dan dikenal dengan nama Pura Bukit Sari. Tidak jauh dari Pura
Sari tersebut beliau mendirikan pondok di
atas tanah tegalan untuk tempat tinggal. Semenjak itu beliau menetap di desa Kalibukbuk.
Apalagi ada saudara sepupu beliau yaitu I Gusti Putu Selat yang
juga dari
Puri Tukadmungga membeli tegal dan bertani di desa itu.
Suka duka
sebagai petani. |
|

Gusti Biyang Made Saji isteri
ke3

I Gusti Bagus Weda Tarka anak
ke 3

Jero Sekar isteri ke 4
|
| Diceritakan
selanjutnya, pada suatu hari beliau pernah nanggap upah
“mebleseng”, yaitu mengangkut padi dengan kudanya. Kali ini
bukan di pedesaan tetapi di dalam kota Singaraja, yaitu dari
subak Tegal ke Banjar Lobong melewati jalan di sebelah Puri
Kanginan. Dengan kudanya beliau mengangkut padi beberapa kali
bolak balik melalui jalan itu. Beliau waktu itu memakai pakaian pengalu,
lengkap dengan udeng dan bertopi capil untuk menahan terik
matahari. Namun rupanya ada
sesesorang yang mengenali beliau. Orang itu lalu menghadap Ratu
Punggawa yang tidak lain adalah I Gusti Nyoman Raka kakak
beliau yang sedang istirahat di dalam gedong Puri Kanginan.
Mendengar laporan tersebut Ratu Punggawa masih ragu
apakah benar yang dilaporkan itu adiknya. Memang benar sudah lama adik
bungsunya ini tidak pernah pulang ke puri Kanginan, semenjak
menekuni pekerjaan tani di desa Kalibukbuk. Lalu beliau bergegas
menunggu
di pintu luar Puri untuk melihat apakah yang dimaksud itu
benar-benar adiknya sendiri.
Sekembalinya
dari Banjar Lobong, I Gusti Ketut Jlantik ditegur oleh kakaknya.Yang ditegur pun berhenti di samping kudanya. Setelah adu
pandang sejenak sang adik menghampiri dan memberi hormat pada
kakaknya yang punggawa. Mereka berdua lalu berpelukan disaksikan
oleh parekan di sekitarnya.
Diceritakan
juga mengenai putri beliau, I Gusti Ayu Jlantik yang perwatakannya
maupun perawakannya seperti anak laki-laki. Beliau ikut ayahnya
berkebun, membajak, mencangkul. Bahkan waktu musim kemarau
beliau giat memikul air di pundaknya untuk
menyiram tembakau di tegal, seperti laki-laki sungguhan. Ayah dan bundanya selalu memakai
perhitungan dan mendidiknya untuk menabung. Pada suatu hari
sedang panas di tempat orang ramai ada orang
yang menjual minuman cendol. I Gusti Ayu Jlantik yang
masih remaja ini ingin membeli cendol, tetapi dilarang ibunya.
Karena terus merengek maka beliau dihukum pukul (tigtig) oleh
ibunya di tempat orang banyak. Maksudnya agar si anak bisa
menahan diri agar tidak semaunya berbelanja.
|
|
Baca
terus riwayat I Gusti Ketut Jlantik >>>
|
|
|
|
Copyright
© 2004 by Wedatamanugraha. All rights reserved.
Mail: admin@buleleng.com
Revised: February 26, 2005 |
| |