|
Seperti
tercatat di dalam sejarah, bahwa sejak tahun 1849 wilayah
kerajaan Buleleng berada dibawah kekuasaan pemerintahan kolonial
Belanda dengan jatuhnya benteng
Jagara.
Sejak itu kekuasaan raja Karangasem pun sirna dari bumi
Buleleng. Suksesi kepemimpinan lokal di Buleleng masih tetap
berlanjut seperti sediakala. Hanya tanpa kehadiran
pejabat dari Karangasem.
Waktu
itu pemerintahan kerajaan Buleleng masih dalam proses transisi.
Beberapa raja pernah diangkat oleh Belanda, namun tidak lama lalu dicopot dari
tahta, malahan di hukum oleh pemerintah kolonial Belanda karena
menolak diajak kerjasama.
Secara suksesi I Gusti Ketut Jlantik diangkat
sebagai penguasa lokal, punggawa kota Buleleng sejak 1898,
waktunya bertepatan dengan penerapan politik Belanda yang makin
lunak dengan “ethische politiek” atau politik ber-etika di
Indonesia setelah berlakunya “cultuurstelsel” yang mendapat
kritik secara luas. Kebijakan baru ini memberi peluang lebih
besar kepada tokoh “pribumi” untuk mengatur pembangunan di
wilayahnya. Demikian juga di Buleleng. Kesempatan ini digunakan
oleh I Gusti Ketut Jlantik dengan membangun kehidupan yang lebih
baik bagi masyarakat. Hasil pembangunan yang baliau gagas beliau
antara lain:
1.
Membangun Jalan Raya Singaraja-Kalibukbuk
Beliau mulai merencanakan membuat jalan lintas Utara, memanjang
dari Singaraja sampai ke desa Kalibukbuk. Rencana tersebut
mendapat dukungan dari masyarakat waktu itu. Ratusan orang
setiap hari turun “ngayah”, membongkar dan menimbun tanah
untuk jalan dari desa Banyumala lurus ke desa Kalibukbuk yang
sekarang dikenal sebagai jalan Singaraja - Seririt.
Di palemahan desa Pemaron banyak pohon bambu dan pohon
kayu yang besar-besar. Pohon-pohon ini ditebang untuk keperluan
jalan baru tersebut. Tebangan kayu yang banyak itu kemudian
dibagi-bagikan di antara para pengayah dan dibawa pulang untuk
dibuat perkakas rumah dan alat pertanian. Perbuatan ini
menimbulkan suatu akibat yang kurang baik. Para pengayah banyak
yang jatuh sakit yang tidak jelas jenis penyakitnya.
Termasuk I Gusti Ketut Jlantik juga terkena penyakit yang aneh.
Setelah ditanyakan kepada seorang balian, ternyata beliau
disalahkan atau kesisipang oleh Betara “sang menduwe jagat”
disana. Kesalahan itu disebut juga “kepongor”. Setelah
mempersembahkan upacara guru piduka dan mengembalikan semua
kayu-kayu baik yang masih gelondongan maupun yang sudah berupa
perabotan ketempatnya semula, barulah para pengayah berangsur
sembuh. Demikian pula I Gusti Ketut Jlantik kembali sembuh dari
sakit.
Singkat
cerita, jalan yang baru dibuat itu, dinamai Margi Anyar,
akhirnya dapat tembus sampai ke desa Kalibukbuk. Setelah itu
diajarkan di sekolah bahwa dari Singaraja mengarah ke Barat,
desa yang pertama dijumpai adalah Kalibukbuk. Sedangkan waktu
dahulu sebelum jalan ini dibuat, dikatakan bahwa dari Singaraja
mengarah ke Barat desa yang dijumpai adalah Bangkang, Galiran,
Pemaron, Tukadmungga, Anturan, Celukbuluh, Banyualit dan barulah
akhirnya sampai di Kalibukbuk. Jalan yang lama disebut Margi
Lawas atau Rurung Buwuk.
2.
Memugar Puri Singaraja Tahun 1902.
Ibunya
I Gusti Ketut Jlantik wafat pada tahun 1902. Seluruh keluarga
besar hanyut dalam belasungkawa. Jenazah I Gusti Nyoman Raka,
dewata geseng, sejak 1898 masih terbaring di Bale Ageng. Sekarang menyusul
sang Ibu. Upacara besar sudah terbayang nyata, yaitu upacara
pelebon. I Gusti Putu Geria segera pulang dari Lombok untuk
merundingkan upacara pelebon dan segala sesuatu yang terkait.
Rundingan keluarga akhirnya menelorkan kesepakatan mengejutkan.
Puri Kanginan dipugar dan harus selesai sebelum upacara pelebon.
Pekerjaan yang cukup besar dilaksanakan beberapa bulan lamanya.
Setelah upacara pemelaspas selesai, maka upacara pelebon yang
besar itu diselenggarakan pada hari Jumat Pon, Wuku Ukir pada
tanggal 12 September 1902.
|