Jelantik

Logo Ayodya

Lovina Beach Hotel

Lovina Beac Hotel

HOME PAGE

SEJARAH

BULELENG

PURI KANGINAN

SANGGAR SENI

DESA KALIBUKBUK

SITUS ARKEOLOGI

   Halaman 1     Halaman 5

MENGENANG

I GOESTI KETOET DJLANTIK

(1854 - 1916)

   Perayaan 100 Tahun
   Halaman 2    Halaman 6

   Museum Puri Ayodya

   Halaman 3       Foto Gallery
   Halaman 4  

    Kirim Saran dan Kritik

 

Latar belakang sejarah.

Ki Gusti Anglurah Panji Sakti pada  

abad ke 17 menyatukan seluruh wilayah Denbukit dengan nama kerajaan Buleleng dan beliau menjadi raja Buleleng I. Namun sejak tahun 1780 kerajaan Buleleng dapat dikuasai dan diperintah oleh raja asal Karangasem. Kemudian tahun 1849 tentara Belanda mulai menaklukkan Buleleng setelah berhasil menghancurkan Benteng Jagaraga. Kekuasaan raja Karangasem di Buleleng juga berakhir. Proses transisi yang cukup rumit pun terjadi di Buleleng.

Pemerintah kolonial Belanda waktu

 itu beberapa kali mengangkat raja di Buleleng namun gagal, malahan raja diturunkan dari tahta dan dihukum buang (ekstradisi). Patih I Gusti Bagus Jlantik ditunjuk sebagai calon raja (regent), tetapi Belanda menerapkan "direct rule" atau pemerintahan langsung dibawah asistent resident. Walaupun demikian, suksesi dinasti  Ki Gusti Anglurah Panji Sakti terus berlanjut seperti sediakala.

 Baca Sejarah  Buleleng >>>

 

<<HALAMAN 3 >>

3. Membentuk Pemerintahan Desa di Kalibukbuk.

Walaupun I Gusti Ketut Jlantik sebagai punggawa dan harus tinggal di kota, pikirannya selalu berada di desa Kalibukbuk. Malahan beliau bermaksud menjadikan Kalibukbuk sebagai desa yang lengkap dengan pura atau kayangan desa, pemerintahan serta wewidangan desa.

Kebetulan beliau memiliki sebidang tanah yang berisi pohon buah-buahan terletak di kota Singaraja. Tanah ini, yang berlokasi di sebelah utara jalan, sekarang bernama Jalan Veteran diambil oleh pemerintah karena diperlukan untuk perluasan areal perkantoran. I Gusti Ketut Jlantik minta kepada pemerintah agar tanah tersebut ditukar saja dengan tanah pemerintah yang ada di Kalibukbuk. Maka pada tahun 1902 oleh pemerintah beliau diberikan tanah tegalan di desa Kalibukbuk itu sebagai tukaran. Tanah itu terletak memanjang di sebelah Utara dan Selatan memotong jalan yang baru di sebelah Timur pasar. Karena makin banyak penduduk yang datang menetap di desa itu, maka perlu diangkat kelian atau kepala desa. Pada hari yang ditentukan diangkatlah seorang kelian yang bernama I Wayan Dresna. Untuk tempat tinggal kelian desa, istilah dulu kelian Teruna, I Gusti Ketut Jlantik menyerahkan sebagian tanah tukaran itu kepada keluarga yang diangkat sebagai  kelian desa. Tanah itu sekarang dikenal sebagai tanah pekaranga desa.

Kemudian I Nengah Kertiana beserta ibunya diberikan tempat tinggal di pekarangan desa itu juga yang kemudian pada waktunya diangkat sebagai kelian desa Kalibukbuk menggantikan kelian yang lama.

4. Membangun Puri di Kalibukbuk.

 

gate

Sebuah pemedal di Puri Ayodya Kalibukbuk

I Gusti Ketut Jlantik pada tahun 1903, tepatnya tanggal 8 April membeli tegal disebelah Utara jalan baru atau margi anyar dari seorang bernama Akib bin Hadji Djafar asal Kampung Bugis. Di tanah tegal itu beliau mendirikan puri. Bentuk puri pada mulanya masih darurat, karena puri lama yang di dekat Pura Sari masih baik. Puri ini kemudian pada tahun 1908 mulai dipugar. Membangunnya memakan waktu cukup lama karena ada kesibukan untuk masyarakat. Seleasi tahun 1911. 

Pada jaman revolusi kemerdekaan Puri ini pernah dipakai sebagai tempat informasi para pemuda pejuang. Kemudian diduduki tentara KNIL beberapa lamanya.

Mulai tahun 1975 sampai 1990 pernah dipakai sarana hotel dalam usaha merintis kepariwisataan di wilayah ini dengan nama Ayodya Accommodation. Nama Ayodya Accommodation pernah melambung karena dalam sebuah buku guide oleh penulisnya Tony Wheeler disebut sebagai the best small hotel in the world.

Baca terus riwayat I Gusti Ketut Jlantik >>>

 

 

Copyright © 2004 by Wedatamanugraha. All rights reserved.
Mail: admin@buleleng.com Revised: February 26, 2005