|
Latar
belakang sejarah.
Ki
Gusti Anglurah Panji Sakti pada
abad
ke 17
menyatukan seluruh wilayah Denbukit dengan nama
kerajaan Buleleng dan beliau menjadi raja Buleleng I. Namun
sejak tahun 1780 kerajaan Buleleng dapat dikuasai dan
diperintah oleh raja asal Karangasem. Kemudian tahun 1849
tentara Belanda mulai menaklukkan Buleleng setelah berhasil
menghancurkan Benteng Jagaraga. Kekuasaan raja Karangasem di
Buleleng
juga
berakhir.
Proses
transisi yang cukup rumit pun terjadi di Buleleng.
Pemerintah
kolonial Belanda waktu
itu
beberapa kali mengangkat raja di Buleleng namun gagal, malahan
raja diturunkan dari tahta dan dihukum buang
(ekstradisi). Patih I Gusti Bagus Jlantik ditunjuk
sebagai calon raja (regent), tetapi Belanda menerapkan
"direct rule" atau pemerintahan langsung dibawah asistent
resident. Walaupun demikian, suksesi dinasti Ki Gusti Anglurah Panji Sakti terus berlanjut
seperti sediakala.
Sejarah
Buleleng>>> |
|
5. Relokasi Kuburan Desa Buleleng.
Pada
waktu dahulu, tahun 1840an, sebelum wilayah kerajaan Buleleng dipegang oleh
pemerintah Belanda, masih menyatu dalam kerajaan Bali, kuburan
Buleleng belum ada di tempat yang sekarang. Waktu dahulu
kuburan tersebut masih berada diwilayah desa Banyuning
(Buleleng), kira-kira 500 meter di sebelah Timur tukad
Buleleng, tepatnya di sebelah Barat desa Banyuning, di sebelah
Utara jalan (margi anyar). Perlu diceritakan bahwa jalan
Singaraja - Banjar Jawa - Pabean, keadaannya belum seperti
sekarang, masih seperti perbukitan. Keadaan jalan itu
masih tinggi yaitu sama tinggi dengan tanah halaman pura Dalem
dan sama tinggi dengan halaman perumahan di banjar Penataran,
Delodpeken dan sekitarnya. Keadaan jalan waktu itu berundag
berbatu-batu dan bertingkat-tingkat. Hanya bisa dilalui
pejalan kaki atau kuda.
Bilamana ada anggota masyarakat yang mengubur mayat dari desa Buleleng,
mereka harus menyusur jalan yang berudag itu.Dari depan
pura Dalem tepat di sebelah pohon asem kembar, membelok
melintasi lereng hutan jati (nepos-nepos) kearah Timurlaut. Setelah
menuruni tebing dan menyeberangi tukad Buleleng kemudian naik
lagi dan akhirnya barulah mencapai kuburan yang berlokasi di
Banyuning dimaksud.
Berhubung tukad Buleleng itu seringkali airnya besar
dan kadang-kadang juga banjir mengakibatkan sulitnya
masyarakat Buleleng menyeberang ke Banyuning, apalagi dalam
upacara mengubur mayat. Oleh karena itu masyarakat krama
Buleleng berusaha agar kuburan yang di Banyuning itu bisa di
pindahkan supaya dekat dengan Pura Dalem yang sudah ada.
Pekerjaan tersebut kemudian dilaksanakan dan dipimpin
oleh I Gusti Ketut Djlantik.
Jero Mangku Kenuh dari banjar Penataran, yaitu
pemangku pura Dalem itu juga menyerahkan tanah untuk kuburan
tersebut kepada krama desa Buleleng. Jero Mangku Kenuh tinggal
di tanah miliknya itu dan tanahnya cukup luas. Tidak
dijelaskan apakah tanah tersebut ditukar atau di beli, apakah
diserahkan begitu saja tidak didapat keterang jelas. Areal
kuburan pada permulaannya belum seluas sekarang.
|
|
Komentar:
Entah
motivasi dari mana, pekerjaan perbaikan Pura Dalem sedang
berlangsung. Para undagi sedang giat bekerja dengan tenaga
krama dari pelosok desa .Seperti tiba-tiba ada pekerjaan
lain dikejar. I Gusti Ketut Jlantik tanggal 10 Nopember 1909
memulai pembuatan jalan raya yang berada di depan Pura Dalem
tersebut. Sudah jelas memerlukan lagi tenaga manusia. Alat2
besar jaman itu tidak ada.
Pada
jaman itu Buleleng sangat menarik bagi pencari kerja dari Bali
Selatan karena Buleleng sedang menyongsong era
transportasi modern, yaitu kendaraan bermotor (ranmor= run
more) dan ekonomi sedang membaik dengan adanya pelabuhan Buleleng.
Pada
waktu upacara pamelaspas di rayakan bersamaan waktunya dengan
selesainya jalan
raya. Yaitu 7 Oktober 1911.Luar biasa!
|
6.
Memugar Pura Dalem Desa Buleleng.
Pada tahun 1906, dipimpin oleh I Gusti Ketut
Djlantik, disertai oleh Klian Desa Adat Buleleng I Ketut Badung
dari Banjar Paketan diadakan pemugaran semua pelinggih Batara di
pura Dalem. Tentu saja sebelumnya sudah dilakukan upacara
Maturun Hyang (Matunyang), mohon petunjuk Batara. Setelah
mendapat panugrahan maka upacara Pangeruwak di mulai tanggal 8
Juni 1906, yaitu Sukra-Umanis-Merakih panglong apisan sasih ka
pitu. Pekerjaan tersebut melibatkan tukang, undagi dan pengayah
dari seluruh distrik di wilayah Buleleng.
Acara Pamelaspas di tentukan tanggal 7 Oktober 1911
(Caniscara Pon Ugu Tanggal 14 sasih ka pat).
Sehari sebelum upacara resmi pada pagi-pagi buta
memotong kerbau 2 ekor, babi 3 ekor. Acara ini khusus untuk
menjamu masyarakat dan krama desa dan banjar dari 4 wilayah
distrik (sekarang kecamatan), berjumlah ratusan orang yaitu
termasuk mereka yang dengan segala tenaga ikut mengerjakan
perbaikan jalan. Mereka dijamu sepuas-puasnya. Sore harinya, Ida
Batara masucian ke Mumbul.
Tanggal 7-10-1911. Permulaan Upacara. Nampah kebo
yusbrana 1. Kebo anggrek bulan 1, Dangsil 5 – yang 3 untuk di
dalam (jeroan) dan 2 lagi di bencingah (jaba). Yang di halaman
dalam diletakkan di tangga pura, yang di halaman luar (jaba) di
letakkan di sebelah menyebelah candi bentar. Titimahmah kebo
yosbrana ditanam dihalaman bencingah pada
hari Minggu/Redite Wage Wayang (tanggal 8-10-1911. Banten
caru ditaruh di perempatan agung atau yang disebut catus pata
terus ke kuburan (setra). Di halaman luar pura ada sebuah
panggung untuk sekar sepasang. Selanjutnya acara persembahan
gong dan tartarian.
Gong gede dari desa Bakung, persembahan I Gusti Bagus
Cakratanaya Punggawa Sukasada.
Gong gede dari banjar Peguyangan Buleleng.
Gong gede dari desa Petandaka, persembahan para
sekeha sendiri.
Diadakan upacara Ider Gita. Para pedanda yang ikut
muput karya Ida Pedanda Putu Kamenuh pensiun Kerta dari Griya
Sukasada, Ida Pedanda Putu Geria Lid Kerta dari Griya Sukasada.
Malam harinya tari-tarian.
Tanggal 8 dan 9-10-1911 Pakang Raras dari Uma-abian
Tabanan, persembahan I Ketut Sandi dari Banjar Penataran.
Tanggal 9 dan 10-10-1911 Pakang Raras saking
Kalopaksa aturan Ida Bagus Surya Griya Bubunan.
Tanggal 10 dan 11 –10-1911 Tantri saking Buleleng.
|