| |
|
Latar
belakang sejarah.
Ki
Gusti Anglurah Panji Sakti pada
abad
ke 17
menyatukan seluruh wilayah Denbukit dengan nama
kerajaan Buleleng dan beliau menjadi raja Buleleng I. Namun
sejak tahun 1780 kerajaan Buleleng dapat dikuasai dan
diperintah oleh raja asal Karangasem. Kemudian tahun 1849
tentara Belanda menaklukkan Buleleng setelah berhasil
menghancurkan Benteng Jagaraga. Kekuasaan raja Karangasem di
Buleleng
juga
berakhir.
Proses
transisi yang cukup rumit pun terjadi di Buleleng.
Pemerintah
kolonial Belanda waktu
itu
beberapa kali mengangkat raja (regent) di Buleleng namun gagal, malahan
raja diturunkan dari tahta dan dihukum buang
(ekstradisi). Patih I Gusti Bagus Jlantik ditunjuk
sebagai calon raja (regent), tetapi Belanda menerapkan
"direct rule" atau pemerintahan langsung dibawah
asistent resident Walaupun demikian, suksesi dinasti Ki Gusti Anglurah Panji Sakti terus berlanjut
seperti sediakala.
Baca Sejarah
Kerajaan Buleleng >>> |
|
6.
Membuat Jalan Raya .
Bersamaan waktunya dengan pemugaran pura Dalem,
pekerjaan besar lainnya menyusul. Yaitu tanggal 10 Nopember
1909, pekerjaan pembangunan jalan dari depan puri Kanginan -
Penataran – Banjar Petak mulai dilaksanakan. Sebagaimana
telah diceritakan di awal, jalan yang keadaannya tinggi dan
berundag-undag berbatu, secara besar-besaran dikerjakan di
bawah pimpinan I Gusti Ketut Djlantik. Pekerjaan itu tanpa
peralatan mesin ataupun ekskavator, hanya tenaga masyarakat
krama dari desa Buleleng dan sekitarnya. Tanah sepanjang jalan
itu dibongkar dan ditarik ke Utara beramai-ramai oleh pengayah
/ krama dari distrik Buleleng, Sukasada, Jinengdalem, Sawan
dan distrik lainnya. Sukurlah ada aliran air berlimpah waktu
itu. Dengan cara yang cerdik I Gusti Ketut Djlantik memimpin
dengan cara tanah yang ber-ribu-ribu meter kubik didorong
dengan mempergunakan tenaga air. Aliran lumpur dan tanah itu
di belokkan ke arah Timur dan diceburkan ke tukad Buleleng. Di
depan Pura Dalem banyak pengayah yang cedera, bahkan konon ada
yang terluka karena kena duri gesing, tertimpa pohon dan
sebagainya. Pembangun jalan tetap diteruskan karena dianggap
penting. Sebagai pusat pemerintahan kota Singaraja harus siap
menyongsong era transportasi modern, yaitu masuknya kendaraan
ber-roda (mobil). Dengan kondisi jalan seperti semula tentu
tidak mungkin.
Akhirnya
selesailah jalan tersebut pada tanggal 21 Pebruari 1910. Jalan
yang bekasnya berundag dan berbatu itu sekarang sudah berubah
menjadi jalan yang lurus dan landai, mulai dari Pura Desa
Buleleng menurun kearah Banjar Jawa. Waktu itu bernama
Wilhelmina Straat. Dengan adanya jalan baru ini tanah
pekarangan rumah penduduk dan halaman pemedal Pura Dalem
menjadi jauh lebih tinggi dari jalan seperti yang kita lihat
sekarang. Saluran bekas mengalirkan lumpur dan tanah menjadi
jalan baru, seperti kita lihat di pertigaan Banjar Petak,
yaitu jalan yang menuju ke Timur mengarah desa Banyuning.
|
|
Komentar:
Entah
motivasi dari mana, pekerjaan perbaikan Pura Dalem sedang
berlangsung. Para undagi sedang giat bekerja dengan tenaga
krama dari pelosok desa .Seperti tiba-tiba saja pekerjaan
lain dikejar. I Gusti Ketut Jlantik tanggal 10 Nopember 1909
memulai pembuatan jalan raya yang berada di depan Pura Dalem
tersebut. Sudah jelas memerlukan
lagi tenaga manusia. Alat2 besar jaman itu tidak ada.
Pada
jaman itu Buleleng sangat menarik bagi pencari kerja dari Bali
Selatan karena Buleleng sedang menyongsong era
transportasi modern, yaitu kendaraan bermotor (ranmor= run
more) dan ekonomi sedang membaik dengan adanya pelabuhan
Buleleng.
Pada
waktu upacara pamelaspas di rayakan bersamaan waktunya dengan
selesainya jalan
raya. Yaitu 7 Oktober 1911.Luar biasa!

Pura
Dalem tahun 2002

Pura Dalem tahun 1911

Seni gamelan, gong gender,
seni tari dll

Gambar
diatas adalah duplikat dari bangunan Museum Buleleng. Bangunan
tersebut dibuat untuk ikut Koloniale Tentoonstelling
tahun 1914 di kota Semarang. |
Waktu
itu yang menjadi resident H.W. Veenhuyzen. Jalan ini waktu dulu
pernah diberi nama Djelantik Weg (Jalan Jelantik) untuk
mengenang hasil kerja Punggawa I Gusti Ketut Djlantik. (Yang
dimaksud bukan I Gusti Ketut Djlantik Patih Buleleng dalam
perang Jagaraga).

Jalan
Gajah Mada jaman millineum 2000
8.
Membangun Tembok Panyengker di Pamerajan Panji.
Pamerajan peninggalan leluhur Ida Ki Gusti
Anglurah Panji Sakti yang terletak di desa Panji sebelumnya
keberadaan pagar batas halamannya kurang terpelihara sehingga
pernah menjadi tempat mengembala ternak. Atas kesadaran itu I
Gusti Ketut Jlantik memprakarsai membuat tembok halaman merajan
tersebut dengan tanah yang disebut tembok papolpolan.
Lagipula waktu itu I Gusti Ketut Jlantik mohon
petunjuk dan keselamatan dari leluhur karena banyak pekerjaan besar yang
sedang beliau tangani saat itu.
Setelah selesai lalu mengadakan upacara pada hari
piodalan, 18 Agustus 1909. Ikut hadir dalam upacara tersebut
keluarga besar termasuk puri Sukasada juga hadir.
9.
Membangun Sekolah di Kalibukbuk
Mulai tahun 1910 terjadi gerakan pendidikan
untuk rakyat. Di seluruh pelosok tanah air dibangun sekolah
rendah untuk masyarakat. Demikian juga I Gusti Ketut Jlantik,
tahun 1914 tergerak hatinya dan membuat sebuah Sekolah Rendah di
desa Kalibukbuk dan sekali gus menyumbangkan tanah
pekarangannya. Gurunya yang di kenal antara lain Guru Made Dira
dari Banjar Tengah Singaraja yang kemudian menetap di desa
Kalibukbuk. Namun tahun 1938 sekolah tersebut dipindah ke arah
timur 2 km yaitu di Kubu Gembong, di lokasi Puskesmas
sekarang.
10.
Membangun Kesenian.
I
Gusti Ketut Jlantik ternyata cukup lama sebagai punggawa
Buleleng, sejak 1898 sampai 1915 yang mendapat julukan punggawa
lingsir.
Pengembangan seni budaya terus dipacu dengan membentuk
sekeha yang disebut sekeha sebunan. Pergelaran dilaksanakan
secara berkala setiap hari raya 31 Agustus yang dikenal dengan
nama “raja kuning” (hari lahir “koningin” ratu Belanda)
seperti pementasan gambuh, barong dan rangda, gong kebyar,
sastra dan lainnya. Seni tabuh asli Buleleng, yang namanya gong kebyar berkembang pesat sehingga munculnya
nama-nama seniman besar seperti Pan Wanres, Gde Manik dan
lainnya. Tidak ketinggalan juga bidang seni suara dan sastra
Buleleng.
11.
Membangun Museum
Di kota Singaraja pernah berdiri sebuah bangunan yang
sangat indah dengan arsitektur antik beratap ijuk dengan berukir
cat perada emas. Maka dikenal dengan nama Bale Mas. Bangunan
tersebut terletak di dekat jalan raya dan di sebelah timur
Gedung Kertya sekarang. Waktu itu Gedong Kertya belum ada. |
|
Ternyata bangunan tersebut adalah sebuah Museum, tempat
menyimpan dan memajang barang-barang kuno dan hasil kerajinan
masyarakat Buleleng. Museum tersebut dibuka untuk pelancong, itu
istilah jaman dulu yang bearti turis atau wisatawan. Sangat
disayangkan pada tahun 1929 bangunan tersebut dipindahkan ke
Denpasar disatukan dengan Museum Bali. |
|
Tahun
1914 di kota Semarang ada pameran akbar kesenian dan kebudayaan
yang waktu itu disebut Koloniaale Tentoonstelling yang diikuti
oleh seluruh daerah di Indonesia yang dulu bernama Hindia
Belanda. Residentie Bali en Lombok diwakili oleh onder-afdeeling
Buleleng. Pameran tersebut dibuka oleh Sri Sasuhunan Pakubuwono
X. Dalam kesempatan itu I Gusti Ketut Jlantik sempat diundang
ke keraton Surakarta. Dari sana beliau membawa pulang beberapa
cendramata sebagai kenang-kenangan. |
|
Baca
Terus Riwayat I Gusti Ketut Jlantik>>>.
|
|
Kirim
Saran atau Kritik >>>
|
|
Copyright
© 2004 by Wedatamanugraha. All rights reserved.
Mail: admin@buleleng.com
Revised: February 26, 2005 |
| |