|
HALAMAN - 1 - 2 - 3 - 4 - 5 - 6 - 7 - 8 - 9 - 10
|
|
|
|
I Gusti Ketut Jelantik ternyata cukup lama sebagai punggawa Buleleng, sejak 1898 sampai
1915 yang mendapat julukan punggawa lingsir. Pengembangan seni budaya terus dipacu
dengan membentuk sekeha yang disebut sekeha sebunan. Pergelaran dilaksanakan secara
berkala setiap hari raya 31 Agustus yang dikenal dengan nama “raja kuning” (hari lahir
“koningin” (ratu) Belanda) seperti pementasan gambuh, barong dan rangda, gong kebyar,
sastra dan lainnya. Seni tabuh asli Buleleng, yang namanya gong kebyar berkembang pesat
sehingga munculnya nama-nama seniman besar seperti Pan Wanres, Gde Manik dan
lainnya. Tidak ketinggalan juga bidang seni suara dan sastra Buleleng. Di halaman Puri
Kanginan secara rutin juga diadakan pergelaran seni budaya menampung kreasi para
seniman..
Di kota Singaraja pernah berdiri sebuah bangunan yang sangat indah dengan arsitektur antik
beratap ijuk dengan berukir cat perada emas. Maka dikenal dengan nama Bale Mas.
Bangunan tersebut terletak di dekat jalan raya dan di sebelah timur Gedung Kertya
sekarang.. Waktu itu Gedong Kertya belum ada.
Bangunan tersebut ternyata adalah sebuah Museum, tempat menyimpan dan memajang
barang-barang kuno dan hasil kerajinan masyarakat Buleleng. Museum tersebut dibuka
untuk pelancong, demikian istilah jaman dulu yang berarti turis atau wisatawan.
Di kota Singaraja pernah berdiri
sebuah bangunan yang sangat
indah dengan arsitektur antik
beratap ijuk dengan berukir cat
perada emas. Maka dikenal dengan
nama Bale Mas. Bangunan tersebut
terletak di dekat jalan raya dan di
sebelah timur Gedung Kertya
sekarang.. Waktu itu Gedong Kertya
belum ada.
Bangunan tersebut ternyata adalah
sebuah Museum, tempat
menyimpan dan memajang barang-
barang kuno dan hasil kerajinan
masyarakat Buleleng. Museum
tersebut dibuka untuk pelancong,
demikian istilah jaman dulu yang
berarti turis atau wisatawan.
Penari Gambuh Buleleng 1914 Foto di depan kori agung Puri Kangninan.
|
Membangun Kesenian Buleleng
|
|
|
Membangun Museum Buleleng
|
|
|
Museum Buleleng dilihat dari samping timur
|
Sangat disayangkan pada tahun 1929 bangunan tersebut dipindahkan ke Denpasar
disatukan dengan Museum Bali. Sebagai gantinya dibangun Gedung "Liefring van der
Tuuk" yang sekarang dikenal sebagai "Gedong Kirtya"
Museum Buleleng dilihat dari depan
|
I Gusti Ketut Jelantik membawa rombongan besar kesenian ke kota Semarang tahun 1914.
Tahun 1914 di kota Semarang ada pameran akbar kesenian dan kebudayaan yang waktu
itu disebut Koloniaale Tentoonstelling yang diikuti oleh seluruh daerah di Indonesia yang
dulu bernama Hindia Belanda. Wilayah Residentie Bali en Lombok diwakili oleh
onder-afdeeling Buleleng. Pameran yang digelar di Semarang tersebut secara seremonial
dibuka oleh Sri Sasuhunan Pakubuwono X. Dalam tugasnya memimpin misi kesenian ke
Jawa, I Gusti Ketut Jelantik sempat diundang ke keraton Surakarta. Dari sana beliau
membawa pulang beberapa cendramata sebagai kenang-kenangan..
Menyelenggarakan Pameran Budaya.
|
|
|
Tahun 1914 di Semarang diselenggarakan pameran kolonial, bertajuk Kolonialle Tentoonstelling. Konon pasar malam ini adalah pasar Malem terbesar yang pernah digelar pemerintah kolonial di Indonesia. Tidak hanya terbesar di Indonesia, konon pameran ini termasuk 10 world expo terbesar di seluruh dunia pada eranya (th 1910-1920), setelah pameran ini, belum pernah diselenggarakan lagi world expo di Indonesia yang masuk dalam list terbesar di dunia.
|
|
PAMERAN AKBAR DI SEMARANG 1914
|