|
Latar
belakang sejarah.
Ki
Gusti Anglurah Panji Sakti pada
abad
ke 17
menyatukan seluruh wilayah Denbukit dengan nama
kerajaan Buleleng dan beliau menjadi raja Buleleng I. Namun
sejak tahun 1780 kerajaan Buleleng dapat dikuasai dan
diperintah oleh raja asal Karangasem. Kemudian tahun 1849
tentara Belanda menaklukkan Buleleng setelah berhasil
menghancurkan Benteng Jagaraga. Kekuasaan raja Karangasem di
Buleleng
juga
berakhir.
Proses
transisi yang cukup rumit pun terjadi di Buleleng.
Pemerintah
kolonial Belanda waktu
itu
beberapa kali mengangkat raja (regent) di Buleleng namun gagal, malahan
raja diturunkan dari tahta dan diadili lalu dihukum buang (ekstradisi).
Patih I Gusti Bagus Jlantik ditunjuk sebagai calon raja
(regent), tetapi Belanda menerapkan "direct rule"
atau pemerintahan langsung dibawah asistent resident. Walaupun demikian, suksesi dinasti Ki Gusti Anglurah Panji Sakti terus
berlanjut
seperti sediakala.
Baca Sejarah
Kerajaan Buleleng >>>
Satu
keistimewaan I Gusti Ketut Jlantik, yaitu tidak
senang memakai tanda pangkat dan tanda kehormatan pemerintah
waktu itu. Kurang
kemauan untuk tampil pada acara resmi. Kesukaan beliau adalah
bekerja di tengah rakyat.
|
|
AWAL
PARIWISATA DI BULELENG.
Pada
tahun 1906 I Goesti Ketoet Djlantik Punggawa Kota Singaraja
mendapat kehormatan naik keatas kapal perang Belanda di
pelabuhan Buleleng. Sempat beliau menerima kunjungan seorang
anggota parlemen Belanda H.H. van Kol yang datang khusus
meninjau pulau Bali sekaligus sebagai turis pertama. Walaupun
situasi Bali masih sedang bergejolak, yaitu terjadinya
peristiwa Puputan Badung – Mengwi dan Kelungkung namun
Meneer van Kol tidak dapat membendung niatnya mengunjungi
Bali. Sepulang ke Belanda beliau banyak menulis mengenai
keindahan alam dan kebudayaan Bali.

Setelah
kunjungan Meneer van Kol itu pembenahan prasarana umum di
Buleleng, khususnya di kota Singaraja, seperti jalan raya,
pasar Buleleng dan pasar Anyar sampai dengan pelabuhan
Buleleng.

Hendrikus Hubertus van
Kol (1852 – 1925) Seorang anggota parlemen Belanda yang
menentang cara-cara kolonialisme pemerintahnya. Dengan usaha
sendiri datang ke Bali melalui Pelabuhan Buleleng, sengaja
untuk secara langsung menyaksikan perlawanan rakyat Bali dalam
perang puputan Badung / Mengwi –Klungkung.
Beliau
banyak menulis tentang Bali dan Indonesia, antara lain: Driemaal
dwars door Sumatra en zwerftochten door Bali (1914) (Tiga kali
melintas Sumatra dan petualangan di Bali (1914)
|
AKHIR
SEBUAH KISAH
Pembangunan
terus dilanjutkan, namun mulai tahun 1915
beliau mulai sakit-sakitan. Beliau menderita sakit
gangguan pernapasan. I Gusti Ketut Jlantik wafat pada tanggal 14
Mei 1916 dalam umur 62 tahun. Ajal memang tidak mungkin bisa
ditebak namun yang mengejutkan adalah sehari kemudian tepatnya
tanggal 15 Mei 1916 kakak kandungnya, yaitu I Gusti Putu Geriya
menyusul. Dua jenazah kakak beradik berbaring bersebelahan di
Bale Ageng Puri Kanginan, menunggu upacara terakhir: Pelebon
yang kemudian dilaksanakan pada 24 Agustus 1917 di Puri Kanginan
Singaraja. |