|
|
|
|
|
|
Latar belakang sejarah. Ki Gusti Anglurah Panji Sakti pada tahun 1650an menyatukan seluruh wilayah Denbukit dengan nama kerajaan Buleleng dan beliau menjadi raja Buleleng I. Namun sejak tahun 1730 kerajaan Buleleng dapat dikuasai kerajaan Mengwi. Kerajaan Mengwi runtuh, sejak 1750 Buleleng kembali diperintah dinasti Ki Gusti Anglurah Panji sakti. Namun terjadi konflik intern. Kerajaan Karangasem masuk dan mengambil kekuasaan wilayah kerajaan Buleleng sejak 1780. Kemudian mulai tahun 1849 tentara Belanda menaklukkan Buleleng setelah berhasil menghancurkan Benteng Jagaraga. Kekuasaan raja Karangasem di Buleleng juga berakhir. Sistem pemerintahan mengalami perobahan di Buleleng dan proses transisi yang cukup rumit pun terjadi di Buleleng.
Pemerintah kolonial Belanda waktu itu beberapa kali mengangkat raja di Buleleng namun gagal, malahan raja diturunkan dari tahta dan dihukum buang (ekstradisi). Patih I Gusti Bagus Jlantik telah ditunjuk sebagai calon raja (regent), tetapi Belanda menerapkan "direct rule" atau pemerintahan langsung dibawah asistent resident. Walaupun demikian, suksesi dinasti Ki Gusti Anglurah Panji Sakti terus berlanjut seperti sediakala.
Baca Sejarah Buleleng >>>
|
|
|
|
|
 |
|
|
|
I Gusti Ayu Made Geria Isteri ke 1
|
|
|
|
|
|
 |
|
|
|
I Gusti Ayu Jelantik Anak ke1
|
|
|
|
|
|
 |
|
|
|
I Gusti Ayu Kompyang Isteri ke2
|
|
|
|
|
|
 |
|
|
|
I Gusti Ayu Made Sasih Anak ke2
|
|
|
|
|
|
 |
|
|
|
Gusti Biyang Made Saji Isteri ke3
|
|
|
|
|
|
 |
|
|
|
I Gusti Bagus Weda Tarka Anak ke2
|
|
|
|
|
|
 |
|
|
|
Jero Sekar Isteri ke4
|
|
|
|
|
|
|
|
RIWAYAT
|
|
|
|
 |
|
|
 |
|
|
|
|
|
|

Ibunya, Gusti Biang Kompyang Keramas tidak lama menjanda karena kemudian diambil sebagai isteri oleh I Gusti Bagus Jelantik, yang tidak lain adalah kakak kandung ayahnya. I Gusti Bagus Jelantik waktu itu sebagai Punggawa Penarukan (1860-1880) yang kemudian merangkap jabatan sebagai Patih Kerajaan Buleleng (1872-1887). Mereka tinggal di Puri Kanginan beserta seluruh sanak keluarga.
LANGKAH KEHIDUPAN I GUSTI KETUT JELANTIK Melirik Desa Kalibukbuk. Sejak muda I Gusti Ketut Jelantik sering ke desa Kalibukbuk. Sedangkan kakak tertuanya, I Gusti Putu Geria lebih dahulu berusaha tani dan memiliki secutak tanah di desa Kalibukbuk. Ketertarikan beliau kepada desa Kalibukbuk tidak terlepas dari cerita rakyat / legenda bahwa wilayah desa di tepi pantai itu punya sejarah berlapis yang cukup menarik. Konon di Kalibukbuk pernah berdiri sebuah kerajaan kecil yang makmur dengan hasil pertanian yang melimpah dengan pelabuhan perahu yang ramai. Namun karena diserang bajak laut dan diduduki oleh pendatang baru maka penduduk asli mengasingkan diri ke arah bukit. Orang asing itupun akhirnya diserbu pendatang lain. Sampai pada jaman Belanda, waktu perang perlawanan Banjar sekitar tahun 1870an, desa Kalibukbuk menjadi sepi, hanya dihuni beberapa keluarga.
MENJADI PETANI. Dengan telah memiliki tanggung jawab sebagai kepala keluarga bersama isteri, I Gusti Ayu Made Geria dan seorang putrinya, I Gusti Ayu Jelantik yang sedang tumbuh remaja, I Gusti Ketut Jelantik mulai berusaha untuk menghidupi keluarga dengan bertani di desa Kalibukbuk. Jaraknya sekitar 3 kilometer di sebelah barat Desa Tukadmungga. Dengan modal yang diberikan ibunya, beliau membeli tanah tegal di sana. Beliau mulai menanam tembakau, jagung, umbi-umbian dan kemudian pohon kelapa. I Gusti Ketut Jelantik terus menekuni usaha pertanian. Kelihatannya usahanya berhasil. Kalau nanti dapat untung, demikian kata beliau kepada isterinya, uangnya akan dipakai untuk membeli kuda. Mengapa kuda, isterinya bertanya. Untuk mengangkut hasil tani, jawabnya. Bukankah alat angkut itu penting demi kelancaran pemasaran hasil taninya? Keterangan itu langsung didukung sang istri.
|

Rupanya langkah itu memang sangat tepat. Angkutan adalah sarana penting dalam berusaha. Disamping itu pula beliau bisa ikut dalam sekaha “mableseng”, yaitu kumpulan kusir kuda beban atau “pekatik jaran” seperti pengalu. Beliau mengangkut hasil pertanian seperti padi, kelapa, jagung dan hasil lainnya memakai kuda dari desa ke desa dengan menerima upah.
|
MEMBANGUN PURA. Beliau sangat bersukur karena merasa usaha taninya berhasil. Untuk itu beliau membangun sebuah tempat pemujaan dengan beberapa pelinggih di suatu bukit kecil di hulu tegalnya yang kemudian berkembang menjadi sebuah Pura. Pura itu sekarang sebagai salah satu kayangan desa Kalibukbuk dan dikenal dengan nama Pura (Bukit) Sari. Disebelah utara Pura Sari beliau mendirikan pondok yaitu rumah sederhana dengan tembok tanah untuk tempat tinggal. Semenjak itulah (1878) beliau menetap di desa Kalibukbuk. Apalagi ada saudara sepupu beliau yaitu I Gusti Putu Selat yang juga dari Puri Tukadmungga membeli tegal dan bertani di desa itu. Noot: Lokasi bekas puri berada tepat pada lokasi Candi Buddha yang terdapat sekarang. Baca prihal Candi Budha Kalibukbuk (kilick)
|
SUKA DUKA SEBAGAI PETANI. Karena asiknya beliau menjalani kehidupan dalam dunia pertanian di desa, sampai berbulan-bulan lamanya tidak pulang ke Puri Kanginan. Diceritakan selanjutnya, pada suatu hari beliau pernah nanggap upah “mebleseng”, yaitu mengangkut padi dengan kudanya. Kali ini bukan di pedesaan tetapi di dalam kota Singaraja, mengangkut padi dari subak Tegal ke Banjar Lobong melewati jalan di sebelah Puri Kanginan. Bersama anggota pengalu dengan kudanya beliau beberapa kali bolak balik melalui jalan itu. Beliau waktu itu memakai pakaian pengalu, lengkap dengan udeng dan bertopi capil untuk menahan terik matahari. Namun rupanya ada sesesorang yang mengenali beliau. Orang itu lalu menghadap Ratu Punggawa yang tidak lain adalah I Gusti Nyoman Raka kakak beliau yang sedang istirahat di dalam gedong Puri Kanginan. Mendengar laporan tersebut Ratu Punggawa masih ragu apakah orang yang dilaporkan itu benar-benar adiknya. Memang sudah lama adik bungsunya ini tidak pernah pulang ke puri Kanginan, semenjak menekuni pekerjaan tani di desa Kalibukbuk. Lalu beliau bergegas menunggu di pintu luar Puri untuk melihat apakah yang dimaksud itu benar-benar adiknya sendiri. Sekembalinya dari Banjar Lobong, I Gusti Ketut Jelantik ditegur oleh kakaknya.Yang ditegur pun berhenti di samping kudanya dan mendongakkan kepalanya yang ditutupi destar dan capil. Terlihat Gusti Punggawa berdiri di ketinggian, di Lawangan Selatan (pintu selatan) Setelah adu pandang sejenak sang adik menghampiri dan memberi hormat pada kakaknya yang punggawa. Mereka berdua lalu berpelukan disaksikan oleh para abdi di sekitarnya. Diceritakan juga mengenai putri beliau, I Gusti Ayu Jelantik yang perwatakannya maupun perawakannya seperti anak laki-laki. Beliau ikut ayahnya berkebun, membajak, mencangkul. Bahkan waktu musim kemarau beliau giat memikul air di pundaknya untuk menyiram tembakau di tegal, seperti laki-laki sungguhan. Ayah dan bundanya selalu memakai perhitungan dan mendidiknya untuk menabung. Pada suatu hari sedang panas di tempat orang ramai ada orang yang menjual minuman cendol. I Gusti Ayu Jelantik yang masih remaja ini ingin membeli cendol, tetapi dilarang ibunya. Karena terus merengek maka beliau dihukum pukul (tigtig) oleh ibunya di tempat orang banyak. Maksudnya agar si anak bisa menahan diri agar tidak semaunya berbelanja.
|

PENGENALAN. I Gusti Ketut Jelantik, generasi ke IX dalam silsilah keturunan Ki Gusti Anglurah Panji Sakti, lahir di desa Tukadmungga pada tahun 1854. Pada usia 21 tahun, I Gusti Ketut Jelantik ditinggal wafat oleh ayahandanya, I Gusti Ketut Banjar, bekas Sedahan Agung Buleleng pada jaman raja asal Karangasem.
|

SEKAPUR SIRIH Sebuah peninggalan masa lalu apapun bentuknya, yang kasat mata maupun yang tidak dapat dilihat atau diraba, pastilah tidak lepas dari hasil pemikiran dan kerja nyata dari seseorang. Pemikiran dan kerja nyata tersebut bisa berwujud kecil atau besar, tergantung dari dukungan lingkungan, seperti faktor waktu atau kesempatan, faktor alam dan manusia, dan nasib atau kehendak Yang Maha Kuasa.. Perjalanan hidup seseorang adalah sebuah drama. Bentuk pemikiran, kata-kata dan tindakannya bilamana kita mau merangkainya akan merupakan untaian irama sebuah lagu yang utuh. Seluruhnya akan membentuk wujud nyata yang bisa kita sentuh, amati, telusuri dan nikmati. Lebih dalam lagi kita bisa mengambil dan memetik hikmah dan kebikjasanaan dari perwujudan itu. Namun pada akhirnya, penilaiannya terserah kepada pribadi kita masing-masing, disesuaikan pada kegunaan, tempat dan jaman.
AWAL CERITA. Tulisan ini dimunculkan dalam rangka Peringatan 100 tahun Puri Ayodya yang dirayakan pada tanggal 27 Desember 2003. Puri tersebut berlokasi di desa Kalibukbuk, sekitar 10 km dari kota Singaraja, Bali. Di dalam buku ini dirangkai kejadian-kejadian sekitar kehidupan I Gusti Ketut Jelantik pendiri Puri tersebut berdasarkan cerita para orang tua, baik yang berbentuk dokumen maupun turun dari para orang tua secara verbal. Sebuah nama seperti I Gusti Ketut Jelantik cukup populer, banyak yang memakai nama itu, sudah sering kita dengar atau ditemukan di berbagai sumber bacaan. Jelantik juga sering ditulis Jlantik atau Djelantik bisa juga Djlantik. Namun sosok yang ditampilkan sekarang yang juga bernama I Gusti Ketut Jelantik, kiranya belum banyak kalangan yang mengetahuinya. Dengan membaca riwayat hidup beliau dan mengaitkan dengan peninggalan hasil karya nyata dari sepak terjang selama hidupnya, sebagaimana disajikan dalam tulisan ini, diharapkan akan terbentuk proses pengenalan dan pendekatan. Dengan demikian akan dikenal I Gusti Ketut Jelantik yang satu ini secara spesifik. Seperti kata orang, bahwa harimau tidak cuma seekor dan tidak semua harimau belangnya sama.
|
Setelah itu beliau memelihara beberapa ekor kuda. Malahan kemudian beliau menjadi pencinta kuda. Beberata tahun kemudian beliau membeli kereta (dokar) dan beberapa pedati (cikar atau gedebeg) yang ditarik kerbau.
|
|