|
WISATA KALIBUKBUK |
|
|
Desa Kalibukbuk dan
Pariwisata. Bila kita cermati
perkembangan pembangunan di desa Kalibukbuk, khususnya pembangunan sarana
kepariwisataan dalam kurun waktu duapuluh tahun terakhir ini, kita lihat
cukup pesat. Pada permulaannya proses yang terjadi hanya biasa saja.
Seperti bergulir sedemikian rupa secara alami, yaitu timbul dari kreasi
spontan masyarakatnya sendiri. Keadaan ini terlihat setelah
dirintisnya sarana pariwisata
oleh Anak Agung Panji Tisna pada tahun 1953 dengan membuat losmen dan
restoran dengan nama Lovina di pantai Kampung Baru desa Tukad Cebol. Nama
desa tersebut sekarang diganti menjadi desa Kaliasem. Lokasinya hanya
berbatasan sungai kecil sebelah Barat desa Kalibukbuk. Banyak kalangan pada waktu itu meras skeptis dan memandang usaha ke arah pariwisata masih sangat dini untuk dikembangkan di wilayah tersebut, apalagi sangat jauh dari Denpasar. Sedangkan di desa Kalibukbuk sendiri usaha pariwisata disambut dan dirintis kembangkan oleh A A Ketut Gothama pada tahun 1975 dengan cara memanfaatkan sebagian bangunan yang ada di Puri milik keluarga sebagai penginapan dengan nama Ayodia Accommodation. Nama Ayodia Accommodation pernah mencuat diorbitkan oleh beberapa penulis buku guide antara lain Tony Wheeler yang sangat menyanjung dengan sebutan "the best small hotel in the world" bersama Bill Dalton dengan menyinggung juga desa Kalibukbuk sebagai tujuan wisata. Mulai tahun 1979 sangat dirasakan "banjir"-nya turis ke desa Kalibukbuk dan sekitarnya. Bersamaan dengan waktu itu, Bapak I Made Wita selaku Kelian Adat dan sekaligus menjabat sebagai Perbekel Kalibukbuk pada tahun 1982 membuat terobosan yang sangat mendukung perkembangan pariwisata, yaitu dengan membangun prasarana jalan ke pantai dan membuka areal tempat hiburan yang sekarang dikenal dengan nama Pantai Bina Ria. Di antara anggota masyarakat ada yang menyumbangkan sebagian tanahnya untuk sarana jalan ke pantai. Sejak itu pantai Binaria Kalibukbuk setiap tahun menjadi pusat keramaian terutama pada Hari Raya Nyepi. Setelah dibangun gedung hiburan, sering diadakan pertunjukan kesenian seperti tari2an, drama gong dan sebagainya. Termasuk perbaikan jalan ke pantai yang berada di banjar Banyualit dilaksanakan juga perbaikan. Rupanya rintisan-rintisan
tersebut adalah merupakan batu loncatan yang sangat menentukan penataan sebagai
kawasan wisata. Dilaksanakan dengan cara-cara yang tepat saat itu sehingga
mampu menyedot minat wisatawan manca negara untuk datang ke Bali Utara
khususnya ke desa Kalibukbuk, Kaliasem dan wilayah desa sekitarnya. Kemudian
pembangunan sarana pariwisata seperti hotel, restoran dan
sebagainya berlanjut dan
bahkan bersambung ke desa-desa tetangganya. Di sebelah Timur desa
Anturan, desa Tukadmungga dan desa Pemaron. Sedangkan ke Barat, desa
Kaliasem dan Desa Temukus. Kenyataan itu oleh pemerintah akhirnya diakui
dan telah secara resmi disebut Kawasan Wisata Kalibukbuk. Tetapi rupanya nama
Lovina kadung sudah terlanjur populer maka masyarakat pariwisata lebih
senang memakai nama Kawasan Wisata Lovina.
| |||
| ||||
|
Pantai Kalibukbuk di kala senja | ||||
|
| ||||
|
|
||||
|
| ||||
|
| ||||
|
| ||||