S E J A R A H
Sudah berabad-abad Pulau Bali dikenal
dengan penduduknya yang beragama
Hindu. Tidak dapat dijelaskan dengan
tepat abad berapa Agama Hindu masuk
ke Bali.
Karena berkembangnya agama Hindu di
Bali tidak melalui cara-cara peperangan
atau kekuasaan penjajahan. Melainkan
melalui penyerapan budaya para
pendatang. Pendatang ke Bali sebelum
abad ke IX.
(Lihat Situs Kalibukbuk).
Mereka membawa budaya yang ternyata
bisa diterima dan diataptasi secara
harmonis oleh orang Bali. Dewa-dewa
Hindu kemudian juga dipuja oleh orang
Bali sampai sekarang.

Dalam pemerintahan Raja Udayana
Warmadewa di Bali, abad ke 9/10, beliau
didampingi oleh para empu dari Jawa
Timur dengan membawa budaya tata cara
menjalankan agama Hindu. Putra
pertamanya, Airlangga tinggal di Jawa
sebagai raja Kahuripan, sedangkan
sebagai raja Di Bali diteruskan putra ke-2,
Marakata, dan kemudian  Anak Wungsu
putra bungsu
Dalam bimbingan ibunya, Ni Pasek Gobleg dan pamannya, I Wayan Pasek,
dengancepat beliau belajar mengenal lingkungan desanya. Disamping itu ada dua
pengasuh, Ki Dumpyung dan Ki Dosot. Sebagai seorang pemuda berusia 12
tahun, yang selalu ingin tahu tentang segala hal, I Gusti Gde Pasekan sering
berpetualang. Naik bukit dan menjelajanh ke hutan melewati tegalan sampai ke
pantai merupakan kegiatan rutin. Keris pemberian ayahnya, I Gusti Ngurah
Jelantik, selalu terselip di pinggangnya.Pada suatu sore yang panas, I Gusti Gde
Pasekan merasa badannya gerah dan ingin mandi di sungai di tempat beliau sering
mencari ikan. Tetapi di sungai dilihatnya ada buaya yang membuat orang-orang
takut untuk mandi dan para perempuan takut mengambil air. Dengan segala
pertimbangan yang cukup masak, I Gusti Gde Pasekan turun kesungai seorang
diri. Dengan kelincahan dan kaki katangannya yang cekatan, buaya yang
menakutkan itu bisa di bunuhnya. Setelah buaya dibunuhnya barulah beliau mandi
dengan tenangnya dan menikmati sejuknya air sungai. Penduduk desa Panji
menjadi gempar, karena keberanian dan kewisesan I Gusti Gde Pasekan yang
masih muda belia itu. I Gusti Gde Pasekan semakin dekat di hati masyarakat desa
Panji, bahkan meluas keluar desa Panji. Di wilayah Den Bukit ada seorang yang
sangat berkuasa bernama Ki Pungakan Gendis. Beliau sangat ditakuti oleh rakyak
karena perangainya yang semena-mena, hanya mencari kesenangan berjudi
dengan mengadu ayam setiap hari. Beliau bebergian dengan menaiki kudanya yang
besar dan gagah. Di kanan kirinya berjalan beberapa orang pengawal. Suatu hari,
I Gusti Panji sedang dalam perjalanan pulang. Karena merasa lapar beliau berhenti
untuk mencari umbi ketela di tegal. Keris pusaka leluhur yang selalu dibawanya
itu lalu dihunusnya dan ditancapkan di tanah mencongkel umbi ketela. Sedang
mencongkel-congkel tanah, tiba-tiba I Gusti Panji mendengar suara seperti keluar
dari dalam keris .....''tan gaweya; puyut kinarya anulati ewi"...yang artinya: ....
jangan buyut dipakai untuk mencari umbi ketela.....Selanjutnya terdengar:...,,aywa
ki buyut semang;- semang; ri ki puyut... apan anapasupati-astra ring agraning
puyut....ana pinakasatrunta mangaran ki pungakan Gendis yogya pinatryan denta
..;artinya: Jangan ragu akan kesaktian buyut.....karena di ujumg buyut memiliki
kesaktian.....disana ada musuh bernama Ki Pungakan Gendis yang harus
dibinasakan... Mendengar sabdantara sedemikian, I Gusti Panji berhenti
mencongkel umbi dan keris pusaka segera dimasukkan kesarungnya. I Gusti Panji
mulai menyadari, bilamana suatu waktu dkemudian hari timbul keraguan di pikiran
beliau, agar selalu ingat akan Ki Semang demikian nama kris pusaka tersebut.
Mengalahkan Ki Pungakan Gendis.
Diceritakan Ki Pungakan Gendis sedang dalam perjalanan pulang sehabis berjudi
dan bersenang-senang. Beliau menunggang kuda diiringi oleh para pengawal.
Kebetulan I Gusti Panji juga dalam perjalanan. Ki Pungakan Gendis tiba-tiba
terkejut berhadapan dengan seorang pemuda gagah yang berdiri didepannya.
Seketika Ki Pungakan Gendis menghardik kudanya. Kudanya menjadi garang dan
dengan kaki depannya sang kuda menggores dada I Gusti Panji hingga terjatuh,
namun tidak terluka. I Gusti Panji segera bangkit dan naik ke pohon lece. Ki
Pungakan Gendis menyerang dengan kudanya, namun I Gusti Panji meloncat ke
atas kuda dan keris pusaka menembus dada Ki Pungakan Gendis. Ki Pungakan
gendis tidak segera menemui ajalnya karena memiliki ilmu kekebalan. Dengan
tetap duduk di atas kudanya beliau meneruskan perjalanan pulang. Sampai
dirumahnya barulah diketahui oleh para pengwalnya bahwa majikannya telah
wafat karena tidak kuasa melawan kesaktian keris I Gusti Panji. Keadaan
penduduk desa Panji dan desa Gendis, sampai pada desa-desa sekitarnya tidak lagi
merasa takut karena Ki Pungakan Gendis yang kelakuannya semena-mena
terhadap penduduk telah tiada lagi. Sebaliknya, penduduk merasa mendapat
perlindungan dan bimbingan dari I Gusti Panji yang dianggap pantas memimpin
mereka.Menolong Perahu Terdampar.Setelah beberapa lama, ada suatu kejadian,
sebuah perahu bermuatan penuhbarang dagangan terdampar di pantai
Penimbangan. Perahu itu milik orang asing bernama Dempu Awang, seorang
saudagar Cina. Dengan nada sedih sang saudagar minta tolong kepada Bendesa
Gendis agar kapalnya bisa diselamatkan namun Bendesa Gendis tak sanggup
menolong. Kemudian datanglah I Gusti Ngurah Panji dan dengan cara yang penuh
perhitungan beliau bisa melepaskan perahu dari jepitan batu karang, sehingga
perahu itu kembali bebas. Sang saudagar Dempu Awang memberkan banyak
hadiah kepada I Gusti Ngurah Panji berupa barang-barang mewah seperti piring -
cangkir, cawan dan permadani, kain beludru yang mahal sampai bahan bangunan
rumah. Selain itu juga uang kepeng atau jinah bolong alat pembayaran yang
berlaku jaman itu. Setelah mengucap syukur dan terima kasih kepada I Gusti
Ngurah Panji, Dempu Awang pergi melajutkan pelayarannya. Dengan demikian, I
Gusti Ngurah Panji mendapat harta yang cukup berlimpah yang diperlukan
sebagai modal kelancaran geraknya dalam menjalankan tugas memimpin rakyat,
disamping benda yang sudah dimiliki berupa keris pusaka Ki Semang dan tulup Ki
Tunjungtutur yang mempunyai kekuatan magis sebagai kelengkapan dalam
menjaga kewibawaan seorang pemimpin.I Gusti Ngurah Panji sudah makin
dewasa dalam umur dan juga dalam pengalaman. Setelah berumur melewati 20
tahun, beliau mengambil putri yang berparas ayu yang bernama I Dewayu Juruh.
Gadis pilihannya itu tidak lain adalah putri Ki Pungakan Gendis almarhun yang
dikalahkan dan gugur dalam perang tanding dahulu. Kemudian adik laki-laki I
Dewayu Juruh tetap diberikan kekuasaan di Gendis dibawah asuhan Bendesa
Gendis. Lama-kelamaan I Gusti Panji makin dikenal dan disegani di wilayah Den
Bukit. Sebagaimana pesan ayahnya kepada I Wayan Pasek, agar dibanagun Puri
dan Pamerajan di desa Panji. Setelah itu, I Gusti Ngurah Panji; memindahkan pura
yang berada di desa Gendis, yang disungsung oleh krama desa Gendis dan
sekitarnya, ke pusat desa Panji. Seluruh masyarakat penyungsung pura tersebut
menyatakan persetujuannya dan pura itu dijadikan Pura Desa Panji.Tidak
berselang lama kemudian, I Gusti Ngurah Panji membangun puri terletak di
sebelah timur jalan, bersebrangan dengan Pura Desa yang baru selesai. Puri
tersebut memang tidak dibangun secara mewah, namun sudah dilengkapi dengan
merajan. Hal ini sesuai dengan petunjuk ayahnya I Gusti Ngurah Jelantik dahulu
semasih di Gelgel sebagaimana ditegaskan kepada I Wayan Pasek agar dibuatkan
Puri lengkap dengan Merajan. Semua merasa berbahagia, karena sekarang bisa
terlaksana, yaitu I Gusti Ngurah Panji dinobatkan sebagai pemimpin dengan Puri
serta Merajan. Namun sang ibu, Luh Pasek Gobleg tidak mau tinggal di dalam
puri karena merasa dirinya kurang pantas dan tetap di rumahnya semula di
sebelah utara.Semenjak itu penduduk bergembira dan sepakat untuk memberi
beliau gelar sebagai Anglurah, maka nama beliau menjadi  IGusti Anglurah Panji.
Sedangkan ibunya, Ni Pasek Gobleg tidak mau tinggal di Puri, tetap dirumah yang
lama.

                          Bacaca
PURA IBU DESA PANJI >>>>>>
I GUSTI ANGLURAH PANJI SAKTI
DIMULAI DI DESA PANJI
Keturunan Raja Warmadewa inilah yang
kemudian didatangkan dari Kediri, Jawa
Timur, ke Bali yang dikenal sebagai
dinasti Sri Nararya Kresna Kapakisan
oleh Patih Gajah Mada dalam usaha
mengamankan kerajaan Majapahit di Bali
tahun 1350. I Gusti Ngurah Panji Sakti
raja Den Bukit (Buleleng) bertakhta tahun
1660-1700 adalah salah satu keturunan
Udayana Warmadewa / Airlangga
Sri Airlangga dilambangkan
Wisnu diatas burung Garuda
Patih Gajah Mada
Patih Gajah Mada mendatangkan
keturunan Brahmana / Empu Soma
Kapakisan dari Majapahit yang
diturunkan satu tingkat menjadi Ksatrya
yang dikenal sebagai dinasti Sri Kresna
Kapakisan / Dalem Kapakisan untuk
menduduki jabatan sebagai raja Bali.

Patih Gajah Mada juga mendatangkan
para Arya dari Jawa yang ditempatkan di
berbagai wilayah untuk menjaga
keamanan dan keutuhan kerajaan Bali
Puri Panji tahun 1920
Puri Panji tahun 2005
I - II - III - IV - V - VI - VII - VIII - IX - X - XI
HOMPAGE
INDEX
BALI LINTAS JAMAN
SEJARAH BULELENG
ULASAN BABAD
SILSILAH
TULIS KESAN