(Sumber lain: 1. Babad Gumi koleksi
Korn: "...tahun 1686 I Gusti Agung
dibunuh oleh I Gusti [Batu] Lepang, 2.
"Surat dari Dewa Agung tahun 1686  
diterima pemerintah Batavia yang
menerangkan bahwa, I Gusti Agung telah
dibunuh oleh Goesti Loerah Batoe
Lepang yang juga terbunuh di
Gelgel..".Koleksi H.J de Graaf).
Pertemuan di Puri Singharsa - Sidemen (Tahun 1685).

Pemerintahan kerajaan Bali selama kekuasaan I Gusti Agung Maruti dijalankan
dengan cara semena-mena. Lama-lama kondisi seperti itu menyebabkan banyak
punggawa ataupun Manca di seluruh bagian wilayah Bali ingin melepaskan diri dari
pemerintahan yang berpusat di Gelgel dan membentuk kerajaan sendiri-sendiri.
Setelah beberapa kali mengadakan musyawarah di Sidemen, Anglurah Singharsa
atas nama Dewa Agung Jambe mengirim Surat Undangan ke pada I Gusti
Anglurah Panji di Denbukit dan Anglurah Nambangan di Badung. Juga ke semua
Punggawa sampai Manca yang masih setia untuk hadir di Puri Sidemen
membicarakan keadaan Bali yang dalam bahaya perpecahan.
I Gusti Anglurah Panji yang memang sudah paham isi surat segera memerintahkan
Panglima Perang Ki Tamblang Sampun ke Sidemen untuk mewakili beliau.
Pertemuan di Puri Sidemen di pimpin oleh Dewa Agung Jambe, Anglurah
Singharsa dan Pedanda Wayan Buruan. Mereka semua sepakat dengan tekad bulat
untuk menghancurkan kekuasaan I Gusti Agung Maruti. Dewa Agung Jambe
memberikan surat kepada  Ki Tamblang Sampun supaya disampaikan kepada I
Gusti Anglurah Panji di Den Bukit yang isinya meminta bantuan menggempur I
Gusti Agung Maruti yang menguasai Istana Gelgel.

Pasukan "Teruna Gowak" Menyerang Gelgel.
Gabungan pasukan koalisi Bali terdiri dari laskar "Taruna Gowak" dari Den Bukit
dipimpin oleh Ki Tamblang Sampun dan I Gusti Made Batan bermarkas di desa
Panasan, lengkap dengan sarwa senjata keris, tombak, bedil sebagian dengan
berkuda. Juga tidak ketinggalan bunyi-bunyian perang, kendang bende, cengceng.
Pada waktu yang sudah ditentukan mereka mulai menyerang Istana Gelgel dari
arah Barat Laut.
Pasukan dari Badung dibawah pimpinan I Gusti Jambe Pule melalui arah pantai
menyerang dari arah Selatan Istana lengkap dengan garangnya. Sedangkan laskar
Singaharsa menyerang dari arah Timur Laut dengan terlebih dahulu menundukkan
desa-desa sekitar Gelgel. I Gusti Agung Maruti segera memerintahkan pasukan
untuk bertahan. Sulit untuk menceritakan dahsyatnya pertempuran, saling serang,
saling serbu sehingga banyak jatuh korban nyawa.
Pasukan Gelgel dibawah pimpinan I Gusti Agung Maruti sedang sengitnya
menggempur pasukan Badung di sebelah selatan Gelgel mengamuk sehingga
pasukan Badung banyak jatuh korban sehingga I Gusti Jambe Pule terpaksa
mundur. Pasukan Gelgel dengan orang-orang Jumpai sangat kuat terus
mengepung sehingga I Gusti Jambe Pule dari Badung akhirnya tewas.
Setelah itu pasukan Gelgel muncul dibawah pimpinan Ki Padangkerta yang
mengejar laskar Taruna Gowak dari Den Bukit yang lari tunggang langgang.
Seorang pimpinan regu Teruna Gowak terbunuh sehingga pasukan Den Bukit
terus mundur kembali ke desa Panasan. (Rakyat desa itu merasa panas dengan
adanya laskar Den Bukit, maka desa dinamakan Panasan)

Dengan mundurnya pasukan Badung dan Den Bukit maka Dalem Maruti Di Made
tetap menguasai Istana Gelgel. Rakyat menganggap I Gusti Agung Maruti sudah
menang dan rakyat berbondong-bondong kembali ke Istana Gelgel mendukung
kedudukan I Gusti Agung Maruti.

Mendengar berita bahwa I Gusti Agung Maruti masih tetap bercokol di Istana
Gelgel membuat I Gusti Anglurah Panji sangat kecewa dan marah. Segera
memerintahkan menyusun kembali pasukannya dan segera melakukan
penyerangan kembali langsung dibawah Panglima Perang I Gusti Tamblang dan I
Gusti Made Batan dengan tambahan persenjataan bedil. Penyerangan kembali
dilancarkan sesuai perintah I Gusti Anglurah Panji dengan turunnya I Gusti
Tamblang Sampun ke medan pertempuran. I Gusti Tamblang langsung
berhadapan dengan Panglima Perang Gelgel, Ki Dukut Kerta. Perang tanding
orang per orang berkecamuk dengan dahsyat antar jago silat, saling tebas saling
tusuk. Keduanya sama berani dan tangguh. Selang berapa lama akhirnya Ki
Tamblang mengeluarkan ajiannya dan dapat menipu Ki Dukut Kerta dengan
gerakan yang tidak bisa ditangkap oleh penglihatan. Tiba-tiba Ki Dukut Kerta
roboh oleh senjata di tangan Panglima Perang "Teruna Goawak" Ki Tamblang
Sampun.
Seketika itu pasukan Gelgel lari tunggang langgang tak tentu arah menyelamatkan
diri karena merasa ngeri dan ketakutan

Setelah itu pasukan Anglurah Singharsa membuat ranjau di sekitar Istana Gelgel.
Sedangkan laskar Dewa Agung Jambe menggempur pasukan pengawal I Gusti
Agung Maruti yang masih berada di dalam Istana Gelgel dan tidak mau menyerah.
Pasukan Den Bukit juga ikut menggempur Istana Gelgel. Kembali terjadi
pertempuran sengit kacau balau tidak jelas kawan dan lawan, sehingga banyak
rakyat yang jadi korban terbunuh didalam istana. Orang berlarian cerai berai keluar
istana, bahkan keluar kota Gelgel. Dalam keadaan hiruk pikuk, I Gusti Agung
Maruti dapat lolos keluar istana dan melarikan diri ke arah Barat ditemani Kyai
Kidul dan Ki Pasek karena sudah berjanji sehidup semati. Namun terus dikejar oleh
pasukan Dewa Agung Jambe dan pasukan Anglurah Singharsa sampai di
Jimbaran. Di Jimbaran  disambut oleh pasukan bersenjata yang dipimpin oleh Ida
Wayan Petung Gading. Akhirnya melarikan diri ke desa Kuramas.
I - II - III - IV - V - VI - VII - VIII - IX - XI
MENGUSIR I GUSTI AGUNG MARUTI
Sedangkan keadaan di Blambangan juga
menjadi perhatian Panji Sakti karena
perjuangan Surapati mendapat tantangan.
Setelah Sultan Agung wafat (tahun 1645)
di ujung Jawa Timur muncul Pangeran
Tawangalun membangun kekuatan di
desa Bayu yang kemudian sebagai ibu
kota Blambangan. Adiknya bernama Mas
Wila menyerangnya tetapi dapat
ditundukkan dan Pangeran Tawangalun
menjadi penguasa seluruh wilayah
Blambangan menjadi Pangeran Adipati
dari Macan Putih. Istana Macan Putih
menjadi pusat atau Ibu kota Blambangan.
Dibawah Tawangalun Blambangan ingin
lepas dari Mataram. Namun Panji Sakti
merasa kawatir karena  Tawangalun minta
bantuan VOC untuk melawan Untung
Surapati.
Surapati pada waktu itu telah menguasai
Pasuruan,Probolinggo, Panarukan,
Malang, Lumajang, Jember, daerah Puger.
HOMPAGE
INDEX
BALI LINTAS JAMAN
SEJARAH BULELENG
ULASAN BABAD
SILSILAH
TULIS KESAN
Tugas di atas pundak I Gusti Ngurah Panji
bertambah. Tujuan membentuk  laskar
perang "Teruna Gowak" adalah untuk  
mencegah kekuasaan Mataram  merebut  
wilayah Blambangan. Sedangkan wilayah
Pasuruan sudah berhasil dikuasai oleh
Untung Surapati. I Gusti Ngurah Panji
sekarang tinggal berusaha bergabung
dengan pasukan Untung Surapati.

Tetapi dalam kerajaan Bali sendiri yang
berpusat di Gelgel memunculkan
masalah baru dengan naiknya I Gusti
Agung Maruti menjadi raja Bali. Hal ini
tentu sangat mengecewakan I Gusti
Ngurah Panji.
S E J A R A H