|
|
BALI DALAM GENGGAMAN GAJAH MADA
|
|
|
 |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
 |
|
|
|
 |
|
|
|
|
 |
|
|
|
|
|
(Sumber lain: 1. Babad Gumi koleksi Korn: "...tahun 1686 I Gusti Agung dibunuh oleh I Gusti [Batu] Lepang, 2. "Surat dari Dewa Agung tahun 1686 diterima pemerintah Batavia yang juga menerangkan bahwa, "I Goesti Agoeng telah diboenoeh oleh Goesti Loerah Batoe Lepang jang djoega terboenoeh di Gelgel.." Koleksi H.J de Graaf).
I Gusti Ngurah Jelantik sebagai Panglima Perang. Untuk mengisi kekosongan jabatan, Dalem Waturenggong memanggil keturunan I Gusti Cacaran yang bergelar I Gusti Ngurah Jelantik untuk kembali ke Gelgel dengan diberi jabatan Panglima Perang. Dalem Watu Renggong yang wafat di sekitar tahun 1551M yang diganti oleh putranya bernama Dalem Bekung. Pada tahun 1597 Dalem Bekung memerintahkan Panglima Perang I Gusti Ngurah Jelantik (III) untuk menumpas pemberontakan di Blambangan dan Pasuruhan. Dalam perang tanding dengan sengaja beliau tidak membawa senjata (mamogol), dan itu memang dengan sengaja dilakukan agar terbunuh dalam perang untuk tujuan menebus dosa leluhurnya. Beliau gugur meninggalkan isteri yang sedang hamil. Ketika putranya lahir diberi nama Jelantik Bogol atau I Gusti Ngurah Jelantik (IV). Kemudian Dalem Bekung digantikan oleh Dalem Sagening. Pada tahun 1621 Dalem Sagening memerintahkan I Gusti Ngurah Jelantik (IV /Bogol) untuk menundukkan penguasa Nusa Penida, Ki Dalem Bungkut atau Dalem Dukut atau Dalem Nusa. Dengan keris kaliliran yang dijuluki Ki Pencok Saang, I Gusti Ngurah Jelantik Bogol dapat membinasakan Dalem Bungkut dengan cara ksatria. I Gusti Ngurah Jelantik Bogol mendapat pujian dan penghargaan dari Dalem Sagening. Namun hal itu menimbulkan perasaan iri pihak pejabat lain. I Gusti Ngurah Jelantik Bogol (IV) diganti oleh I Gusti Ngurah Jelantik V. Kemudian pada waktunya I Gusti Ngurah Jelantik V digantikan oleh I Gusti Ngurah Jelantik VI.
Kekuasaan Gelgel melemah. Dalem Sagening wafat tahun 1624. Beliau digantikan oleh putranya bernama Dalem di Made yang masih muda. Para petinggi kerajaan Gelgel waktu itu sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri sehingga daerah-daerah seperti Sumbawa, Lombok dan Blambangan berangsur dikuasai pihak lain. Keadaan Bali juga mulai gawat. Tahun 1639 pasukan Sultan Agung dari kerajaan Mataram menyerang Bali. Namun berkat kesigapan I Gusti Ngurah Jelantik (VI), ayahanda I Gusti Ngurah Panji Sakti, pasukan Mataram dapat diusir begitu turun dari kapalnya di Pantai Kuta sehinga musuh lari tunggang langgang pergi tidak kembali lagi. Peristiwa itu membuat iri hati bertambah, sehingga menimbulkan intrik di pihak para petinggi kerajaan, terutama dari Patih Agung I Gusti Agung Maruti yang terus mempengaruhi Dalem yang masih muda itu agar meminta keris pusaka (kaliliran) milik I Gusti Ngurah Jelantik bernama Ki Pencok Saang yang sangat bertuah, namun I Gusti Ngurah Jelantik secara tegas tidak akan menyerahkan pusaka nenek moyangnya itu. I Gusti Ngurah Jelantik dan keluarganya telah beberapa kali mendapat serangan pasukan bersenjata suruhan I Gusti Agung Maruti untuk membunuhnya namun selalu gagal. Dasarnya adalah bilamana I Gusti Agung Maruti memiliki keris pusaka itu nantinya bisa menguasai Dalem dan bisa lebih leluasa mengambil alih kerajaan Gelgel. Sifat ingin berkuasa I Gusti Agung Maruti itu menimbulkan kegelisahan sehingga banyak petinggi kerajaan dan masyarakat meningglkan Gelgel dan mengungsi ke tempat aman, menyebar ke pelosok desa di Bali. Diantaranyan banyak keluarga pindah ke Den Bukit (Buleleng) dan mendapat perlindungan I Gusti Ngurah Panji Sakti.
I Gusti Agung Maruti merebut kekuasaan Dalem Gelgel. Keinginan I Gusti Agung Maruti berhasil mengusir Dalem dan menguasai istana Gelgel, kemudian pada tahun 1655 mengangkat dirinya sebagai penguasa kerajaan Bali dengan nama Dalem Gelgel. Namun kedudukan I Gusti Agung Maruti sebagai raja Bali atau Dalem Gelgel tidak diakui sehingga timbul beberapa penguasa wilayah baru di Bali, seperti di wilayah Den Bukit dengan nama kerajaan Buleleng yang dikuasai oleh I Gusti Ngurah Panji Sakti. Selain itu muncul kerajaan Karangasem, Bangli, Mengwi, Gianyar, Jembrana, Tabanan, Badung dan kerajaan lainnya. Kekuasaan I Gusti Agung Maruti sebagai Dalem Gelgel berakhir tahun 1686 oleh serangan koalisi dengan gugurnya Panglima Perang pasukan I Gusti Agung Maruti yang bernama Ki Dukut Kerta yang berhasil dibunuh oleh Ki Tamblang Sampun, Panglima Perang I Gusti Ngurah Panji Sakti dari kerajaan Buleleng.
Kekuasaan Dalem di Gelgel runtuh. Walaupun I Gusti Agung Maruti telah melarikan diri namun kekuasaan Gelgel sudah tidak mungkin dikembalikan lagi sebagai susuhan Bali. Pusat pemerintahan berpindah ke Kelungkung yang disebut Semarapura dengan Dewa Agung Jambe sebagai raja. Namun pemberontakan terjadi di seluruh Bali dengan beberapa wilayah yang masing-masing berusaha membentuk negara sendiri. I Gusti Anglurah Panji bertahan dengan keutuhan negara Buleleng.
|
Panji Sakti Arya Kapakisan adalah keturunan Raja Bali, Sri Dharma Udayana Warmadewa dan juga Raja-raja Kadiri - Jawa Timur: Sri Airlangga, putra sulung suami isteri Sri Dharma Udayana - Gunapriya Dharmapatni - Sri Semarawijaya - Sri Kamesawara - Sri Jayasabha - Sri Sastrajaya. Sedangkan di Bali, yang meneruskan sebagai raja dinasti Warmadewa adalah putra bungsu Sri Dharma Udayana, yang bernama Sri Anak Wungsu sampai tahun 1080. Arya Kapakisan yang dibawa (kemBali) ke Bali oleh Patih Gajah Mada diberi julukan Satriyeng Kadiri. Sedangkan I Gusti Anglurah Panji Sakti, beliau adalah keturunan Aryeng Kadiri melalui I Gusti Ngurah Jelantik - Panglima Perang sejak pemerintahan Dalem Waturenggong, melalui Arya Cacaran, Perdana Menteri I Gusti Nyuh Aya - Perdana Menteri kerajaan Bali pada jaman Dalem Ketut Kresna Kapakisan. Leluhurnya adalah Sri Airlangga Raja Kediri. Bilamana diteruskan juga akan mengarah ke Bali melalui Raja Bali abad ke XI Sri Udayana Warmadewa. Maka dalam perjalanan hidupnya penuh perjuangan membangun kerajaan di Den Bukit dan selalu mengkaitkan Bali dengan Jawa (Timur). Pada waktu Panji sakti sempat ke Solo, beliau melihat langsung bekas kerajaan Kadiri - Panjalu – Jenggala yang memprihatinkan. Sekembali dari Solo dan Blambangan, beliau membangun istana bernama Puri Buleleng yang kemudian menjadi Kerajaan Buleleng. Maka ada perkiraan para peneliti sejarah, bahwa Panji Sakti membangun kerajaan Buleleng bermaksud membangun kembali kerajaan leluhurnya.
Buleleng adalah Jenggala ( =jagung gembal, Latin= Sorghum vulgare).
Dalam kebijakan membangun kerajaan Buleleng, Panji Sakti berbekal pada suatu bentuk berlandaskan cinta kasih yang diberikan kepadanya oleh ayahandanya, I Gusti Ngurah Jelantik yang memberikan dua buah pusaka (heirloom) berbentuk keris Ki Semang dan sebuah tulup Ki Tunjungtutur atau Ki Pangkajatattwa. Bekal berikutnya adalah kesadaran, bahwa walau dirinya hanya anak seorang selir tetapi secara tegas ayahandanya mengakuinya sebagai putranya sendiri. Bekal berikutnya, konsekuensi dia anak yang disisihkan dari kalangan keluarganya di kerajaan Gelgel, dalam usia belia dikirim ke wilayah Den Bukit, hidup di tengah keluarga ibunya, Ni Pasek Gobleg, di desa Panji, tumbuh dalam pembinaan pamannya, Ki Wayan Pasek. Maka disebutkan, kerajaan Buleleng dibentuk dengan pola pemerintahan kerakyatan dengan semangat megoakgoakan, anti hegemony dengan rehabilitasi pemerintahan Gelgel yang dikuasai I Gusti Agung Maruti dan menjadi penguasa lokal di Den Bukit, anti imperialisme dengan aliansi ... Sifat membela keluarga dan kerabat, seperti menyelamatkan keluarga Jelantik (cucunda) keluar dari Gelgel yang runtuh dengan berpindah ke Blahbatuh dengan pengawalan. Dalam bidang spiritual, beliau mendalami ajaran "Kamahayanikan" yang kemudian diberikannya kepada para sentana. Waktu piodalan di Pura Gedong di Blahbatuh, selain memberi ajaran "Kamahayanikan" dalam upacara "memeras cucu", beliau menyerahkan sebuah benda pusaka tulup Ki Tunjungtutur sebagai tanda pertalian keluarga.....
I Gusti Anglurah Panji Sakti menjalani kehidupan sederhana dan akhirnya moksah di puri Panji - Buleleng.
Untuk mengetahui lebih lengkap perihal Nyuh Aya yang berasal dari Sri Nararya Kapakisan, silakan baca buku "Babad Nyuh Aya" karangan Drs. K.M. Suhardana.
|
|
|