Sebuah Pura yang mungil terletak di dekat pusat desa
Panji, yang oleh masyarakat setempat pura tersebut
dikenal dengan nama Pura Ibu atau Pura Ibu Desa (Panji).
Lokasi Pura Ibu sebetulnya dekat dengan jalan raya,
namun masyarakat luar tidak banyak yang mengetahui,
karena terisolir oleh pemukiman penduduk yang hanya
dihubungkan oleh lorong setapak.
Pura Ibu selama ratusan tahun tidak pernah tersentuh
pemeliharaan / pembangunan fisiknya. Pengemong pura
Ibu, masih hubungan kerabat Jelantik puri Blahbatuh -
Gianyar, menerangkan tidak pernah mendapat informasi
yang jelas dari pengelingsir mengenai bentuk asli pura
Ibu. Sejak duluhanya didapati sisa-sisa reruntuhan
bebaturan, hanya tembok penyengker masi jelas
walaupun juga sudah banyak rusak.
Dari pihak keluarga pengemong memohon baik secara
sekala dan niskala, agar suatu waktu Pura Ibu bisa
diperbaiki atau dipugar. Mereka percaya bahwa pada
suatu saat akan tiba waktunya. Mereka yang mempunyai
keterkaitan dengan pura Ibu akan terpanggil dan datang
langsung.
Memang benar. Berselang beberapa waktu kemudian, di
dalam tahun 2000, terjadi hubungan antar orang per-orang
yang merasa terpanggil. Tekad mereka memuncak untuk
mememugar Pura Ibu.
Sudah sejak dahulu masyarakat meyakini, bahwa yang
melinggih di Pura Ibu itu adalah Ni Luh Pasek Gobleg tidak
lain adalah Ibundanya I Gusti Ngurah Panji Sakti. Telah
sejak lama secara rutin krama desa Panji melakukan
upacara seperti piodalan, mapiuning setiap ada aci-aci di
kayangan desa bahkan mapinunasan bila ada anggota
masyarakat memerlukan. Selain itu pula Pura Ibu sudah
menjadi salah satu Kahyangan Desa di samping
parahyangan lainnya di wewidangan desa Panji.
Akhirnya terwujud. Proses pemugaran dimulai dengan
sosialisasi, penggalian dana dan pelaksanaan pemugaran
bangunan sampai penataan halaman pura. Melibatkan
banyak keluarga yang terkait dan juga para bakti yang
berjalan bergandengan bergotong royong.
Akhirnya Pura Ibu dapat diselesaikan. Pamelaspas Pura
Ibu dapat diselenggarakan pada hari Purnama Kadasa,
18 Juni 2008.