Lovina Beach Hotel

 

< < < SELAMAT DATANG DI PURI KANGINAN - BULELENG - BALI > >

 

PENDAHULUAN.

Peninggalan masa lalu seperti bangunan maupun benda lain yang disebut sebagai pusaka leluhur atau dengan istilah warisan budaya adalah sesuatu yang mempunyai makna sangat penting bila dipandang dari dibidang kebudayaan, sejarah dan lainnya. Dari benda-benda tersebut kita dapat cerminan terhadap nilai-nilai kepribadian nenek moyang terdahulu yang melandasi pertumbuhan dan perkembangan jati diri kita dari waktu ke waktu sampai ke generasi masa kini.

Sangatlah bersyukur dan merasa berbahagia bilamana kita masih bisa melihat bukti-bukti peninggalan sejarah seperti Puri Kanginan yang berada di kota Singaraja Buleleng, Bali.  

Kedudukan Puri Kanginan yang berfungsi sebagai tempat kediaman keluarga bangsawan dan juga sebagai pusat pemerintahan pada jamannya, berlokasi   pada posisi yang strategis. Wajah Puri menghadap ke arah Barat dengan halaman depan langsung mengakses perempatan jalan utama atau yang disebut Catus Pata. Pekarangan Puri berada di atas tanah yang agak tinggi dibanding sekitarnya. Mulai dari halaman yang paling tinggi terletak di hulu Timur disebut Uttama Mandala, kemudian sedikit menurun ke halaman tengah atau Madya Mandala dan menurun lagi ke halaman luar atau Kanista Mandala sampai ke pintu luar atau pemedal menuju jalan raya atau marga agung. Masing-masing mandala dikelilingi tembok pembatas, sedangkan ke setiap Mandala dihubungkan dengan Kori. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Puri ini diperkirakan sudah ada pada akhir abad ke 18. Tetapi nama puri  Kanginan mulai sekitar tahun 1830an. "Kanginan" dari kata Kangin berarti Timur. Puri Kanginan artinya istana di sebelah Timur persimpangan empat "Catus Pata" dan juga  disebelah Timur pasar. Dulu lokasinya di banjaran "Dangin Peken" (Timur Pasar). Sekarang Puri Kanginan berada di Banjar "Delod Peken" (Utara Pasar). Bukan Purinya yang pindah tetapi karena pasar Buleleng dipindahkan ke tempatnya sekarang pada disekitar tahun 1898.   

        

 

USAHA PEMELIHARAAN

 

Pemugaran berskala besar pernah dilakukan antara lain pada tahun 1840an. Kemudian dilakukan menjelang upacara pelebon besarpada tahun 1902 (fotonya terlihat di sebelah kiri). Juga beberapa bangunan pernah direnovasi pada tahun 1950.

Karena beberapa bangunan tidak difungsikan lagi dan juga karena telah dimakan usia lagipula terkena bencana alam seperti gempa bumi pada tahun 1963 dan 1976 banyak bangunan yang rusak bahkan musnah.

Sudah semestinya ada usaha-usaha pihak terkait / berkompeten untuk mencari jalan keluar agar bangunan bernilai sejarah ini terselamatkan. 

 

 

main gate

LATAR BELAKANG SEJARAH.

Ki Gusti Anglurah Panji Sakti, seorang putra dari dinasti kerajaan Gelgel pada abad ke 17 berhasil menyatukan seluruh daerah di sebelah utara  pulau Bali yang disebut wilayah Denbukit dan menjadikannya sebuah kerajaan yang sangat berpengaruh. Sejak usia muda beliau sudah memperlihatkan kedigjayaannya sebagai pemimpin sehingga nama beliau menjadi Ki Gusti Anglurah Panji. Wilayah tersebut kemudian dikenal juga dengan nama Kerajaan Buleleng. Kekuasaan beliau pernah sampai ke Jawa Timur (Blambangan). Nama beliau ditambah dengan sebutan kata Sakti menjadi Ki Gusti Anglurah Panji Sakti.

 

Semula beliau beristana di desa Panji, di desa asal ibundanya. Atas keberhasilan beliau sebagai raja yang mampu menyatukan wilayah Denbukit ini kemudian beliau mendirikan istana baru di desa Sangket di sebelah timur desa Panji. Istana itu dinamai Puri Sukasaddha yang artinya makmur sentosa.

Setelah beberapa kali memimpin pasukan Taruna Gowak yang dibentuknya bersama-sama rakyat beliau berhasil menaklukkan wilayah kerajaan Blambangan. Namun salah seorang putra beliau gugur di medan perang. Beliau merasa sangat sedih. Oleh karenanya beliau merasa perlu memiliki tempat untuk menenangkan pikran. Untuk itu dibangunlah sebuah istana atau pesanggrahan di sebelah utara istana Sukasaddha. Istana itu mengambil tempat di tengah tegalan yang tenang. Tegalan tersebut merupakan hamparan tempat menanam jagung gembal yang juga disebut buleleng. Di sebelah timurnya mengalir sungai yang bernama tukad Buleleng yang airnya selalu deras. Raja sering singgah di puri tersebut sambil menghabiskan waktunya untuk isirahat. Puri itu kemudian disebut puri Buleleng.

 

TEMPAT BERLINDUNG DARI MUSIBAH BANJIR.  

 

Pada waktu wilayah Buleleng dikuasai kerajaan Karangasem, raja Buleleng pada waktu itu adalah I Gusti Gde Karang yang sedang jaya dan berkuasa, pada malam hari Rebo, 22 Nopember 1815 terjadi musibah banjir, menyusul meletusnya gunung Tambora di pulau Sumbawa 7 bulan lalu (bulan April 1815) yang mengakibatkan gempa bumi hebat dan hujan lebat turun beberapa hari tanpa henti. Air danau meluap dan mengakibatkan lereng bukit penyangga danau Buyan pecah. Banjir lumpur yang dahsyat melanda wilayah Buleleng di bahagian tengah. Banyak desa yang tertimbun sehingga menewaskan penduduknya. Puri Sukasaddha yang berada di desa Sangket luluh lantak demikian juga puri Bangkang ikut terlanda banjir. Para sentana Ki Gusti Anglurah Panji Sakti di puri Sukasadda dan puri Bangkang banyak yang menjadi korban tewas karena tertimbun lumpur ada ynag hanyut ke laut lepas.

Desa Kedu, Mandala, Kedis, Tepok Basa, Sambangan, Bangkang, Galiran, Panji, Pebantenan, Bratan, Banjar Manduang, Banjar Tengah, Bangjar Badung, Banjar Bungkulan, Sukadadi, Buleleng sampai Pabean mendapat bencana banjir lumpur sekitar 3 sampai 4 meter tebalnya. Diperkirakan 12000 jiwa jadi korban.

Malapetaka banjir yang dahsyat itu juga melanda puri Buleleng yang dibangun oleh Ki Gusti Anglurah Panji sakti pada abad ke-17 walaupun tidak sampai hancur, namun tidak layak lagi dufungsikan. Penghuni Puri Buleleng waktu itu, yang terdiri dari para bangsawan dan keluarga raja, baik asal Karangasem maupun asal Buleleng, mereka semua, tua dan muda lari menyelamatkan diri dari kepungan banjir. Mereka berkumpul di sebuah pekarangan yang keberadaan tanahnya agak tinggi sehingga aman dari bahaya banjir. Tanah pekarangan itulah yang dikenal sekarang sebagai Puri Kanginan. Sejak sekitar tahun 1816, roda pemerintahan kerajaan Buleleng dikendalikan dari Puri Kanginan.

Raja I Gusti Gde Karang kemudian membuka lahan baru di sebelah Barat jalan untuk membangun istana baru yang kemudian dikenal dengan nama puri Singaraja. Setelah beliau wafat, pembangunan puri Singaraja dilanjutkan oleh I Gusti Paang Canang, putranya (baca Prof. P.Worsley: Babad Buleleng)

 

 

 

 

patih jelantik

 

 

Wilayah Nusantara memang sejak dulu sudah menjadi incaran bangsa asing untuk dikuasai termasuk juga Pulau Bali mulai terusik dan ingin ditaklukkan oleh pihak asing seperti bangsa Inggris dan Belanda. Dengan demikian maka masing-masing kerajaan di Bali mendapat tantangan untuk bisa mempertahan diri dari tekanan bangsa asing. Dari kondisi seperti itu maka pada tahun 1930 tampil I Gusti Ketut Jlantik untuk untuk memperkuat ketahanan pemerintahan di Buleleng. Dengan lebih mengakar kepada rakyat beliau memimpin dengan tekad dan semangat yang baru untuk menata dan mengukuhkan pengaman kerajaan Buleleng. Atas inisiatif beliau inilah berhasil menjalin kerja sama yang baik dengan raja baru yaitu I Gusti Made Karang

Setelah pemerintahan yang baru mantap I Gusti Ketut Jlantik sebagai Patih Buleleng dengan demikian beliau bersemayam di Puri Kanginan melanjutkan dinasti Ki Gusti Anglurah Panji Sakti

Sedangkan I Gusti Made Karang bersemayam di Puri Gde melanjutkan tradisi sebagai pihak Karangasem. 

Pasangan Patih I Gusti Ketut Jlantik dan Raja I Gusti Made Karang mendapat sambutan yang baik di hati rakyat Buleleng. Di bawah dua pimpinan pemerintahan ini pembangunan di bidang spiritual budaya meningkat. Puri-puri dibenah dan dibangun, selain itu juga dibangun pura desa, pura dalem dan pura segara yang sekarang kita warisi. 

 

 

PERAN PURI KANGINAN

I Gusti Putu Batan

I Gusti Ngurah Ketut Jlantik

I Gusti Bagus Jlantik

I Gusti Putu Geriya

I Gusti Nyoman Raka

I Gusti Ketut Jelantik

 

Dalam pada itu pihak kolonial Belanda mulai terang-terangan ingin menguasai Bali dengan menaklukkan Buleleng terlebih dahulu. Maksud Belanda itu tentu saja sangat ditentang oleh rakyat Buleleng dan juga masyarakat Bali secara keseluruhan. Dibawah pimpinan I Gusti Ketut Jlantik dengan menjalankan taktik “tawan karang” maka pecahlah perang melawan pasukan kolonial Belanda. Pertempuran dimulai di pelabuhan Buleleng meluas sampai di Catus Pata. Sebagai basis perlawanan melawan kolonial Belanda Puri Kanginan mengalami beberapa kali serangan meriam angkatan laut Belanda sehingga mengalami kerusakan berat.

 

Kemudian I Gusti Ketut Jlantik menghimpun pasukan dari seluruh kerajaan di Bali dan membuat benteng di desa Jagaraga. Dengan gagah berani rakyat Buleleng dengan pimpinan I Gusti Ketut Jlantik sempat menghalau pasukan Belanda. Peristiwa ini dikenal dengan "Perang Jagaraga". Namun serangan pasukan Belanda yang lebih besar dengan persenjataan yang lebih modern akhirnya dapat menaklukkan pasukan rakyat Buleleng. Belanda berhasil menguasai wilayah Buleleng pada tahun 1849. Sedangkan I Gusti Ketut Jlantik gugur sebagai pahlawan. Sebagaimana telah diketahui, I Gusti Ketut Jlantik oleh pemerintah RI telah diangkat sebagai pahlawan nasional.

 

Bagaimanapun juga pada kenyataannya pemerintah kolonial Belanda sudah mencengkram bumi Panji Sakti. Dalam kondisi dan situasi yang baru ini, Puri Kanginan kembali berperan sebagai tempat berkumpulnya keluarga keturunan Ki Gusti Anglurah Panji Sakti untuk menentukan nasib wilayah kerajaan Buleleng.

 

Waktu itu di antara prati sentana Ki Gusti Anglurah Panji Sakti, sudah ada yang bermukim di masing-masing puri seperti di desa Bangkang, di desa Kubutambahan dan di desa Tukadmungga.

 

Dalam musyawarah keluarga besar bertempat di Puri Kanginan, I Gusti Putu Batan yang menjabat sebagai Sedahan Agung karena merasa sudah berusia lanjut beliau mengelak untuk dicalonkan sebagai raja Buleleng. Putra beliau I Gusti Made Singaraja sudah menekuni bidang desa adat dan aktif di pura Desa Bale-Agung Buleleng. Dari beliaulah muncul prakarsa untuk mengukuhkan kembali Cacakan 40 dan terbentuknya Tridatu di desa adat Buleleng dengan busana khasnya.

Dengan kesepakatan keluarga besar akhirnya berhasil diangkat raja Buleleng yaitu I Gusti Ngurah Ketut Jlantik yang dinobatkan di Puri Kanginan pada tanggal 20-12-1860 dihadapan para punggawa dan pembesar Belanda waktu itu.

 

Pada tahun 1873, sebagaimana tercatat dalam sejarah bahwa Anak Agung Ngurah Ketut Jlantik dituduh melanggar peraturan dalam menjalankan pemerintahan dan dicurigai pemerintahan Belanda tersangkut Perang Banjar. Beliau diekstradisi atau dihukum buang ke kota Bengkulu, Padang Sumatera selama 13 tahun. Maka belaiu dan dikenal dengan julukan Anak Agung Padang.

I Gusti Bagus Jlantik sebagai Patih Buleleng dan merangkap punggawa Penarukan sejak 1873 diberikan tugas dan wewenang penuh oleh assistent resident waktu itu bernama F.C. Valck untuk meneruskan kebijakan dalam menjalankan tata pemerintahan di Buleleng. Beliau juga diberikan kuasa untuk mengangkat para punggawa dan perangkat pemerintah yang diperlukan.

Generasi berikutnya, yaitu I Gusti Putu Geriya masih berumur muda menjabat punggawa Buleleng mulai tahun 1886. Beliau telah dicanangkan untuk dicalonkan sebagai raja Buleleng bilamana nantinya dianggap sudah cukup berpengalaman. Tetapi ternyata kemudian terjadi perobahan. Bahwa pada tahun 1895 I Gusti Putu Geriya harus dikirim ke Mataram Lombok karena situasi memaksa pemerintah harus menempatkan orang Buleleng di sana untuk meredam gejolak. I Gusti Putu Geriya menjabat sebagai Patih di Mataram Lombok dan bertempat tinggal di Puri Ukir Kawi Cakranegara. Untuk menunjang tugas yang berat di tempat baru itu beliau mengajak saudara-saudaranya dari Puri Kanginan untuk diangkat sebagai punggawa, sedahan, pekasih dan lainnya di Mataram Lombok. Maka bisa dimengerti mengapa banyak keluarga asal Puri Kanginan sekarang bermukim di sana.

Sebagai pengganti I Gusti Putu Geriya maka diangkat I Gusti Nyoman Raka sebagai punggawa Buleleng sejak 1895. Disamping sebagai punggawa beliau juga sebagai Lid Raad Kerta. Beliau wafat terkena ledakan mesiu di ruang kerjanya sebagai barang bukti pada tahun 1898. Almarhum  dikenang dengan julukan Dewata Geseng. Penggantinya adalah adik beliau yang yaitu I Gusti Ketut Jlantik 

 

PENGEMBANGAN =SOSIAL - EKONOMI  - BUDAYA=.

I Gusti Ketut Jlantik ternyata menjabat cukup lama sebagai punggawa Buleleng, sejak 1898 - 1915  yang mendapat julukan Ratu Punggawa Lingsir. Beliau dikenal pekerja ulet. 

Sejak dilantiknya Wilhelmina tahun 1898 sebagai Ratu Keajaan Belanda , kebijakan banyak berubah. Setelah menjalankan kebijakan cultuurstelsel maka sejak 1901 pemerintah Belanda menjalankan "etische politiek". Sejak itu pemerintahan Buleleng lebih banyak dikendalikan oleh pejabat lokal Buleleng, seperti Patih, Sedahan Agung dan para Punggawa, Perbekel beserta masyarakat.    

Museum Buleleng

 

Pembangunan sarana umum sesuai dengan keperluan waktu itu seperti jalan, pasar, penataan kawasan kantor dan para pejabat pemerintahan dan tempat ibadah serta kuburan sampai pada pemukiman dikerjakan berkesinambungan. Beberapa hasil pembangunan itu masih bisa kita lihat dan kita warisi sampai sekarang. Dalam tahun-tahun itu penduduk luar banyak berimigrasi dan menetap di wilayah Buleleng, karena masyarakat Buleleng sedang giatnya membangun dan ekonomi mulai maju. Selain sebagai ibu kota Bali-Lombok juga masyarakat mulai makmur dengan adanya pelabuhan Buleleng sebagai pusat perdagangan.

"BALE MAS" Museum Buleleng 1912. Museum ini dipindahkan ke Denpasar tahun 1929 disatukan dengan Museum Bali

 

Tahun 1913 pembangunan sarana pendidikan rakyat dilaksanakan, bukan saja di kota namun sampai ke desa-desa. Pengembangan seni budaya terus dipacu dengan membentuk sekeha yang disebut sekeha sebunan. Pergelaran dilaksanakan secara berkala pada

The Old Dutch Bridge

setiap hari raya 31 Agustus yang dikenal dengan nama “raja kuning” (tanggal lahir raja “koningin” atau Ratu Belanda Wilhelmina) seperti pementasan gambuh, barong dan rangda, gong kebyar, sastra dan lainnya. Seni tabuh asli Buleleng, utamanya gong kebyar berkembang pesat sehingga munculnya nama-nama seniman besar seperti Pan Wanres, Gde Manik dan lainnya. Tidak ketinggalan juga bidang seni suara dan sastra Buleleng.

"The Old Dutch Bridge"

 

Gedung KPM Buleleng

 Jalan Gajah Mada               Barong Rangda

Kantor KPM di pelabuhan Buleleng

      Jl Gajah Mada, dulu bernama Wilhelmina Straat,dibangun th 1909                                  Berkembangnya seni tari /tabuh kebyar 1912

I Gusti Bagus Surya

Masih banyak tugas punggawa lingsir I Gusti Ketut Jlantik dalam membangun Buleleng belum kesampaian. Beliau wafat tahun 1914.    Baca Riwayat I Gusti Ketut Jlantik>>>

Sebagai pengganti adalah generasi berikutnya yaitu I Gusti Bagus Surya sebagai punggawa Buleleng yang dijabat sejak tahun 1916 sampai 1922. Kebijakan beliau meneruskan tugas pendahulunya. Seni tabuh terus berkembang dan gong kebyar terus makin populer. Sehingga pernah terjadi almarhum sang maestro I Gde Manik "diculik" dibawa ke Gianyar diminta untuk mengajarkan teknik kendang dan tabuh gong kebyar.

I Gusti Bagus Surya wafat dan dipelebon secara upacara besar tahun 1922 di Puri Kanginan. Kapal dagang KPM membawa turis, bahkan  beberapa kapal Angkatan Laut Kerajaan Belanda hadir di pelabuhan Buleleng membawa tamu pembesar Belanda untuk menghadiri dan menyaksikan pelebon.

Residen  Bali dan Lombok L.J.J.Caron tahun 1928 membuka "Stichting van Liefrinck en van der Tuuk" yaitu perpustakaan bahasa, adat dan budaya. Suatu langkah dari gagasan dan pemikiran yang patut dihargai.

I Gusti Putu Jlantik

I GUSTI PUTU JLANTIK DIANGKAT RAJA .

Setelah pemerintahan dan kondisi masyarakat di Buleleng sudah cukup mantap, maka pada tahun 1929 I Gusti Putu Jlantik, putra I Gusti Putu Geriya, ditetapkan oleh pemerintah Belanda sebagai regent. I Gusti Putu Jlantik bukan saja berpengalaman sebagai pegawai negeri, tetapi juga sejak lama menekuni sastra, adat dan budaya Bali. Beliau ikut  memberikan "isi" kepada  "Stichting van Liefrinck en van der Tuuk"  dengan banyak naskah dalam bentuk rontal (kitab daun rontal dengan huruf Bali). Ditambah dengan nama Gedong Kertya sehingga seperti kita ketahui nama Gedong Kertya akhirnya lebih populer.

Kemudian I Gusti Putu Djlantik pada 29 Juni 1938 diangkat sebagai raja atau zelfbestuurder dengan upacara besar di Pura Besakih bergelar Anak Agung Negara Buleleng bersama-sama dengan 7 raja Bali yang lain.  Ò 

Lihat foto raja-raja Bali 1938>>>

                                                                          

Copyright © 2004 by Wedatamanugraha. All rights reserved.
Mail: admin@buleleng.com Revised: September 21, 2008