|
KERAJAAN BULELENG 1700-1950
( I
- II
-
III
- IV
- V -
VI
- VII
- VIII -
IX-
X
)
PERISTIWA SEMETON
KALIH
Peristiwa yang tidak diinginkan
atau yang lebih tepat disebut tragedi sejarah yang menggurat
kerajaan Den Bukit adalah sengketa antara dua pihak yang masih
keluarga terdekat. Yaitu perselisihan antara dua orang yang
diketahui masih dalam hubungan bersaudara, dan mereka
merupakan keturunan ke 4 pendiri kerajaan Buleleng I Gusti
Ngurah Panji Sakti. Yang lebih tua bernama I Gusti Ngurah
Panji yang beristana di puri Sukasada di desa Sangket dan yang
muda bernama 1 Gusti Ngurah Jlantik yang bersemayam di puri
Buleleng. Perselisihan yang dipicu perebutan kekuasaan dan
langsung dicampuri pihak ketiga, yaitu pihak kerajaan
Karangasem yang akhirnya memuncak menjadi perang terbuka
antara dua raja bersaudara ini sampai berakibat gugurnya
seorang diantaranya. Sungguh suatu kejadian yang sangat
disesalkan oleh siapa saja, terutama oleh sanak keluarga
mereka sendiri, bahkan sampai ke anak buyut. Perjuangan
leluhur mereka I Gusti Ngurah Panji Sakti yang pernah
menyatukan seluruh wilayah Den Bukit melalui segala bentuk
pengorbanan bersama pemuka wilayah dengan dukungan seluruh
rakyat sehingga menjadi satu kesatuan sampai terbentuk apa
yang dikenal dengan kerajaan Buleleng, sekarang menjadi porak
poranda. Sudah tentu selanjutnya akan berakibat juga pada
tatanan keluarga kerajaan Buleleng yang terpecah belah yang
sampai saat ini masih berdampak nyata. Bukan saja berakibat
kurang harmonisnya hubungan persaudaraan diantara mereka
tetapi juga sampai pada masalah sosial religius seperti
sidikara, sampai pada pelaksanaan upacara di pamerajan kawitan
di desa Panji. Sadar akan dampak yang berkepanjangan dari
kejadian tersebut keturunan berikutnya telah melakukan
berbagai cara pendekatan antara dua kelompok tersebut secara
terus menerus seperti di uraikan dalam bab berikutnya. Usaha
pendekatan sudah membuahkan beberapa hasil, namun rupanya
permasalahan yang dianggap prinsip masih ada yang membekas,
sekalipun telah melewati kurun waktu hampir duaratus lima
puluh tahun.
Namun bagaimanapun juga, sudah
sepatutnya, bagi mereka prati sentana I Gusti Ngurah Panji
Sakti, perlu kiranya direnungi dan dicoba untuk meniti kembali
asal muasal yang mendasari kejadian tersebut diatas. Belum
tuntas rasanya dengan apa yang diuraikan oleh babad mengenai
dasar perselisihan kedua raja bersaudara tersebut. Karena
dasar pengertian kita sekarang adalah, bahwa dasar pertikaian
mereka berdua adalah memperebutkan wilayah kerajaan.
Masing-masing mau menang sendiri secara mutlak. Akan tetapi
bila diungkap lebih dalam lagi rupanya ada bobot nilai tradisi
(traditional value) yang menjadi dasar perseteruan, yaitu
perbedaan status yang pada jaman itu yang aturannya masih
berlaku dan dijalankan secara teguh.
RAJA KARANGASEM YANG
CERDIK
Rupanya klan pihak keluarga raja Karangasem
sangat jeli melihat kondisi ini yang merupakan satu celah yang
memberi peluang yang sangat baik untuk bisa masuk ke tengah
medan perseteruan keluarga dua raja ini, untuk memecah
kerajaan Buleleng. Apalagi generasi ke-empat dari keturunan I
Gusti Anglurah Panji Sakti sudah menerima proses siklus pasca
kejayaan. Kondisi ini dilihat jelas oleh pihak kerajaan
Karangasem. Sangat berbeda dengan kondisi kerajaan Karangasem
waktu itu yang memang sudah menuai suksesnya memperluas
kekuasaanya sampai ke Lombok. Dengan memiliki potensi untuk
bisa melebarkan kekuasaannya ke wilayah lain seperti Buleleng
ini apalagi didukung oleh para punggawa dan laskar
kerajaan Karangasem yang sedang memiliki puncak loyalitas dan
mobilitas tinggi.
Dalam suatu upacara di hari purnama di Pura
Besakih, hadir Raja Karangasem I Gusti Ngurah Gde Karang
beserta para punggawa lengkap dari kerajaan Karangasem. Dalam
kesempatan itu diadakan acara pertemuan untuk
berbincang-bincang. Setelah banyak hal yang penting
dibicarakan, pada waktu mengakhiri pertemuan, Raja membagikan
buah mangga kepada masing-masing punggawa. Berselang berapa
waktu kemudian dalam acara persidangan berikutnya Raja sempat
menanyakan kepada para punggawa bagaimana rasanya buah mangga
yang beliau berikan beberapa waktu yang lalu. Semua memuji
dengan mengatakan manis, enak, gurih dan sebagainya. Hanya
seorang yang berkomentar lain, yaitu Punggawa I Gusti Ngurah
Sibetan. Punggawa yang satu ini mengatakan bahwa mangga
tersebut cukup ranum dan tidak dimakan melainkan dipakai bibit
untuk ditanam, supaya ada kenang-kenangan dari baginda Raja
kelak di kemudian hari. Raja sangat kagum kepada punggawanya
ini. Maka diberikan nama julukan Wiweka. I Gusti Ngurah
Sibetan "Wiweka" ini kemudian dipercaya untuk mengadakan
pendekatan kepada kedua raja bersaudara kerajaan Buleleng yang
sedang dilanda sengketa. Ditunjuklah I Gusti Lanang Dauh untuk
mengadakan pendekatan kepada ke dua orang raja Buleleng yang
sedang bersitegang. Dengan menunjukkan latar belakang historis
dan jalinan garis kekerabatan yang masih dekat antara keluarga
kerajaan Buleleng dan keluarga kerajaan Karangasem, pihak
Karangasem berusaha menanamkan kaidah-kaidah dresta yang
mengatur suksesi dalam kerajaan. Namun petuah itu pada saat
seperti ini bukan untuk mendekatkan dan memperbaiki situasi
hubungan antara I Gusti Ngurah Panji dan I Gusti Ngurah
Jlantik, malahan membuat kemelut. Bahkan berakibat memecah
persaudaraan kedua raja Buleleng tersebut. Ditambah lagi
dengan cara menampilkan sosok wanita cantik untuk menambah
manis tutur kata I Gusti Lanang Dauh.
Dengan
cara meyakinkan akhirnya I Gusti Nguralt Jlantik tergiring dan
mengikuti skenario yang dibuat pihak Karangasem. Entah versi
bagaimana lagi yang dihembuskannya kepada pihak I Gusti
Ngurah Panji di puri Sukasada sehingga
membuat perseteruan dua raja
bersaudara itu memanas yang akhirnya tersulut menjadi perang
yang tidak terelakkan.
MENANG ARANG, KALAH ABU.
Perang yang disebut "Peristiwa Semeton Kalih"
berakhir di tahun 1765 dengan gugurnya I Gusti Ngurah Panji
raja yang di puri Sukasada. Dengan demikian kemenangan ada di
pihak I Gusti Ngurah Jlantik yang beristana di puri Buleleng.
Keberhasilan dicapai dengan bantuan penuh dari
kerajaan Karangasem dengan pasukan laskarnya yang telah
terlatih. Di
kedua
belah pihak banyak korban yang gugur dan luka luka di
medan perang yang sengit.
Sebagaimana tercantum dalam kesepakatan antara
pihak raja Buleleng dengan pihak Karangasem yang menyebutkan
bahwa, bilamana pihak I Gusti Ngurah Jlantik dengan bantuan
pihak Karangasem berhasil menang, maka pihak Karangasem berhak
mendapat wilayah di Buleleng dan ikut dalam sistem
pemerintahan di Buleleng. Selain itu pihak Karangasem juga
harus mendapat sarin tahun atau bagian dari hasil pajak.
Maka untuk selanjutnya, wilayah kerajaan
Buleleng tidak tagi dikuasai sepenuhnya oleh para sentana I
Gusti Ngurah Panji Sakti. Wilayah Karangasem kemudian
diperluas dengan menggeser perbatasan wilayah Karangasem ke
arah Barat sampai di Kubutambahan. Kubutambahan sendiri masuk
wilayah kerajaan Buleleng. Kerjasama di bidang pemerintahan
dijalankan sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat. I
Gusti Ngurah Jlantik duduk sebagai raja Buleleng sedangkan
dari pihak Karangasem, I Gusti Ketut Karangasem sebagai patih.
Disamping itu banyak pejabat lain dibawa dari Karangasem ikut
di Buleleng.
Raja I Gusti Ngurah Jlantik banyak mempunyai
putra dan putri yang masih muda usia. Yang pertama sebagai
putra mahkota adalah I Gusti Bagus Jlantik Banjar yang menurut
garis keturunan mempunyai hak dan kewajiban kelak kemudian
menggantikan kedudukan ayahandanya sebagai raja. Putra yang ke
dua adalah 1 Gusti Ngurah Jlantik Muna, yang ketiga I Gusti
Ketut Jlantik, kemudian ada lagi I Gusti Made Jlantik, I Gusti
Ketut Panji. Dua orang putri yaitu 1 Gusti Ayu Muter dan l
Gusti Ayu Jlantik. Waktu itu raja I Gusti Ngurah Jlantik
bersemayam di Puri Buleleng yaitu Puri yang aslinya dibangun
oleh I Gusti Anglurah Panji Sakti yang terletak di tegalan
buleleng.
Dari waktu ke waktu tekanan pihak Karangasem
makin berat terhadap raja I Gusti Ngurah Jlantik. Kendati
dalam kondisi seperti itu mereka tetap berusaha menjaga
eratnya tali persaudaraan diantara mereka karena menyadari
bahwa telah terjadi suatu kekeliruan yang sangat besar yang
menimpa nasib mereka. Apa boleh dikata, semua sudah terlanjur.
Masih ada yang bisa disyukuri, rakyat Buleleng pada umunya
masih tetap setia dan bersama-sama berusaha agar keadaan tidak
menjadi lebih parah lagi.
RAJA BULELENG I GUSTI NGURAH DJLANTIK
WAFAT.
Sang waktu terus berjalan tanpa mengenal henti.
Raja Den Bukit I Gusti Ngurah Jlantik tiba-tiba saja jatuh
sakit tanpa ada yang mengetahui sebab musababnya dan akhirnya
meninggal dunia pada tahun 1780. Pihak keluarga yang
ditinggalkan sangat terkejut demikian juga rakyat Buleleng.
Berhubung dengan msibah mendadak itu, kecurigaan masyarakat
timbul, mungkin beliau mendapat tekanan oleh I Gusti Ketut
Karang sehingga beliau menderita bathin hingga jatuh sakit
yang akhirnya wafat. Kemungkinan juga beliau sengaja diracun
atau diperdaya. Tetapi yang jelas setelah meninggalnya raja,
tekanan terus dilakukan kepada keluarga dan kepada seluruh
keturunan I Gusti Anglurah Panji Sakti.
Dengan telah wafatnya raja Buleleng I Gusti
Ngurah Jlantik, salah
seorang putranya bernama I Gusti Made Jlantik yang
menetap di puri Sukasada Sangket yang tidak puas mulai
terang-terangan melakukan pemberontakan terhadap kekuasaan
Karangasem. Namun di dalam keluarga di Sukasada sendiri juga
muncul I Gusti Nyoman Penarungan yang lebih ambisius dan
menuntut hak juga atas takhta kerajaan di Den Bukit dan ingin
mengusir kekuasaan Karangasem. Dengan muncul persaingan di
dalam keluarga Sukasada maka pihak penguasa Karangasem itu
tidak terlalu sulit untuk memukul yang satu terlebih dahulu
kemudian yang lain. Kekuasaan I Gusti Made Jlantik dan I Gusti
Nyoman Penarungan dapat dipatahkan. I Gusti Made Jlantik
akhirnya melarikan diri dan mengungsi ke Marga dan wafat
setelah pindah ke Perean. I Gusti Nyoman Penarungan mengungsi
ke Lombok dan menetap di sana.
I GUSUR KE DESA BANGKANG.
I Gusti Ketut Karang sebagai Patih kerajaan
Buleleng meneruskan tugas-tugasnya sebagai penguasa tunggal.
Sedangkan putra dan putri almarhum raja Buleleng I Gusti
Ngurah Jlantik, yang kesemuanya masih muda usia itu
disingkirkan keluar dari Puri Buleleng. Mereka dibuatkan
bangunan puri di tepi sebelah Barat Yeh Mala (sekarang sungai
Banyumala) yang sekarang dikenal dengan desa Bangkang. Para
pengawal dan pengikut yang setia tidak begitu saja melepaskan
keturunan I Gusti Ngurah Panji Sakti, namun senantiasa
berdekatan bersama-sama tinggal di sekitar puri Bangkang.
Tetapi pihak Karangasem juga menempatkan orang-orangnya
di sekitar desa Bangkang.
SELESAI TANAH DIBAJAK BIBIT DITANAM.
Tahun 1793 wilayah Buleleng
sepenuhnya dikuasai Karangasem dan nama kerajaan lebih di
kenal dengan nama kerajaan Buleleng. Karena sudah selesai masa
tugasnya sesuai dengan yang telah digariskan oleh raja di
Karangasem, I Gusti Ketut Karangasem yang sudah bertugas
selama lebih kurang 20 tahun sudah waktunya untuk diganti.
Sebagai pengganti adalah oleh I Gusti Nyoman Karang
(Pasedahan) yang kemudian ternyata dalam menjalankan
politiknya pemerintahannya lebih halus dengan cara pendekatan
kekeluargaan. I
Gusti Nyoman Karang dinobatkan sebagai Raja Buleleng
I
dalam rezim Karangasem. Keadaan wilayah kerajaan Buleleng pada
waktu itu dalam keadaan cukup aman dan sentosa.
Usia putra putri raja yang dulu
diasingkan oleh I Gusti Ketut Karangasem di sebelah Barat Yeh
Mala, sudah beranjak dewasa. Memang pihak Karangasem mempunyai
pemikiran yang brilian untuk bisa menguasai Buleleng. Untuk
lebih menguatkan kedudukan raja asal Karangasem tersebut dan
untuk mengambil simpati yang lebih dalam, raja Buleleng yang
baru ini memperisteri I Gusti Ayu Muter. Sedangkan adiknya
yaitu I Gusti Ayu Jlantik dibawa ke Karangasem dan menjadi
permaisuri seorang bangsawan dari keluarga raja
Karangasem.
Kemudian 1 Gusti Bagus Jlantik Banjar diangkat
sebagai Patih kerajaan dan I Gusti Made Panji Muna sebagai
Wakil Patih / Sedahan Agung kerajaan Buleleng.
Sedangkan yang nomor tiga yaitu I Gusti Ketut
Jlantik dijadikan punggawa di Kubutambahan. Desa Kubutambahan
yang berada di sebelah Timur dekat dengan perbatasan
Karangasem sengaja dibentuk sebagai pusat pemerintahan
kerajaan Buleleng dari pihak keturunan Panji Sakti.
Dipihak lain, para sentana I Gusti Ngurah Panji
Sakti menyadari situasi pada waktu itu dan berusaha mencoba
menata kembali pembagian tugas pemerintahan dengan cara
sebaik-baiknya sebagaimana telah digariskan oleh aturan yang
telah mereka miliki yang ada di lingkungan keluarga kerajaan
Buleleng sendiri. Tentu saja tidak bisa lepas dari pengawasan
dan koordinasi dari pihak raja I Gusti Nyoman Karang.
I GUSTI GDE KARANG RAJA BULELENG II.
I Gusti Nyoman Karang meninggal dunia pada tahun
1808, dan beliau digantikan oleh kakaknya yang bernama 1 Gusti
Gde Karang, sebagai Raja Buleleng II dari dinasti
Karangasem. Raja ini dikenal keras dan tegas. Berwawasan luas
dan berambisi kuat untuk mengadakan ekspansi dan memajukan
ekonomi. Diceritakan juga konon beliau tidak segan-segan
mengorbankan jiwa manusia dan anak-anak sebagai caru dalam
upacara buta yadnya.
Karena merasa sudah memiliki kekuatan sendiri, I
Gusti Gde Karang melepaskan diri dari kerajaan Karangasem.
Malahan wilayah kerajaan Karangasem sempat berada di bawah
kekuasaan raja I Gusti Gde Karang. Adiknya yang bernama I
Gusti Ngurah Lanang sebagai raja Karangasem.
KONTAK DENGAN ORANG ASING.
Pada
jaman pemerintahan I Gusti Gde Karang ini perdagangan di
Buleleng mengalami kemajuan dengan mulainya pelayaran
kapal-kapal asing yang singgah di pantai Buleleng. Beliau pada
mulanya berpuri di daerah Pabean dekat
pelabuhan.
Wilayah Jembrana pernah
dikuasai dengan menyerang kerajaan tersebut, rajanya dibunuh
dan purinya dihancurkan. Kemudian mengusir orang-orang Bugis
di Loloan dan sekitamya. Kebetulan kerajaan Inggris di negeri
Malaka waktu itu sedang mengembangkan kekuasaannya yang
dikendalikan oleh Sir John Stamford Raffles sewaktu menjabat
sebagai letnan gubernur di Jawa sangat tertarik kepada budaya
Jawa. Setelah tahun 1811 sempat melihat Bali yang akhirnya
jatuh cinta pada Bali. Bahkan terdengar bahwa pihak Inggris
ingin menguasai pulau Bali dan merencanakan akan membangun kota
pelabuhan dengan nama Singapura di Buleleng ini. (Catatan)
Pihak raja I Gusti Gde Karang tertarik dan mulai dengan
pembangunan sarana pelabuhan. Disamping itu beliau mulai
membuka areal puri baru yang lebih besar, namun tidak sampai
selesai, karena timbul beberapa masalah di walayah kerajaan
Buleleng.
Pihak Raffles minta agar
penjualan budak dihentikan sama sekali. I Gusti Gde Karang
menolaknya dengan tegas. Untuk menekan raja, tahun 1814
Raffles memerintahkan angkatan laut Inggris dibawah pimpinan
Jendral Nightangale datang ke Buleleng dengan beberapa kapal
perang, namun tidak terjadi pertempuran. Pihak Belanda sudah
lebih dahulu melakukan ekspansinya di Indonesia dan pihak
Inggris tidak ingin mendapat masalah dengan Belanda. Ikut
campurnya pihak asing menjadikan penghasilan Raja Buleleng I
Gusti Gde Karang turun drastis.
MUSIBAH BANJIR.
Rupanya nasib baik belum berpihak kepada raja I
Gusti Gde Karang. Akibat letusan gunung Tambora di Sumbawa
pada hari Rebo tanggal 22 April 1815, mengakibatkan di tahun
wilayah Buleleng tertutup abu, sawah ladang sampai kehalaman
rumah penduduk. Kemudian, hujan turun beberapa hari tiada
henti menyebabkan air danau meluap mengakibatkan banjir besar
pada malam gelap 1816. Dinding di sebelah Utara danau Buyan
pecah dan air bah melanda segala bentuk apapun yang
menghalangi dibawahnya. Sejumlah desa dihanyutkan banjir
lumpur dan lenyap dari atas bumi. Ribuan nyawa melayang.
Jenazah hanyut dan tertimbun lumpur. Puri Sukasada hancur
dilanda banjir lumpur. Keluarga keturunan Ki Gusti Anglurah
Panji Sakti yang tinggal di Puri Sukasada banyak yang jadi
korban bencana tersebut. Demikian juga mereka yang tinggal di
pinggir Sungai Banyumala (dulu Yeh Mala) yaitu yang ada di
puri Bangkang seperti I Gusti Bagus Jlantik Banjar beserta
keluarga dan I Gusti Made Panji Muna beserta keluarga semuanya
wafat tertimbun lumpur. Keluarga lainnya yaitu I Gusti Ketut
Jlantik yang jadi punggawa di Kubutambahan tidak terkena
musibah karena lokasinya jauh di sebelah Timur. Banyak desa yang yang mulanya
subur tersapu tanpa sisa atau tertimbun lumpur setebal 1
sampai 3 meter, antara lain desa Kedu, Mendala, Gendis, Tepok
Basa, Sambangan, Bangkang, Galiran, Panji, Pebantenan, Bratan,
Banjar Banua, Banjar Tengah, Banjar Badung, Banjar Bungkulan,
Sukasadi, Buleleng, dan lainnya. Korban meninggal tercatat
12.000 orang.
Akibtanya Buleleng mulai terkena paceklik. Sawah
dan ladang hancur, rakyat kehilangan rumah serta isinya. Tahun
1816 adalah tahun malapetaka bagi pertanian. Kelaparan dan
penyakit mewabah.
Catatan:
Letusan gunung Tambora adalah terdahsyat
di dunia, selama jaman peradaban manusia. Sebanyak 92.000
manusia menjadi korban meninggal. Mengeluarkan 150,000,000,000
kubik meter abu ke seluruh dunia. Kira-kira 150 kali
dibandingkan letusan Saint Helena 1980. Iklim di Eropa menjadi
sangat dingin sepanjang tahun yang disebut “Year Without a
Summer”
Dengan banyaknya keluarga puri Bangkang yang
menjadi korban musibah banjir, maka jabatan patih
beralih kepada I Gusti Ketut Jlantik yang berpuri di
Kubutambahan. Menyusun tatacara pemerintahan, peraturan adat.
Jabatan diteruskan kepada generasi berikutnya.
Dalam suatu ketika di tahun 1818, I Gusti Gde
Karang pergi Jembrana. Pasukan kerajaan Jembrana dibawah
pimpinan I Gusti Ngurah Putu Jembrana, putra raja yang dibunuh
dulu, secara diam-diam sudah menunggu lengkap dengan senjata.
Sesampai di desa Pengambengan I Gusti Gde Karang dikeroyok
secara tiba-tiba sehingga wafat di Pengambengan (Dewata di
Pengambengan)
|