|
KERAJAAN BULELENG 1700-1950
( I
- II
- III
- IV
- V -
VI
- VII
- VIII -
IX-
X
)
RAJA
ANGKARA MURKA
Dengan
wafatnya I Gusti Gde Karang, Raja Buleleng II pada tahun 1818,
langsung tahun itu juga diganti oleh putra kandungnya
yang bernama I Gusti Karang Paang Canang. Tidak disebutkan
apakah berliau disebut sebagai Raja Buleleng III.
Selanjutnya
diceritakan, bahwa baru dinobatkan I Gusti Karang Paang
sudah menerima kejayaan dari ayahandanya, I Gusti Gde
Karang almarhum. Maka beliau melanjutkan membangun puri baru
di sebelah barat jalan (…ri kulwaningnu ). Perihal Puri Gde
ini bisa dibaca dihalaman tersendiri (klik: Puri
Gde Singaraja). Puri yang
dibangun oleh I Gusti Karang Paang ini dikenal dengan
nama Puri Gde. Puri ini sebenarnya, seperti telah diceritakan
terdahulu dirancang oleh ayahandanya I Gusti Gde Karang
almarhum. Ternyata raja I Gusti Paang Canang mempunyai
perilaku kurang wajar, yaitu jatuh cinta pada saudara
perempuannya bernama I
Gusti Ayu Kamarukan (Gabrug) dan dijadikan isteri. Ini yang
disebut gamia-gamana, musuh peradaban manusia.
KEKEJAMAN
RAJA I GUSTI PAANG CANANG.
Seorang
keturunan I Gusti Ngurah Panji Sakti bernama I Gusti Bagus
Ksatra secara baik-baik mnenghaturkan ikan udang. Dasar I
Gusti Karang Paang yang kurang waras, lkata udang diartikan
"nyuudang" atau memberhentikan sebagai raja. I Gusti
Bagus Ksatra yang bermaksud baik itu langsung dibunuh.
Rakyatpun mulai memberontak. Pada suatu malarn ada tontonan
wayang kulit di halarnan puri, dalangnya I Guliang dari desa
Banjar. Kesempatan ini dipakai rakyat untuk memberontak dan
membunuh raja. Pasukan bersenjatapun sudah siap. Tetapi raja
sampai jauh rnalarn tidak keluar nonton wayang. Orang banyak
rnulai ribut. Tiba-tiba kain kelir wayang ditusuk sampai
berlobang. Jero Dalang Guliang dari Banjar itu terkejut luar
biasa. Jero Dalang yang tangannya masih memegang wayang
Bhimasena dan Tualen lari dengan kaki pincang karena di jari
kakinya masih terselip "ketokan". Banyak orang yang
terluka pada malarn naas itu.
Keluarga
dari Sangket dan Buleleng bergabung lalu menyerbu bersamaan ke
dalam puri, tetapi puri sedang kosong dan gelap gulita. Hanya
ada seorang parekan bernarna I
Ketut Karang dari Penataran yang mernberitahukan, bahwa raja
tidak ada di puri entah kemana. Akhirnya orang banyak itu pun
pulang kerumah rnasing-masing.
Besok
paginya I Gusti Karang Paang sudah duduk di balairung
mengadakan pertemuan dengan para punggawa. Perintah raja
adalah agar keturunan Panji Sakti, semuanya tanpa kecuali, tua
muda, besar kecil supaya semuanya dibunuh. Maka kalang
kabutlah para sentana I Gusti Anglurah Panji Sakti. Mereka
yang di Sangket lari ke desa Kapal Mengwi, yang di Bangkang
lari menyelamatkan diri ke desa Soka Tabanan. Mereka yang di
Kubutambahan mengungsi ke desa Pakisan. Ada juga yang lari ke
Lombok. Ada juga yang menyelamatkan diri di keluarga muslim
yang kemudian beralih kepercayaan dengan memeluk agama Islam.
Keadaan
wilayah Buleleng makin tak menentu. Musim tidak cocok lagi.
Hasil pertanian seperti hasil sawah rusak dan tanaman di tegal
tidak berhasil. Penyakit wabah merajalela banyak khewan
piaraan yang mati. Ini karena ulah "gamya-gamana"
sang raja I Gusti Karang Paang.
BERAKHIRNYA
SI RAJA LALIM.
Rakyat
sekali lagi berontak dengati kekuatan dan tekad yang lebih
besar. Mereka menyerbu puri Gde. Namun Raja sudah lebih dulu
waspada. Beliau sudah dalam perjalanan kembali ke Karangasem.
Di dalam perjalanan mereka sempat berhenti di Kubutambahan
selama beberapa hari. Beliau disembunyikan dan dilindungi oleh
pejabat kerajaan di Kubutambahan dari kejaran rakyat. Konon
seorang selir raja yang hamil tua yang ikut dalam perjalanan
melahirkan seorang anak laki-laki di Kubutambahan.
I
GUSTI KARANG PAANG DIBUNUH.
Sesampai
I Gusti Karang Paang di Puri Karangasem langsung beliau menuju
Balai Rum di Puri Ageng. Orang-orang di Karangasem sudah
mengetahui kelakuan raja yang cacat moral itu. Raja Karangasem
menjatuhkan hukuman mati kepada I Gusti Karang Paang dan hal
ini sudah mendapat persetujuan dari Sesuhunan Bali di
Kelungkung. Raja Karangasem I Gusti Ngurah Lanang tidak lain
adalah pamannya dan sekaligus musuhnya melakukan sendiri
eksekusi terhadap I Gusti Karang Paang. Tetapi tidak mudah
karena I Gusti Karang Pahang ilmunya tinggi dan kebal senjata.
Rupanya ilmunya ada di ikat pinggangnya. Maka sewaktu beliau
sedang bersantap dan ikat pinggangnya dilepas, dikala itu
beliau kepalanya dipenggal dan ditombak beberapa kali dari
muka dan belakang sehingga darahnya muncrat mengenai dinding,
pintu dan langit-langit Balai Rum itu. Itu terjadi pada tahun
1823. Konon darah itu membekas sampai sekarang. Seorang
Belanda Dr. Medhurst menceritakan kekejaman eksekusi itu
secara mendetil ditulis di harian Singapore Chronical June
1830.
Sementara
itu keluarga
besar prati sentana 1 Gusti Ngurah Panji Sakti sempat
menyelenggarakan upacara pelebon secara sederhana untuk mereka
yang menjadi korban kejaliman raja I Gusti Karang Paang.
Antara lain I Gusti Bagus Ksatra, I Gusti Bagus Jlantik
Kalianget dan semua jenazah Jenazah seluruhnya dipelebon di
Tukadmungga pada tahun 1823.
Semenjak
itulah, keturunan I
Gusti Ngurah Panji Sakti yang dulu cerai berai berada di desa
Soka Tabanan, di Pakisan dan desa lainnya, kembali ketempat
asalnya masing-masing beserta rakyat pengiringnya. Mereka yang
dulu mengungsi ke desa Soka Tabanan kembali ke desa Bangkang
seperti I Gusti Nyoman Pandji, I Gusti Ketut Djlantik Prasi.
Sedangkan I Gusti Bagus Djlantik Batupulu beserta adiknya I
Gusti Made Batan tidak kembali ke Bangkang, melainkan
membangun puri di desa Tukadmungga meneruskan rencana ayahnya
I Gusti Bagus Jlantik Kalianget dan tinggal menetap disana,
kemudian membangun merajan sendiri.
Mereka
yang mengungsi ke desa Kapal Mengwi di antaranya ada yang
terus ke Lombok dan menetap disana. Dan I Gusti Putu Kari
(Kebon) berserta keluarga lainnya
yang dahulu mengungsi ke desa Pakisan kembali ke
Kubutambahan.Keluarga yang sudah mengalih ke agama Islam
tinggal di Kampung Kajanan Singaraja.
Dalam
kurun waktu beberapa tahun setelah itu singgasana di istana
kerajaan Buleleng sempat lengang. Sepupu almarhum I Gusti
Karang Paang yang bernama I Gusti Made Oka Suri pernah duduk
sebagai raja Buleleng, tetapi tidak bertahan lama karena
suasana sudah mulai terasa hangat di Buleleng yang makin
kurang suka pada keluarga raja asal Karangasem. Tambahan lagi
situasi di Bali mulai digoyang oleh masuknya kekuatan dari
luar seperti bangsa Inggris dan juga bangsa Belanda sudah
mulai berusaha mengadakan hubungan dengan kerajaan-kerajaan di
Bali, demikian juga dengan Buleleng. Bahkan kerajaan lain di
Bali seperti Badung dan lainnya sudah menanda-tangani
perjanjian dengan Belanda. Bahkan Raja Bali I Dewa Agung
Kelungkung juga sudah dipengaruhi Belanda. Menghadapi keadaan
seperti ini Buleleng sangat memerlukan sosok pemimpin atau
raja untuk mengisi kekosongan pimpinan di Buleleng waktu itu.
|