|
KERAJAAN BULELENG 1700-1950
( I
- II
-
III -IV
- V -
VI
- VII
- VIII -
IX-
X
)
MUNCULNYA
SOSOK SEORANG PAHLAWAN.
Dalam
situasi Buleleng yang mulai menghadapi berbagai masalah dan tantangan baru
kemudian muncul seorang yang berwatak keras dan
penuh ambisi bernama I Gusti Ketut Djlantik. Beliau memberanikan diri
langsung ke puri Karangasem meminta dengan sangat agar I Gusti Made
Karangasem mau menjadi raja untuk Buleleng.
Perlu
disinggung, bahwa sejak Buleleng dikuasai Karangasem telah terjadi suksesi
berbentuk pasangan Raja dan Patih di Buleleng. Raja berasal dari bangsawan
Karangasem sedangkan Patih berasal dari keturunan raja Buleleng. Kondisi
demikian waktu itu masih melekat. Kepribadian I Gusti Ketut Djlantik
menunjukkan sebagai seseorang yang mewarisi kewajiban untuk membela
Buleleng.
Pasangan
raja dan patih rupanya mendapat sambutan dari masyarakat Buleleng. Perangai
Raja yang lembut dan sangat kompromis ini ditopang oleh watak Patihnya yang
keras dan tegas. Pemerintahan berjalan mantap. Pemimpin beserta rakyat sudah
tidak ingin diadu domba lagi antara mereka sendiri. Rakyat sudah menyadari
musuh tidak berada di dalam tetapi berada di luar yaitu orang asing yang
mengancam akan menguasai Bali dengan menaklukkan Buleleng lebih dahulu.
Rakyat menunggu perintah raja dengan penuh semangat untuk mempertahankan
diri dari ancaman luar.
Sebenarnya
yang berkiprah dalam urusan pemerintahan adalah I Gusti Ketut Djlantik. Raja
I Gusti Made Karangasem lebih sering berada di Karangasem.
Pembangunan
di wilayah Buleleng yang pernah surut kembali bangkit dengan menegaskan
kembali peraturan hak tawan karang yang dulu pernah dibuat. Bukan saja
bangunan istana Puri Gde yang dulu dibangun oleh I Gusti Karang Paang
mendapat penataan dan perbaikan, juga Pura Desa Baleagung dibangun kembali.
Demikian pula Pura Dalem Buleleng dan Pura Segara di pantai Buleleng. Selain
itu dibangun pula pasar dan
perbaikan pelabuhan. Ikut dalam pemerintahan ada disebut seperti Sedahan
Agung I Gusti Putu Batan putra dari I Gusti Made Batan dari Tukadmungga yang
aktif dalam pembangunan pura.
Semua
pembangunan di Buleleng dilaksanakan oleh I Gusti Ketut Djlantik beserta
Sedahan Agung dan para punggawa. Raja sebagai simbol untuk meresmikan.
Setelah
Puri Gde sebagai istana raja, membuat I Gusti Ketut Jlantik, sebagai patih
Buleleng tidak tinggal diam. Beliaupun memugar dan membangun kembali
Puri di sebelah Timur Pasar Buleleng yaitu di Banjar Dangin Peken yang
sekarang dikenal dengan nama Puri Kanginan. Ini dimungkinkan karena situasi
kehidupan rakyat cukup tenteram dan keadaan ekonomi Buleleng yang makin
maju. Pemerintahan kali ini rupanya tidak banyak rnenimbulkan permasalahan,
bahkan mendapat dukungan dari keluarga puri di Buleleng. Rupanya pasangan
Raja serta Patih mendapat ilham dari kejayaan I Dewa Agung Jambe pada waktu
membangun Puri Smarapura dan membangun kota Kelungkung setelah dapat
mengusir Kryan Maruti. Puri Kepatihan dibangun tidak jauh dari Puri Raja
Semarapura.
PERANG
MELAWAN BELANDA.
Dalam
pada itu, pemerintah Belanda melalui Menteri Pemerintah Kolonial Belanda
yang bernama J.C. Baud, melakukan tekanan kepada pemerintah Buleleng untuk
menandatangani perjanjian kerjasama untuk mengakui kedaulatan pemeritah
Hindia Belanda. Atas rayuan Belanda Raja Buleleng I Gusti Made Karangasem
sudah pernah menandatangani surat perjanjian kerja sama dengan pihak
Belanda. Lagi pula raja Karangasem sendiri, sudah lebih dahulu bekerjasama
dengan pihak Belanda. Bahkan Dewa Agung Klungkung juga sudah melakukan hal
yang sama dengan Belanda. Kali ini kembali pihak Belanda menyodorkan
perjanjian baru yang isinya menghapus hak Tawankarang. Disinilah Patih I
Gusti Ketut Jlantik berbalik pikiran dengan tidak bisa menerima dan secara
tegas menolak perjanjian, bahkan seluruh perjanjian yang terdahulu. Malahan
I Gusti Ketut Jlantik menantang Belanda untuk berperang.
Untuk
persiapan menghadapi serangan Belanda kemudian I Gusti Ketut Jlantik bersama
laskarnya membuat benteng dari pelabuhan Buleleng sampai di Penataran
sebelah utara Puri.
Pada
hari Minggu Paing Dungulan, tanggal 25 Mei 1846 Buleleng di serang oleh
tentara Belanda. Puri Gde dihujani peluru kemudian diserbu dan di bakar.
Pihak tentara Buleleng tidak mampu bertahan dan lari cerai berai. Karena
merasa sudah tidak bisa melawan Belanda, Raja I Gusti Made Karangasem
beserta Patih I Gusti Ketut Djlantik dan laskar pengiringnya langsung
mengungsi dari benteng Penataran ke arah selatan tanpa singgah di istananya
dan terus langsung belok arah timur. Sampai di desa Jagaraga beliau
beristirahat dan bertemu dengan seorang Pedanda. Di desa Jagaraga inilah
diadakan pertemuan pihak-pihak yang anti pemerintah kolonial Balanda.
Setelah mendapat dukungan dari pelbagai pihak dibuat benteng yang kokoh.
Bantuan pasukan laskar dari kerajaan lainnya di Bali berdatangan. Dari
wiayah kerajaan Kelungkung, kerajaan Mengwi, dari Karangasem, semua
berjumlah 7700 orang tidak terhitung laskar Buleleng di bawah pimpinan
langsung Patih I Gusti Ketut Jlantik.
PERANG
JAGARAGA.
Belanda
melakukan serangan Maret 1848 dibawah pimpinan
Jendral Van der Wijk ke Benteng Jagaraga. Pasukan Buleleng dipimpin
langsung oleh Patih Agung 1 Gusti Ketut Jlantik. Pasukan Buleleng memang
dikenal gagah berani. Pasukan Belanda dapat dipatahkan dan pasukannya banyak
terbunuh. Kemudian pada tanggal 14 April 1849 Belanda kembali melancarkan
serangannya yang ketiga dibawah pimpinan Mayor Jendral Michiels. Pasukan
Buleleng akhirnya tidak mampu bertahan melawan senjata pasukan Belanda yang
lebih modern dengan howitzer otomatis.
I
Gusti Ketut Djlantik Patih Buleleng beserta rajanya I Gusti Made Karangasem
mundur dan akhirnya gugur di Karangasem diserang oleh pasukan Karangasem
yang sudah lebih dahulu ditaklukkan Belanda.
BENDERA
BELANDA BERKIBAR.
Dengan
kemenangan di pihak Belanda itu berarti akan dibangun pemerintahan baru
yaitu pemerintahan di bawah kekuasaan Belanda. Mulai saat itu
peta
politik berputar kearah yang lain dan ini membuka iklim yang baru bagi
masyarakat yang terlibat dalam proses pemerintahan dibawah pemerintah
Belanda.
BELANDA
MENGANGKAT RAJA BULELENG.
Tahun
1849, Belanda mengangkat I Gusti Made Rai asal dari Puri Sukasada sebagai
punggawa di Sangsit untuk menstabilkan situasi di wilayah yang habis dilanda
perang. Sementara itu pihak Belanda "menitipkan" daerah Buleleng
dibawah kekuasaan raja Bangli I Dewa Tangkeban. Kebijaksanaan Belanda
membuat I Gusti Made Rai sangat tersinggung, Tidak perlu menitipkan wilayah
Buleleng kepada siapapun. Memang hubungan antara kerajaan Buleleng dengan
Bangli sebelumnya tidak berjalan secara harmonis karena pernah bertikai.
Beberapa
waktu berselang yaitu tahun 1850 pemerintah Belanda akhirnya menetapkan I
Gusti Made Rai sebagai penguasa atau raja di Buleleng. Berhubungan dengan
jabatan tersebut beliau pindah dari Puri Sukasada ke Puri Gde Singaraja.
Puri Gde yang mengalami kerusakan berat waktu serangan dan tembakan meriam
kapal perang Belanda pada tahun 1846 sebagian sempat diperbaiki oleh I Gusti
Made Rai.
DARI
PURI TUKADMUNGGA KE PURI KANGINAN.
I
Gusti Putu Batan yang juga disebut dengan nama I Gusti Putu Singaraja dari
Puri Tukadmungga memangku jabatan Sedahan Agung sewaktu raja I Gusti Made
Karangasem dengan patihnya I Gusti Ketut Jlantik berkuasa. Sebagai yang
tertua, I Gusti Putu Batan Singaraja dianggap sebagai putra mahkota oleh
keluarga besar dinasti Panji Sakti.
KEKUASAAN
PEMERINTAH BELANDA.
Tahun
1853. Setelah beberapa lama pihak Belanda merasa terancam dan dianggap
membahayakan pemerintahan Belanda karena ulah raja I Gusti Made Rai yang
dilihatnya cukup ambisius. I Gusti Made Rai sering mencari pengaruh di
kalangan rakyat dan tidak sepenuhnya menjalankan aturan yang ditetapkan
pemerintah kolonial Belanda. Kemudian pemerintah Belanda mencopot I Gusti
Made Rai dari jabatan sebagai raja Buleleng dan menghukumnya dengan
diasingkan ke Banyuwangi. Selanjutnya pemerintah Belanda mencari calon
penguasa lokal atau regent untuk Buleleng. Sedangkan permintaan masyarakat
bermunculan masing-masing dengan calon raja yang diunggulkan yang dianggap
masih memiliki garis keturunan raja Buleleng.
Tahun
1954. I Gusti Putu Kari punggawa Kubutambahan memimpin pasukan Buleleng ke
Tampaksiring atas permintaan Raja Bangli I Dewa Tangkeban untuk ikut
berperang melawan Gianyar. Buleleng waktu itu dibawah kekuasaan Bangli.
Dengan setengah hati mereka berangkat ke medan perang. Dengan pihak Gianyar
yang memang tidak pernah berniat bermusuhan dengan Buleleng mereka hanya
berpura-pura berperang.
Rakyat
Buleleng rupanya semakin tidak suka dengan kekuasaan raja Bangli I Dewa
Tangkeban. Hubungan antara kedua kerajaan ini sejak dahulu memang tidak bisa
bergandengan tangan. Maka di tahun 1854 itu wilayah Buleleng dikembalikan
oleh Raja Bangli I Dewa Tangkeban kepada pemerintah Belanda.
Agar
tidak terjadi kekosongan pimpinan lokal maka pemerintah kolonial Belanda
berusaha keras melalui pendapat rakyat umum kembali mencari calon penguasa
untuk wilayah Buleleng. Disinilah sebenarnya permulaan dari kegoncangan
politik yang melanda daerah Buleleng, Sebenarnya dasarnya sederhana saja.
Rakyat yang masih tetap berpikiran tardisional menginginkan pemimpin dari
keturunan raja Buleleng. Tetapi rupanya masih sulit untuk menyimpulkan yang
mana dan siapa yang pantas diantara mereka untuk menduduki pimpinan
tertinggi di Buleleng. Karena diantara warganya mempunyai keterpautan dengan
masa-masa pemerintahan yang lalu, baik pada jaman kekuasaan Mengwi maupun
waktu pemerintahan raja asal Karangasem.
Pemerintah
Belanda sangat berhati-hati dalam menyimak permasalahan politik yang cukup
pelik. Di satu pihak ada yang ingin untuk mendapatkan jabatan dalam
pemerintahan yang baru namun disangsikan oleh pihak Belanda karena
keterkaitan hubungan dengan I Gusti Ketut Jlantik Patih Buleleng yang
melawan Belanda dalam Perang Jagaraga. Dari sinilah mulainya penolakan
mereka atas adanya unsur-unsur yang terkait dengan Patih I Gusti Ketut
Jlantik, terutama mereka yang mempunyai kepentingan politik. Mereka itu
buru-buru menyangkal adanya pertautan darah dengan Patih I Gusti Ketut
Jlantik. Bahkan mereka melempar tuduhan bahwa I Gusti Ketut Jlantik itu
manusia congkak penuh ambisi.
Pada
suatu waktu pernah terjadi stagnasi dalam pemerintahan Belanda, karena
tepatnya 31 Maret 1855 Mads J. Lange yang selama ini menjadi wakil
pemerintah kolonial Belanda berkantor di Kuta, digantikan oleh P. L. van
Bloetnenwaanders - dan berkantor di Singaraja. Ternyata pejabat tinggi
Belanda yang masih baru ini kurang sekali memahami adat budaya orang Bali.
Hal ini menjadikan pemerintahan berjalan sangat alot, karena beliau harus
minta penjelasan sampai hal kecil agar sampai beliau itu bisa mengerti dan
bisa mengambil keputusan. Itulah sebabnya kadangkala urusan penting bisa
memakan waktu yang lama.
Hal
itu membuka peluang bagi mereka yang tidak suka sistem pemerintahan Belanda
itu dan membuat ancang-ancang untuk beraksi.
PEMBERONTAKAN
I NYOMAN GEMPOL.
Pemerintahan
Belanda yang dianggap sering tidak cocok dengan keinginan orang pribumi
membuat masyarakat Buleleng tidak percaya pada pemerintah Belanda. Hal ini
bepuncak pada pemberontakan Perbekel Banjar Jawa, yaitu I Nyoman Gempol.
Oleh pemerintah Belanda pembangkangan atau pemberontakan I Nyoman Gempol ini
dianggap serius oleh Belanda karena bisa sebagai menyulut meluasnya anti
Belanda ke tempat lainnya. Maka dengan tidak tangggung-tanggung pemerintah
Belanda mengerahkan pasukan dengan armada angkatan laut di bawah komando
Letkol Laut van Hasselt. Pasukan berjumlah satu batalyon di pimpin kamandan
Letkol Steyn van Heemskerk. Belanda mengerahkan tidak kurang dari delapan
kapal perang hanya untuk meredam pemberontakan I Nyoman Gempol.
Pasukan
mendarat pada tanggal 11 Desember 1858 di Pabean Buleleng. Namun pasukan
Belanda dibuat pusing juga. Dengan sebuah ultimatum yang di tujukan kepada
masyarakat Banjar Jawa agar dalam tiga hari I Nyoman Gempol harus diserahkan
kepada pihak Belanda, akhirnya I Nyoman Gempol dapat ditangkap. Kemudian
diasingkan ke Jawa.
|