* *  CINTAILAH BULELENG DENGAN MENGENALNYA  * *

 

 

 

1     

 

PURI KANGINAN

 

 

 

 

 

 

 

Michiels

 

 

 

 

 

Gen-Maj Van Ham

 

 

 

 

 

Gen-Maj Vetter

 

 

 

Gen van Heutz

 

 KERAJAAN BULELENG 1700-1950

( I - II - III -IV - V - VI - VII - VIII - IX- X )

 

MUNCULNYA SOSOK SEORANG PAHLAWAN.

Dalam situasi Buleleng yang mulai menghadapi berbagai masalah dan tantangan baru kemudian muncul seorang yang berwatak keras dan  penuh ambisi bernama I Gusti Ketut Djlantik. Beliau memberanikan diri langsung ke puri Karangasem meminta dengan sangat agar I Gusti Made KarangasemI Gusti Made Karangasem mau menjadi raja untuk Buleleng. 

Perlu disinggung, bahwa sejak Buleleng dikuasai Karangasem telah terjadi suksesi berbentuk pasangan Raja dan Patih di Buleleng. Raja berasal dari bangsawan Karangasem sedangkan Patih berasal dari keturunan raja Buleleng. Kondisi demikian waktu itu masih melekat. Kepribadian I Gusti Ketut Djlantik menunjukkan sebagai seseorang yang mewarisi kewajiban untuk membela Buleleng. 

Pasangan raja dan patih rupanya mendapat sambutan dari masyarakat Buleleng. Perangai Raja yang lembut dan sangat kompromis ini ditopang oleh watak Patihnya yang keras dan tegas. Pemerintahan berjalan mantap. Pemimpin beserta rakyat sudah tidak ingin diadu domba lagi antara mereka sendiri. Rakyat sudah menyadari musuh tidak berada di dalam tetapi berada di luar yaitu orang asing yang mengancam akan menguasai Bali dengan menaklukkan Buleleng lebih dahulu. Rakyat menunggu perintah raja dengan penuh semangat untuk mempertahankan diri dari ancaman luar.  

Sebenarnya yang berkiprah dalam urusan pemerintahan adalah I Gusti Ketut Djlantik. Raja I Gusti Made Karangasem lebih sering berada di Karangasem. 

 

Pembangunan di wilayah Buleleng yang pernah surut kembali bangkit dengan menegaskan kembali peraturan hak tawan karang yang dulu pernah dibuat. Bukan saja bangunan istana Puri Gde yang dulu dibangun oleh I Gusti Karang Paang mendapat penataan dan perbaikan, juga Pura Desa Baleagung dibangun kembali. Demikian pula Pura Dalem Buleleng dan Pura Segara di pantai Buleleng. Selain itu  dibangun pula pasar dan perbaikan pelabuhan. Ikut dalam pemerintahan ada disebut seperti Sedahan Agung I Gusti Putu Batan putra dari I Gusti Made Batan dari Tukadmungga yang aktif dalam pembangunan pura. 

 

Semua pembangunan di Buleleng dilaksanakan oleh I Gusti Ketut Djlantik beserta Sedahan Agung dan para punggawa. Raja sebagai simbol untuk meresmikan.

 

Setelah Puri yang dibangun oleh I Gusti Karang sebagai Puri raja, membuat I Gusti Ketut Jlantik, sebagai patih Buleleng tidak tinggal diam. Beliaupun  memugar dan membangun kembali Puri di sebelah Timur Pasar Buleleng yaitu di Banjar Dangin Peken yang sekarang dikenal dengan nama Puri Kanginan. Ini dimungkinkan karena situasi kehidupan rakyat cukup tenteram dan keadaan ekonomi Buleleng yang makin maju. Pemerintahan kali ini rupanya tidak banyak rnenimbulkan permasalahan, bahkan mendapat dukungan dari keluarga puri di Buleleng. Rupanya pasangan Raja serta Patih mendapat ilham dari kejayaan I Dewa Agung Jambe pada waktu membangun Puri Smarapura dan membangun kota Kelungkung setelah dapat mengusir Kryan Maruti. Puri Kepatihan dibangun tidak jauh dari Puri Raja Semarapura.

 

PERANG MELAWAN BELANDA.

Dalam pada itu, pemerintah Belanda melalui Menteri Pemerintah Kolonial Belanda yang bernama J.C. Baud, melakukan tekanan kepada pemerintah Buleleng untuk menandatangani perjanjian kerjasama untuk mengakui kedaulatan pemeritah Hindia Belanda. Atas rayuan Belanda Raja Buleleng I Gusti Made Karangasem sudah pernah menandatangani surat perjanjian kerja sama dengan pihak Belanda. Lagi pula raja Karangasem sendiri, sudah lebih dahulu bekerjasama dengan pihak Belanda. Bahkan Dewa Agung Klungkung juga sudah melakukan hal yang sama dengan Belanda. Kali ini kembali pihak Belanda menyodorkan perjanjian baru yang isinya menghapus hak Tawankarang. Disinilah Patih I Gusti Ketut Jlantik berbalik pikiran dengan tidak bisa menerima dan secara tegas menolak perjanjian, bahkan seluruh perjanjian yang terdahulu. Malahan I Gusti Ketut Jlantik menantang Belanda untuk berperang.

Untuk persiapan menghadapi serangan Belanda kemudian I Gusti Ketut Jlantik bersama laskarnya membuat benteng dari pelabuhan Buleleng sampai di Penataran sebelah utara Puri.

Pada hari Minggu Paing Dungulan, tanggal 25 Mei 1846 Buleleng di serang oleh tentara Belanda. Puri raja I Gusti Made Karangasem dihujani peluru kemudian diserbu dan di bakar. Pihak tentara Buleleng tidak mampu bertahan dan lari cerai berai. Karena merasa sudah tidak bisa melawan Belanda, Raja I Gusti Made Karangasem beserta Patih I Gusti Ketut Djlantik dan laskar pengiringnya langsung mengungsi dari benteng Penataran ke arah selatan tanpa singgah di istananya dan terus langsung belok arah timur. Sampai di desa Jagaraga beliau beristirahat dan bertemu dengan seorang Pedanda. Di desa Jagaraga inilah diadakan pertemuan pihak-pihak yang anti pemerintah kolonial Balanda. Setelah mendapat dukungan dari pelbagai pihak dibuat benteng yang kokoh. Bantuan pasukan laskar dari kerajaan lainnya di Bali berdatangan. Dari wiayah kerajaan Kelungkung, kerajaan Mengwi, dari Karangasem, semua berjumlah 7700 orang tidak terhitung laskar Buleleng di bawah pimpinan langsung Patih I Gusti Ketut Jlantik.

 

PERANG JAGARAGA.

Belanda melakukan serangan Maret 1848 dibawah pimpinan Jendral Van der Wijk ke Benteng Jagaraga. Pasukan Buleleng dipimpin langsung oleh Patih Agung 1 Gusti Ketut Jlantik. Pasukan Buleleng memang dikenal gagah berani. Pasukan Belanda dapat dipatahkan dan pasukannya banyak terbunuh. Kemudian pada tanggal 14 April 1849 Belanda kembali melancarkan serangannya yang ketiga dibawah pimpinan Mayor Jendral Michiels. Pasukan Buleleng akhirnya tidak mampu bertahan melawan senjata pasukan Belanda yang lebih modern dengan howitzer otomatis.

I Gusti Ketut Djlantik Patih Buleleng beserta rajanya I Gusti Made Karangasem mundur dan akhirnya gugur di Karangasem diserang oleh pasukan Karangasem yang sudah lebih dahulu ditaklukkan Belanda.

 

BENDERA BELANDA BERKIBAR.

Dengan kemenangan di pihak Belanda itu berarti akan dibangun pemerintahan baru yaitu pemerintahan di bawah kekuasaan Belanda. Mulai saat itu peta politik berputar kearah yang lain dan ini membuka iklim yang baru bagi masyarakat yang terlibat dalam proses pemerintahan dibawah pemerintah Belanda.

 

BELANDA MENGANGKAT RAJA BULELENG.

Tahun 1849, Belanda mengangkat I Gusti Made Rai asal dari Puri Sukasada sebagai punggawa di Sangsit untuk menstabilkan situasi di wilayah yang habis dilanda perang. Sementara itu pihak Belanda "menitipkan" daerah Buleleng dibawah kekuasaan raja Bangli I Dewa Tangkeban. Kebijaksanaan Belanda membuat I Gusti Made Rai sangat tersinggung, Tidak perlu menitipkan wilayah Buleleng kepada siapapun. Memang hubungan antara kerajaan Buleleng dengan Bangli sebelumnya tidak berjalan secara harmonis karena pernah bertikai.

Pada tahun 1850 pemerintah Belanda menempati Puri raja sebagai pusat pemerintahan. Sejak itu Puri Singaraja dipakai sebagai nama kota, yaitu kota Singaraja. Kemudian pemerintah Belanda menetapkan I Gusti Made Rai sebagai penguasa atau raja Buleleng dan menempati Puri Singaraja yang mengalami kerusakan berat waktu serangan dan tembakan meriam kapal perang Belanda pada tahun 1846.

 

DARI PURI TUKADMUNGGA KE PURI KANGINAN.

I Gusti Putu Batan yang juga disebut dengan nama I Gusti Putu Singaraja dari Puri Tukadmungga memangku jabatan Sedahan Agung sewaktu raja I Gusti Made Karangasem dengan patihnya I Gusti Ketut Jlantik berkuasa. Sebagai yang tertua, I Gusti Putu Batan Singaraja dianggap sebagai putra mahkota oleh keluarga besar dinasti Panji Sakti.

 

KEKUASAAN PEMERINTAH BELANDA.

Tahun 1853. Setelah beberapa lama pihak Belanda merasa terancam dan dianggap membahayakan pemerintahan Belanda karena ulah raja I Gusti Made Rai yang dilihatnya cukup ambisius. I Gusti Made Rai sering mencari pengaruh di kalangan rakyat dan tidak sepenuhnya menjalankan aturan yang ditetapkan pemerintah kolonial Belanda. Kemudian pemerintah Belanda mencopot I Gusti Made Rai dari jabatan sebagai raja Buleleng dan menghukumnya dengan diasingkan ke Banyuwangi. Selanjutnya pemerintah Belanda mencari calon penguasa lokal atau regent untuk Buleleng. Sedangkan permintaan masyarakat bermunculan masing-masing dengan calon raja yang diunggulkan yang dianggap masih memiliki garis keturunan raja Buleleng.

 

Tahun 1954. I Gusti Putu Kari punggawa Kubutambahan memimpin pasukan Buleleng ke Tampaksiring atas permintaan Raja Bangli I Dewa Tangkeban untuk ikut berperang melawan Gianyar. Buleleng waktu itu dibawah kekuasaan Bangli. Dengan setengah hati mereka berangkat ke medan perang. Dengan pihak Gianyar yang memang tidak pernah berniat bermusuhan dengan Buleleng mereka hanya berpura-pura berperang.

Rakyat Buleleng rupanya semakin tidak suka dengan kekuasaan raja Bangli I Dewa Tangkeban. Hubungan antara kedua kerajaan ini sejak dahulu memang tidak bisa bergandengan tangan. Maka di tahun 1854 itu wilayah Buleleng dikembalikan oleh Raja Bangli I Dewa Tangkeban kepada pemerintah Belanda.

 

Agar tidak terjadi kekosongan pimpinan lokal maka pemerintah kolonial Belanda berusaha keras melalui pendapat rakyat umum kembali mencari calon penguasa untuk wilayah Buleleng. Disinilah sebenarnya permulaan dari kegoncangan politik yang melanda daerah Buleleng, Sebenarnya dasarnya sederhana saja. Rakyat yang masih tetap berpikiran tardisional menginginkan pemimpin dari keturunan raja Buleleng. Tetapi rupanya masih sulit untuk menyimpulkan yang mana dan siapa yang pantas diantara mereka untuk menduduki pimpinan tertinggi di Buleleng. Karena diantara warganya mempunyai keterpautan dengan masa-masa pemerintahan yang lalu, baik pada jaman kekuasaan Mengwi maupun waktu pemerintahan raja asal Karangasem.

Pemerintah Belanda sangat berhati-hati dalam menyimak permasalahan politik yang cukup pelik. Di satu pihak ada yang ingin untuk mendapatkan jabatan dalam pemerintahan yang baru namun disangsikan oleh pihak Belanda karena keterkaitan hubungan dengan I Gusti Ketut Jlantik Patih Buleleng yang melawan Belanda dalam Perang Jagaraga. Dari sinilah mulainya penolakan mereka atas adanya unsur-unsur yang terkait dengan Patih I Gusti Ketut Jlantik, terutama mereka yang mempunyai kepentingan politik. Mereka itu buru-buru menyangkal adanya pertautan darah dengan Patih I Gusti Ketut Jlantik. Bahkan mereka melempar tuduhan bahwa I Gusti Ketut Jlantik itu manusia congkak penuh ambisi.

Pada suatu waktu pernah terjadi stagnasi dalam pemerintahan Belanda, karena tepatnya 31 Maret 1855 Mads J. Lange yang selama ini menjadi wakil pemerintah kolonial Belanda berkantor di Kuta, digantikan oleh P. L. van Bloetnenwaanders - dan berkantor di Singaraja. Ternyata pejabat tinggi Belanda yang masih baru ini kurang sekali memahami adat budaya orang Bali. Hal ini menjadikan pemerintahan berjalan sangat alot, karena beliau harus minta penjelasan sampai hal kecil agar sampai beliau itu bisa mengerti dan bisa mengambil keputusan. Itulah sebabnya kadangkala urusan penting bisa memakan waktu yang lama.

Hal itu membuka peluang bagi mereka yang tidak suka sistem pemerintahan Belanda itu dan membuat ancang-ancang untuk beraksi.

 

PEMBERONTAKAN I NYOMAN GEMPOL.

Pemerintahan Belanda yang dianggap sering tidak cocok dengan keinginan orang pribumi membuat masyarakat Buleleng tidak percaya pada pemerintah Belanda. Hal ini bepuncak pada pemberontakan Perbekel Banjar Jawa, yaitu I Nyoman Gempol. Oleh pemerintah Belanda pembangkangan atau pemberontakan I Nyoman Gempol ini dianggap serius oleh Belanda karena bisa sebagai menyulut meluasnya anti Belanda ke tempat lainnya. Maka dengan tidak tangggung-tanggung pemerintah Belanda mengerahkan pasukan dengan armada angkatan laut di bawah komando Letkol Laut van Hasselt. Pasukan berjumlah satu batalyon di pimpin kamandan Letkol Steyn van Heemskerk. Belanda mengerahkan tidak kurang dari delapan kapal perang hanya untuk meredam pemberontakan I Nyoman Gempol.

Pasukan mendarat pada tanggal 11 Desember 1858 di Pabean Buleleng. Namun pasukan Belanda dibuat pusing juga. Dengan sebuah ultimatum yang di tujukan kepada masyarakat Banjar Jawa agar dalam tiga hari I Nyoman Gempol harus diserahkan kepada pihak Belanda, akhirnya I Nyoman Gempol dapat ditangkap. Kemudian diasingkan ke Jawa.

 

 

 

WARISAN  I

WARISAN  II

WARISAN III

WARISAN  IV

WARISAN  V

 

WARISAN  VI

WARISAN  VII

WARISAN  VIII

WARISAN  IX

WARISAN X