|
KERAJAAN BULELENG 1700-1950
( I
- II
-
III
- IV
-
V -
VI
-
VII
- VIII -
IX-
X
)
KEMBALI
DARI PENGASINGAN.
I
Gusti Ngurah Ketut Jlantik yang menjalani hukuman ekstradisi di Padang
Bengkulu, Sumatera mendapat pengampunan dari pemerintah dan dibebaskan tahun
1883. Beliau kembali pulang ke Buleleng setelah 11 tahun dalam pengasingan.
Beliau beserta istrinya Jero Terena langsung menjuju rumah tinggal iparnya,
I Gde Serangan di Banjar Dangin Peken (sekarang Delod Peken). Banyak kerabat
beliau bertamu setiap hari, sehingga perlu mendirikan balai bertiang enam
(sakanem). Rupanya tidak cukup satu buah, harus dua buah. Satu untuk
keluarga puri Buleleng dan satunya untuk tempat menerima keluarga puri Anyar
Sukasada.
Beliau
mempunyai seorang putri, yaitu 1 Gusti Ayu Kompyang yang sudah kawin ke Puri
Kangianan diperisteri oleh I Gusti Made Singaraja. Dari pasangan ini beliau
mendapat seorang cucu putri bernama I Gusti Ayu Mas, lahir 1881 di desa
Petemon.
Karena
beliau sudah makin tua, dengan dorongan dari pihak keluarga pada tahun 1890
beliau masuk ke puri Gde.
Kehidupan
dalam istana rupanya hanya untuk waktu 3 tahun. Karena pada tahun 1893, I
Gusti Ngurah Ketut Jlantik wafat. Upacara pelebon dilaksanakan di puri Gde
dan diselenggarakan oleh isterinya, Jero Terena beserta I Gusti Bagus
Jlantik patih dengan dukungan seluruh famili.
Dalam
kehidupan yang sepi di puri Gde, Jero Terena mengajak beberapa orang
keponakan, yaitu I Gusti Bagus Panji, 1 Gusti Made Putra dan I Gusti Ayu
Nyoman Seming.
|
I
Gst Md Batan_________mindon_________I Gst Pt Kari
Puri Kanginan
Puri Kubutambahan
|
|
|
______________|_________ |
|
I
Gst Pt Batan Singaraja
|
I Gst Ngr Kt Jelantik |
I
Gst Ayu Kerebek
kawin
ke Sukasada
|
|
|
|
|
|
|
|
|
I Gst Md
Singaraja__kawin__I Gst Ayu Kompyang
|
I
Gst Bg Panji
I
Gst Md Putra
I
Gst Ayu Seming
|
|
| |
|
I
Gst Ayu Mas
kawin
dengan I Gst Bgs Surya
|
Dengan
didampingi sehari-hari oleh keponakan dari pihak pradana (perempuan), Jero
Trena mendapat tudingan yang menilai kurang tepat. Sepatuhtya Jro Trena
mendekatkan diri kepada keluarga pihak purusa (laki-laki). Sistem kepurusa
membuat Jero Trena mendekat kepada keluarga Puri Kanginan. Atas
dukungan keluarga itulah, cucunya yang sedang remaja berparas ayu I Gusti
Ayu Mas dikawinkan dengan 1 Gusti Bagus Surya dari Puri Kanginan, putra I
Gusti Nyoman Raka. Perkawinan dilaksanakan secara meriah dan besar-besaran.
I Gusti Bagus Surya beserta isteri tidak lama kemudian masuk ke Puri Gde dan
tinggal bersama Jero Trena, neneknya yang menjadi mertuanya .

I
Goesti Bagoes Soeria dengan keloearga (photo+1911)
MEMBANGUN
PURI DI BANJAR PENATARAN.
I
Gusti Wayan Jlantik sebagai Sedahan Agung tinggal menetap di puri Bangkang.
Karena sungai Banyumala airnya deras dan sering banjir maka terkadang sulit
untuk menyeberang menuju kantornya, maka I Gusti Wayan Jlantik dipersilahkan
untuk ikut tinggal di Puri Kanginan, namun beliau menolak. Putra beliau, I
Gusti Made Jlantik setelah menggantikannya sebagai Sedahan Agung, membuat
Puri di Banjar
Penataran pada tahun 1886. Beliau tinggal di Puri Penataran bersama isteri
dan putra putrinya. Putri beliau yang bernama I Gusti Ayu Bulan kawin dengan
I Gusti Made Dangin yang tidak lain keponakan beliau juga. Pasangan ini
diberikan tempat tinggal di pekarangan puri Penataran disebelah Utara.

(
I Goesti Made Djelantik (Sedahan +1886)
|
Puri
Bangkang
I
Gusti Nyoman Panji
I Gusti Ketut Sangket (Prasi)
|
| |
|
!
|
|
|
|
I Gusti Wayan Jelantik (
Sedahan Agung)
|
|
| |
_______________!_________________
|
|
|
!
|
!
|
|
I
Gusti Putu Gde
|
I
Gusti Made Jelantik (Sedahan Agung)
Membangun
Puri Penataran
|
MEMBANGUN
PURI KELODAN TUKADMUNGGA.
Perkembangan
juga terjadi di keluarga Puri Tukadmungga. Setelah wafat I Gusti Nyoman
Jelantik Sedahan yang ber-puri di Tukadmungga, kakak kandung I Gusti Bagus
Jelantik Patih, digantikan oleh putranya yang bernama I Gusti Putu Selat.
I
Gusti Putu Selat pada tahun 1890 membangun puri baru di sebelah Utara
(kelod). Kemudian putranya, I Gusti Made Raka membangun puri di desa
Kalibukbuk yang dilanjutkan oleh putranya bernama I Gusti Bagus Kartika
(generasi 11).
|
I
Gusti Made Batan
Puri
Tukadmungga
|
|
__________________________________________________
|
|
!
|
!
|
!
|
!
|
|
I G. Putu Batan
|
I G Ny Jelantik
|
I G B Jelantik Patih
|
I Gusti Ketut Banjar
|
|
! |
!
|
!
|
!
|
|
I
G Made Singaraja
/I
G Kt Putru
|
I G Putu Selat
|
I G Pt Intaran
|
I
G Putu Geria
/
I G Nym Raka
/
I G Kt. Jelantik
|
|
I
GUSTI “PATIH” WAFAT.
Sangat
disayangkan, bahwa Gusti Patih, demikian julukan I Gusti Bagus Jlantik,
setelah menderita sakit yang mengakibatkan beliau wafat pada tahun I887 di
Puri Kanginan. Dengan bepergiannya I Gusti Bagus Jlantik untuk
selama-lamanya, seluruh masyarakat Buleleng khususnya keluarga Puri
Tukadmungga (Puri Kanginan) dan keluarga Puri Bangkang diliputi mendung
kesedihan. Pelebon besar diselenggarakan di Puri Kanginan. Banyak jenazah
yang diangkat dan ikut dipelebon antara lain kakak beliau I Gusti Putu
Batan, putra beliau I Gusti Putu Intaran dan juga adik beliau I Gusti Ayu
Panji (Anak Agung Isteri Parameswari) isteri almarhurn I Gusti Ngurah Ketut
Djlantik (Anak Agung Padang).
I
Gusti Putu Gria yang baru saja menjabat punggawa distrik Buleleng merasa
sangat kehilangan orang tua. Demikian juga adik-adiknya, I Gusti Nyoman Raka
dan I Gusti Ketut Jlantik dan banyak saudara sepupu merasa nasibnya tidak
menentu. Diantara putra-putra puri Kanginan itu ada yang mencoba mengadu
nasib ke luar tembok puri yaitu mengadakan usaha ke desa untuk bertani.
I
Gusti Made Singaraja yang beribu Jero Tarnan dari desa Selat (Sukasada)
beserta adiknya I Gusti Ketut Putu yang jadi guru di Selat membeli tanah di
pegunungan Keliki di atas desa Panji.
I
Gusti Putu Geria jadi Punggawa Kota Buleleng, adiknya I Gusti Nyoman Raka
jadi kanca pada kantor Raad van Kerta, Punggawa Sukasada dan terakhir
punggawa Buleleng. Adiknya yang satunya, I Gusti Ketut Jlantik beserta kakak
sepupu (juga iparnya) yaitu I Gusti Putu Selat dari Puri Tukadmungga,
bersama-sama membuat puri di desa Kalibukbuk dan berkebun.
|