|
KERAJAAN BULELENG 1700-1950
( I
- II
-
III
- IV
-
V -
VI
-
VII
-
VIII -
IX-
X
)
Melalui
perang yang sengit maka tahun 1894 pihak Belanda akhirnya berhasil
menaklukkan kerajaan Lombok. Untuk
memantapkan pemerintahan Belanda di pulau yang baru ditaklukkan itu perlu
didudukkan pejabat yang sudah berpengalaman memimpin dan sebisanya harus
berasal dari Bali. Maka dipilihan Belanda jatuh pada I Gusti Putu Geria dari
Puri Kanginan Buleleng yang selama ini menjabat Punggawa Buleleng untuk
dibertugaskan di Lombok.
Pada
tahun 1895 I Gusti Putu Geria mulai hertugas di Lombok. Bermula sebagai
punggawa kemudian diangkat Patih bertempat di puri Agung Ukir Kawi
Cakranegara. Ikut juga putra beliau 1 Gusti Putu Jlantik yang waktu itu
masih berumur 15 tahun. Di Lombok beliau merasa asing dan kesepian. Lalu
beliau teringat akan adik sepupu yang bernama I Gusti Ketut Putu yang sejak
tahun 1888 tinggal di Banyuwangi, menjalani keputusan pengadilan agama,
melanggar hukum adat karena kawin dengan seorang putri kasta brahmana Ida
Ayu Ketut Mas dari Griya Mas.
I
Gusti Putu Geria minta kepada pemerintah Belanda agar I Gusti Ketut Putu
bisa dipindahkan ke Lombok. Permintaan itu langsung disetujui oleh
pemerintah waktu itu. Tak lama kemudian I Gusti Ketut Putu berserta isteri
dan putranya segera meninggalkan Banyuwangi menuju pulau Lombok. Pertama
mendapat pekerjaan sebagai Pekasih di desa Pemepek kemudian diangkat Sedahan
Agung. Pernah diberi tugas ke beberapa kota di Bali antara lain Tabanan
sebagai pengawas keuangan, namun tidak menetap. Selesai tugas beliau kembali
ke Lombok.

Seorang
dari keluarga Puri Tukadmungga (Puri Kaleran) yaitu I Gusti Made Cakranana
(adik I Gusti Ayu Kopang) ikut dan lama menetap di Lombok. Setelah umur tua
beliau kembali pulang ke Tu.kadmungga dan akhirnya wafat di Puri
Tukadmungga.
Pasangan
I Gusti Ketut Putu bersama isterinya yang telah berubah nama menjadi Ratu
Istri Maswidi mempunyai
seorang putra yang lahir tahun 1886 di
Banyuwangi bernama I Gusti Bagus Kawi Blambangan, yang kemudian tahun
1930-1950 menjadi punggawa di Cakranegara.
Tahun
1900 menyusul I Gusti Made Singaraja, juga dari Puri Kanginan
Singaraja beserta keluarga besar dengan putra putrinya menyusul ke
Cakranegara Lombok dan seterusnya menetap disana.
I
Gusti Nyoman Berata, putra I Gusti Made Singaraja mendapat jabatan pertama
sebagai sedahan. Kemudian ketika pemerintah hendak mengangkatnya menjadi
Punggawa mendapatkan beberapa hambatan dan akhirnya beliau ingin tetap
sebagai sedahan saja sampai pensiun.
Patih
Cakranegara, I Gusti Putu Geria setelah cukup lama menunaikan tugasnya di
Cakranegara, mulai tahun 1912 sering pulang kepurinya di
Singaraja. Belaiu membawa
sebuah bangunan bertiang delapan yang bernama Bale Mas. Bale Mas itu
dibangun berimpitan dengan Bale Ageng Singasari, tepat pada lokasi bekas
Gedong Betel Pamereman I Gusti Bagus Jlantik Patih yang sudah lama roboh.
Beliau
adalah pencinta benda pusaka dengan membawa banyak benda-benda pusaka
peninggalan berbagai ragam
keris. Beliau masih bolak baiik ke Cakranegara Lombok mengurusi miliknya di
sana, bangunan puri Ukirkawi dan juga sederetan toko berjumlah 12 pintu. Beliau
resmi pensiun tahun 1914 dan menetap kembali di Puri Kanginan, Singaraja.
|