|
KERAJAAN BULELENG 1700-1950
( I
- II
-
III
- IV
-
V -
VI
-
VII
-
VIII - IX-
X
)
SUKSESI
PUNGGAWA BULELENG.
I
Gusti Putu Geria yang dicalonkan sebagai raja Buleleng, namun di
tugaskan ke Lombok, jabatan Punggawa Buleleng beralih kepada
adik beliau yaitu I Gusti Nyoman Raka yang sebelumnya menjabat punggawa
Sukasada. Selain sebagai punggawa Buleleng juga menjabat Kanca
pada kantor Raad van Kerta. Nasib tragis menimpa beliau. Pada
tahun 1898 beliau terkena ledakan mesiu di kantor yang
mengakibatkan beliau wafat karena luka bakar.

I
Gusti Nyoman Raka
I Gusti Ketut Jlantik adik I
Gusti Nyoman Raka (Dewata Geseng), diangkat sebagai Punggawa
Buleleng. Pada waktu itu pemerintah kolonial Belanda dalam
menjalankan politik pemerintahannya di Hindia Belanda makin
lunak dan pembangunan sarana umum di Buleleng meningkat.

I
Gusti Ketut Jlantik
I
Gusti Ketut Jiantik yang waktu itu kebetulan sebagai punggawa
Buleleng memanfaatkan situasi yang lebih kondusif iyu untuk
membangun kota Singaraja. Beliau mulai 1900 membuat jalan baru
dari Banyumala terus sampai di Kalibukbuk dengan melibatkan seluruh
perbekel serta masyarakat. Jalan itu panjangnya sekitar 10
kilometer dari kota Singaraja ke arah Barat. Jalan itu disebut Margi Anyar atau Rurung Anyar. Nama ini diberikan untuk
membedakan dengan jalan yang sudah lebih dulu ada yaitu jalan desa dari
desa Bangkang, Pemaron, Tukadmungga, Anturan dan Kalibukbuk yang
dinamai Marga Purwa atau Rurung Buwuk. (Lebih
jauh riwayat I Gusti Ketut Jlantik - klik di sini.).
Hasil
karya beliau baik yang di kota sampai ke desa-desa cukup banyak
yang sekarang masih kita bisa lihat.
I
Gusti Ketut Jlantik menjabat punggawa Buleleng cukup lama, sejak
1898 - 1915 sehingga diberikan julukan Ratu Punggawa Lingsir.
Beliau wafat karena sakit pada tanggal 14 Mei 1916 dalam umur 62
tahun.
Yang
cukup mengherankan, sehari kemudian, pada tanggal 15 Mei 1916, I
Gusti Putu Geria, saudara tua beliau wafat. Kedua kakak beradik
seperti telah berjanji agar jenazah bersama-sama bertemu dalam
satu Acara Pelebon.

Acara
Pelebon (Pengabenan)
di
Puri Kanginan - Singaraja
Upacara
Pelebon diselenggarakan 24 Agustus 1917 berpusat di Puri
Kanginan. Dua Wadah yang besar berjumlah dua buah, diletakkan di
alun-alun, di areal Gedung Sasana Budaya - Gedong Kertya
sekarang.
Pengganti
sebagai punggawa Buleleng selanjutnya adalah I Gusti Bagus Surya, putra I Gusti
Nyoman Raka, dewata geseng. Sebelumnya, I Gusti Bagus Surya
menjabat punggawa di distrik Tejakula.

I
Gusti Bagus Surya
I
Gusti Bagus Surya wafat tahun 23 September 1921 dan
pelebon dilaksanakan pada 4 Agustus 1924. Acara pelebon di Puri
Kanginan diselenggarakan oleh "pengajeng karya" I
Gusti Putu Jlantik. Acara pelebon saat itu adalah yang sangat
megah dan meriah. Para turis berdatangan dengan beberapa kapal
KPM sampai kapal Angkayan Laut Belanda berlabuh di pelabuhan
Buleleng.
I
Gusti Putu Jlantik ( putra I Gusti Putu Geria yang pernah jadi
Patih di Cakranegara Lombok) 1900 menjabat juru tulis di
Raad van Kerta, kemudian menjadi "punggawa keliling"
sejak 1903, sering bertugas di Klungkung. Tugasnya adalah
membuat
laporan keadaan di seluruh wilayah di Bali kepada asisten
residen di Singaraja. Beliau sangat menekuni sastra dan fasih
berbahasa Belanda, makanya beliau menjadi penerjemah untuk
para pejabat Belanda. Pada sekitar tahun 1918 beliau memangku jabatan
punggawa distrik Sukasada - Buleleng.

I
Gusti Putu Jlantik
Selama
menjabat sebagai punggawa di distrik Sukasada banyak pengalaman
pahit dan manis sempat dialami oleh I Gusti Putu Jalntik. Hal itu membuat I
Gusti Putu Jlantik makin matang dan bijaksana, bisa memilih
diantara baik dan buruk.
Anekdot:
Pada
waktu itu di wilayah Sukasada
dan sekitarnya sering terjadi pencurian, bahkan sering ada
perampokan. Polisi jaman Belanda sempat dibuat pusing. Banyak
orang tahu, perbuatan tercela itu dilakukan oleh I Jablah,
perampok kawakan yang sangat ditakuti penduduk. Ppada suatu hari
I Jablah dipanggil oleh I Gusti Putu Jlantik, punggawa yang
baru, supaya segera menghadap di kantor beliau.
I
Jablah datang tapi hanya mau berhadapan dengan Ratu Punggawa
saja sendirian tanpa ada orang lain. Mereka berdua berjam-jam
dalam satu ruangan. Orang-orang pada khawatir akan keselamatan
Ratu Punggawa. Bisa-bisa beliau jadi korban penganiayaan.
Setelah beberapa hari kemudian tiba-tiba saja I Jablah sudah
menjadi opas polisi distrik Sukasada yang langsung dibawah Ratu
punggawa I Gusti Putu Jlantik sebagai atasannya. Setelah itu
wilayah Sukasada dan sekitanya aman tenteram tidak ada yang
berani mencuri apalagi merampok. Penjahat mana berani menghadapi
I Jablah?
I
Gusti Putu Jlantik beberapa tahun kemudian menjadi anggota Lid
van Kerta, dengan menyerahkan jabatan Punggawa Sukasada kepada I
Gusti Bagus Cakratanaya dari Puri Sukasada.
|